Seminar Sumpah Pemuda Pewarna Indonesia Hasilkan Solusi Kritis

Seminar Sumpah Pemuda Pewarna Indonesia Hasilkan Solusi Kritis

daniel.tanamal Official Writer
2552

Seminar Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Indonesia) bekerjasama dengan Departemen Pemuda dan Anak Sinode Gereja Bethel Indonesia (DPA Sinode GBI) menghasilkan beberapa solusi-solusi kritis yang harus diberitakan segera dan dijalankan oleh para pemuda-pemuda di Indonesia, khususnya para pemuda Gereja.

"Kita harus memikirkan dan merenungkan, mau kemana anak-anak muda kedepan ini. Ada nasehat paling bagus untuk generasi muda yang disampaikan rasul Paulus dalam 1 Timotius 4:2. Nasehat itu adalah modal bagi kita orang-orang muda untuk lebih berkarya dengan masimal, karena kepada kitalah Tuhan menitipkan bangsa ini untuk dikembangkan. Tentu anak muda akan maksimal kalau ada teladan, tentu harus ada orangtua yang menjadi teladan, dan nantinya anak muda akan menjadi teladan bagi generasi selanjutnya,” kata Pendeta Japarlin Marbun, dalam khotbahnya di Ibadah Pembuka acara yang berlangsung di Graha Bethel, Jakarta, Jumat (28/10/2016).

Keynote speaker dalam seminar ini sendiri adalah Leo Nababan, politisi senior Indonesia yang sudah malang-melintang dan berpengalaman dalam kancah perpolitikan Nusantara. Leo yang kini lebih banyak fokus di dunia bisnis, menekankan perlunya karakter yang benar yang sesuai dengan Firman Tuhan. Dirinya memberi kesaksian pribadi dimana Tuhan berkarya dan memberkati dirinya melalui banyak hal, dan semuanya itu terjadi karena Leo mau membentuk karakter pribadinya untuk tetap berada di jalan kebenaran.

? ?Saya ini sarjana ternak, tapi sekarang bisa menjadi komisaris. Itu karena berkat dan perkenanan Tuhan kepada saya, karena saya menjaga karakter pada kebenaran. Setiap Pemuda yang mau maju harus punya karakter pada kebenaran. Dia harus memenuhi panggilannya secara benar. Jadilah cerdik seperti ular, baru setelah itu tulus seperti merpati,” papar pria kelahiran Sei Rampah, Deli Serdang, Sumatera Utara pada 30 Oktober 1962 ini.

Para pembicara lainnya dalam seminar yang dimoderatori oleh Jurnalis Jawaban.com Daniel Tanamal ini, adalah Lidya Natalia, sekretaris jenderal dari Vox Point yang mengingatkan bahwa pekerjaan rumah bagi para pemuda di Indonesia masih sangat banyak, terutama dalam bidang Politik, Pendidikan dan Ekonomi. Lidya juga menyebutkan bahwa modal emas para pemuda untuk berjuang sejak dahulu hingga saat ini adalah Idealisme. Sebuah modal emas yang mampu menggerakan massa dan terbukti mampu mengubah sebuah tatanan dunia menjadi lebih baik.

Sementara itu, Rolas Sitinjak, Ketua Taruna Merah Putih DPD DKI Jakarta, menegaskan bahwa Para Pemuda harus hadir didalam setiap masalah yang terjadi di Indonesia, khususnya para pemuda Kristen, harus hadir saat ada diskriminasi dan ketidakadilan terjadi menerpa jemaat-jemaat Kristen di Indonesia. Rolas mendorong setiap pemuda gereja, bahwa saat inilah saat yang tepat untuk bergerak keluar, melayani secara langsung, jemaat yang sedang dalam penindasan.

Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sahat Sinurat sebagai pembicara terakhir mengajak setiappemuda untuk sejenak melihat kebelakang, sejarah para tokoh Kristen dalam membangun bangsa. Sahat mengajak setiap pemuda untuk mempersiapkan diri, menjadi warganegara yang bertanggungjawab, mempersiapkan diri dengan karakter, keyakinan dan watak yang berujung pada kebenaran, serta mengajak setiap pemuda untuk masuk melibatkan diri kedalam organisasi, lembaga atau komunitas untuk merajut kebhinekaan dalam kerangkan persatuan nasional.

Dalam seminar ini hadir Ketua Umum Vox Point Handoyo Budisedjati, Ketua Komisi Hukum dan HAM PGI Jhony Simanjuntak, Pendeta Ferry Haurissa-Kakiay, Tokoh Militer Kristen Harsanto Adi, Ketua Umum Pewarna Indones Yusuf Mujiono, serta beberapa akademisi muda dan para aktivis muda gereja.

Sumber : Daniel Tanamal - Jawaban.com

Ikuti Kami