Bertobat dan Melangkah Dalam Pemulihan

Bertobat dan Melangkah Dalam Pemulihan

Milna Contributor
3526

Sejak kecil saya menderita kelainan tingkah laku. Umur 3 tahun masih makan bubur, umur 6 tahun masih belum bisa mandi, makan, berpakaian, menyikat gigi, dan memakai sepatu sendiri. Sampai umur 10 tahun masih belum bisa naik tangga eskalator. Selain itu saya mudah jatuh sakit, mengalami stres dan depresi. Akhirnya orang tua membawa saya ke psikiater dan diberi 2 macam obat, tapi saya menjadi teler dan tidak bersemangat serta pasif apatis. Atas saran psikiater, saya dibawa ke Yayasan Bhakti Luhur Malang untuk menjalani terapi selama 2 minggu.
Ketika masuk SD, mama saya setiap hari menunggui saya belajar dan antar jemput ke sekolah dan minta kepada kepala sekolah, guru-guru, serta teman-teman agar saya mendapatkan perlakuan khusus. Permohonan itu dikabulkan. Tapi orang tua jadi terlalu melindungi saya secara berlebihan sehingga saya menjadi sulit bergaul dan seolah-olah hidup dalam dunia sendiri walaupun semasa SD saya bisa berprestasi.
Ketika masuk SMP, saya sering di-bully teman-teman bahkan dihina oleh beberapa guru yang menganggap saya aneh dan gila. Hal tersebut berlangsung sampai SMA. Saat pertengahan kelas 2 SMA, saya tidak dapat menahan diri lagi atas perlakuan guru dan teman-teman, maka saya membuat onar sebagai aksi protes. Orang tua lalu memindahkan saya ke SMAK Bhakti Luhur Malang dan saya masuk asrama. Di sekolah tersebut saya bisa menjadi lebih berprestasi, tapi lagi-lagi saya tertekan dengan sikap ibu asrama saya yang keras dan suka menghukum. Lalu saya membakar salah satu asrama sekolah sehingga hampir saja masuk penjara, tapi orang tua mengganti kerugian yang ada.
Ketika kuliah sampai lulus S-2, saya memang bisa mencetak prestasi, tapi juga mudah sekali jatuh cinta kepada pria yang baik kepada saya sehingga seringkali membuat masalah dalam pergaulan. Kalau saya sudah jatuh cinta kepada seseorang, meskipun orang tersebut sudah beristeri, saya terus mengejar-ngejar orang tersebut sehingga semua orang mencap saya wanita tuna susila. Saya akhirnya dikucilkan sehingga asal kenal dengan sembarang orang lewat dunia maya yang menjerumuskan saya menjadi call girl. 
Akhirnya saya bertobat setelah menemui seorang hamba Tuhan yang menganjurkan saya ke psikiater yang berohani dan pergi ke gereja kharismatik. Lalu mulai tahun 2008 saya ikut dewasa muda gereja tersebut dan tahun 2014 terlibat sebagai pendoa syafaat. Setelah berobat ke psikiater, saya mulai mengalami pemulihan secara bertahap dan lebih bertumbuh secara rohani. Saya percaya Tuhan akan membuat saya mapan pada waktunya dan memiliki suami yang tulus mencintai saya, mapan, dan menerima saya apa adanya. 

Tulisan ini adalah kontribusi dari visitor Jawaban.com, Anda juga dapat berbagi dan menjadi berkat dengan berbagi kisah inspiratif, kesaksian, renungan, pendapat Anda tentang isu sosial atau berita yang terjadi di lingkungan dan gereja Anda dengan menguploadnya langsung melalui fitur Berani Bercerita di Jawaban.com, info lebih jelas KLIK DISINI.

Halaman :
1

Ikuti Kami