Tuhan Menggunakan Orangtua yang Saleh untuk Menghasilkan Pemimpin

Parenting / 24 October 2016

Kalangan Sendiri

Tuhan Menggunakan Orangtua yang Saleh untuk Menghasilkan Pemimpin

Florida Siregar Contributor
8089

Ada banyak pertentangan mengenai jiwa kepemimpinan dalam diri seseorang. Banyak pendapat mengatakan bahwa jiwa kepemimpinan merupakan bawaan dari lahir. Ada juga pendapat bahwa kepemimpinan merupakan latihan yang dilakukan terus menerus. Sampai saat inipun hal ini menjadi perdebatan. Namun, dari Alkitab kita dapat belajar mengenai jiwa kepemimpinan dan kaitannya dengan kesalehan orang tua. Ada tiga keluarga dalam Alkitab yang dapat menunjukkan apa pengaruh kesalehan orang tua dengan jiwa kepemimpinan anak.

1. Orang tua Samuel

Samuel adalah anak dari Elkana dan Hana. Elkana adalah seorang yang saleh dan taat pada Tuhan. Bukti kesalehan utama Elkana dapat kita lihat dari ketekunannya pergi ke Syilo untuk beribadah. Ia juga membawa seluruh keluarga besarnya untuk beribadah. Elkana menunjukkan ia adalah imam yang baik untuk keluarganya.

Hana adalah seorang pendoa. Ia berdoa memohon kepada Tuhan agar diberikan anak. Ia juga berani untuk mengembalikan anak tersebut kepada Tuhan. Hal ini menunjukkan bagaimana Hana sangat mempercayai Tuhan.

Kesalehan Elkana dan Hana mendatangkan berkat bagi keluarga ini yaitu lahirnya Samuel. Arti nama Samuel adalah “aku telah memintanya dari Tuhan”. Hana dan suaminya pun bahagia. Samuel akhirnya menjadi hamba Tuhan yang luar biasa bagi umat Israel. Seorang nabi besar penyambung lidah Allah yang muncul setelah ratusan tahun kekosongan Firman Tuhan.

2. Orang tua Simson

Simson adalah anak dari Manoakh, ibunya bahkan tidak disebutkan namanya dalam Alkitab. Namun, Simson sebelum ia dilahirkan telah diserahkan kepada Allah untuk menjadi nazir (*NAZAR) seumur hidup. Manoakh menyadari kehendak Tuhan bagi kehidupan anaknya. Oleh karena itu ia berdoa meminta hikmat untuk menjaga hidup anaknya. Simson kemudian tumbuh menjadi pahlawan Israel yang kuat dan gagah perkasa pada zamannya.

3.Orang tua Yohanes Pembatis.

Yohanes Pembaptis, lahir bagi satu keluarga yg sudah lanjut usia, yaitu imam Zakharia dan istrinya Elisabet. Allah mendengar doa Elisabeth yang sudah tua dan mandul yang telah kehilangan harapan, Allah menujukkan kasih setia dengan mengirimkan seorang putra. Seakan tidak percaya, Zakharia berlutut dan memuji Allah-nya atas perbuatan-Nya itu (Lukas 1:67-80). Namanya, Yohanes sudah menjadi tanda ajaib bagi orang-orang di sekitarnya sehingga mulai mempercayai inilah saatnya Allah menerbitkan pengharapan yang telah lama hilang. Pada akhirnya Yohanes Pembaptis menjadi nabi  yang membuka jalan bagi kedatangan Juru Selamat.

Melalui orangtua Samuel, Simson, dan Yohanes Pembaptis kita dapat menyadari bahwa kesalehan orangtua mempengaruhi kepemimpinan seseorang. Pemimpin yang telah dikhususkan bagi Tuhan. Bahkan Tuhan menggunakan para wanita yang mandul untuk menunjukkan kasih karuniaNya. Oleh karena itu sebagai orangtua marilah terus kita menunjukan kesalehan didalam Tuhan dan dihadapan anak – anak kita, sehingga anak – anak kita boleh berkenan di mata Tuhan.

Referensi

Hana Ibu yang Penuh Doa diambil dari: http://www.danielnugroho.com/faith/hana-ibu-yang-penuh-doa/

Yohanes Pembaptis diambil dari: http://www.sarapanpagi.org/yohanes-pembabtis-nabi-yahya-vt36.html

Belajar dari Yohanes diambil dari:  http://artikel.sabda.org/node/774

 

Florida

Tangerang 18/10/2016


Tulisan ini adalah kontribusi dari visitor Jawaban.com, Anda juga dapat berbagi dan menjadi berkat dengan berbagi kisah inspiratif, kesaksian, renungan, pendapat Anda tentang isu sosial atau berita yang terjadi di lingkungan dan gereja Anda dengan menguploadnya langsung melalui fitur Berani Bercerita di Jawaban.com, info lebih jelas KLIK DISINI.

Halaman :
1

Ikuti Kami