Penyesalan si Tukang Kayu

Kata Alkitab / 29 August 2016

Kalangan Sendiri

Penyesalan si Tukang Kayu

Mega Permata Official Writer
6543

Kala itu ada seorang tukang kayu yang berniat mengundurkan diri dan pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kayu terbesar di daerahnya. Pria ini sudah bertahun-tahun lamanya bekerja di perusahaan tersebut dan baru saat inilah ia memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti karena ingin menikmati masa tua bersama keluarga dan anak-anaknya.

Beberapa hari sebelum ia berhenti bekerja, sang pemilik perusahaan merasa sangat kehilangan sosok pria yang penuh dengan loyalitas ini. Kemudian ia memohon dan sekaligus memberikan pekerjaan untuk terakhir kali bagi si tukang kayu dengan membuatkan sebuah rumah baginya.

Mendengar permintaan itu, si tukang kayu ini dengan terpaksa menyetujui permohonan pribadi yang diminta oleh si pemilik perusahaan. Alasan lain menuruti permohonan si pemilik perusahaan adalah karena keinginan uang atau bayaran yang akan dipakai sebagai tabungan masa tuanya.

Dengan setengah hati dan hanya memikirkan bayarannya saja, si tukang kayu mengerjakan proyek rumah ini dengan asal dan ogah-ogahan. Ia hanya menggunakan bahan-bahan biasa yang tidak berkualitas hingga rumah itu selesai ia kerjakan.

Kemudian pemilik perusahaan itu datang melihat proyek terakhir yang dimintanya, dan menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu dan berkata, “Ini adalah rumahmu. Hadiah dari kami. Terimalah.”

Si tukang kayu hanya terperangah kaget. Betapa menyesal dan malunya ia membuat proyek terakhirnya dengan tidak mengagumkan. Seandainya saja ia mengetahui bahwa rumah itu akan diberikan sebagai hadiah, ia tentu akan mengerjakannya dengan sempurna dan semangat. Tapi kini ia malah harus tinggal di sebuah rumah; di dalam karyanya yang tak terlalu bagus.

Sama seperti yang terjadi pada kehidupan kita. Kita hanya ingin cepat selesai tanpa peduli untuk mengetahui hasilnya. Lebih memilih berusaha ala kadarnya tanpa mengupayakan yang baik. Bahkan pada bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Ingatlah, dengan tabur dan tuai. Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Karena itu bekerjalah dengan sepenuh hati, seolah-olah hanya mengerjakannya sekali dalam seumur hidup. Sesungguhnya, hari esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita buat hari ini. 

Sumber : Renungan Harian/Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami