Prihatin Kasus TKI, Pendeta Gereja Kupang Bersatu Gelar Ibadah Doa

Prihatin Kasus TKI, Pendeta Gereja Kupang Bersatu Gelar Ibadah Doa

Lori Official Writer
2621

Kasus meninggalnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri kembali menjadi topik bahasan hangat. Dua jenazah TKI asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia di Malaysia dan Hong Kong telah tiba di tanah air pada Minggu, 23 Oktober 2016 siang. Dua kasus kematian ini menambah sederet kasus kematian TKI Kupang lain yang terjadi sepanjang tahun 2016, dimana diketahui sebanyak 42 TKI yang bekerja di luar negeri dinyatakan meninggal dunia.

Kasus yang menimpa pekerja Indonesia ini menggugah keprihatinan sejumlah gereja di Kupang. Apalagi pemerintah daerah, khususnya Gubernur NTT, seakan tidak memberikan respon apa-apa terkait peristiwa tersebut. Untuk itu, sejumlah pendeta gereja Protestan dan Katolik dan denominasi lintas agama menggelar doa bersama di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT pada Minggu, 23 Oktober 2016 malam. Ibadah doa ini diawali dengan long march dari puluhan umat dan jemaat yang diwarnai dengan mengusung sebuah peti mati yang bertuliskan nama-nama TKI yang meninggal.

“Hari ini kami baru saja menerima dua jenazah TKI adal NTT, yang satu dari Hong kong dan satunya dari Malaysia. Itu berarti total TKI yang meninggal saat ini jumlahnya menjadi 44 orang,” kata Pendeta Emy Sahertian, seperti dilansir Kompas.com.

Pendeta Emy menilai kasus yang menimpa TKI merupakan kondisi darurat. Hal ini disebabkan tingginya tingkat human trafficking (perdagangan manusia) di NTT. Banyak dari TKI merupakan buruh ilegal yang kemudian rentan dieksploitasi di negara-negara yang belum meratifikasi perlindungan buruh migran dan hak-hak buruh. Dengan begitu, penting sekali bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan penanganan serius.

“Jika pemerintah masih membungkam maka gereja melakukannya dengan pendekatan kegerejaan ibadah, dalam konteks advokasi terhadap umat yang mengalami eksploitasi perdagangan manusia di negara yang kami sebut sebagai perbudakan modern,” lanjutnya.

Sementara Pastor Heribertus Hadiarto dari Gereja Katolik NTT meminta semua pihak agar segera merefleksikan diri bahwa semua TKI yang bekerja di luar negeri harus diperhatikan. “Kira berharap dengan doa yang kita buat mala mini penguasa atau pemerintah bisa melihat secara jeli dan secara jeli lagi apa yang terjadi khususnya di NTT,” terang Pastor Heribertus.

Ibadah doa ini juga turut didukung oleh sejumlah organisasi yang menjadi pendampingan para TKI yang dipulangkan, seperti J-RUK, FMN, Forum Mahasiswa Peduli Kemanusiaan dan GMKI.

Pihak Jawaban.com turut berduka atas TKI NTT yang meninggal dunia di tempat kerjanya. Menjadi harapan bersama agar kiranya kasus ini bisa ditangani secara bijak dari pihak yang berwenang dan mari terus berdoa agar seluruh keluarga korban diberi kekuatan dan ketabahan dari Tuhan. 

Sumber : Tempo.co/Kompas.com
Halaman :
1

Ikuti Kami