Lepaskanlah Maka Engkau Akan Mendapat

Lepaskanlah Maka Engkau Akan Mendapat

Lori Official Writer
4838

Keterikatan kita terhadap apa yang kita miliki di dunia ini dapat menjadi bumerang terhadap hubungan kita dengan Tuhan. Seolah-olah, kita tidak dapat hidup jika kita tidak memiliki atau mendapatkannya. Akibatnya, kita menjadi khawatir, takut dan mulai membayangkan hal-hal yang menurut pikiran kita bisa terjadi atau memikirkan segala cara untuk mendapatkannya. Ini adalah pekerjaan iblis dengan membisikkan kata di dalam hati kita dan membuat kita jatuh ketika kita memilih menanggapinya. Iblis bekerja untuk mencuri damai sejahtera dan suka cita yang ada di dalam kita.

Kondisi tersebut terjadi seperti di zaman Lot. Mereka makan dan minum. Mereka membeli dan menjual. Mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom, turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.  Tuhan berkata bahwa tak seorangpun yang perlu menoleh ke belakang jika ingin diselamatkan. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.

Sayangnya, istri Lot tidak mengindahkan perintah Tuhan. Dia mulai menoleh ke belakang karena merasa sayang dengan segala sesuatu yang mereka tinggalkan, karena tanah Sodom dan Gomorah, tanah yang begitu indah (Kejadian 12:10). Saat itu, dia langsung berubah menjadi tiang garam.

Kekhawatiran dan ketakutan timbul ketika kita tidak mempercayakan Tuhan berkarya dalam hidup kita. Dan saat itulah iblis bekerja untuk menggalkan rencana Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu memelihara hati yang penuh ucapkan syukur, puji-pujian, doa di dalam roh dan kebenaran. Sehingga kuasa kegelapan tidak menguasai kita. Inilah yang patut kita contoh dari Ayub. Dia mengucapkan syukur atas segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Meskipun keadaan berbalik total, namun Ayub tetap memuji Tuhan (Ayub 1: 20-21). Ayub rela menerima keadaan yang Tuhan ijinkan terjadi kepadanya dan melepaskan segala hal yang dia miliki sebelumnya dengan segala ucapan syukur. Sikap ini kemudian diperhitungkan Tuhan dan mengangkat kehidupannya.

Teladan hidup lainnya juga bisa kita lihat dari Abraham yang dengan setia menantikan janji Tuhan akan keturunan. Tuhan pun memenuhi hal itu ketika Abraham mendapatkan Ishak di usianya yang tak lagi muda. Namun, suatu kali Tuhan meminta Ishak untuk dikorbankan (Kejadian 22: 1-12). Kita bisa menempatkan diri di posisi Abraham tentunya. Seorang ayah yang harus merelakan anaknya disembelih untuk dipersembahkan kepada Tuhan dan itu tentu tidak mudah bukan? Tetapi Abraham taat dan memberikannya untuk menjadi korban bakaran bagi Tuhan. Dia melepaskan segala ikatan karena dia percaya Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Namun iman semacam itulah yang dicari Tuhan sehingga Ia bertindak memenuhi segala janji-janji-Nya.

Abraham mengasihi Allahnya lebih dari segalanya yang ia miliki, bahkan anaknya sendiri yang sudah ia nanti-nantikan berpuluh-puluh tahun. Pada saat ia melepaskan segala ikatan hanya bagi Allah, justru Allah memberikan segala-galanya bagi Abraham dan menikmati segala janji-janji Tuhan (Kejadian 22:15-18). Begitupun pada Ayub, dia kehilangan segala-galanya namun Ayub tetap setia dengan mengatakan kebenaran Tuhan, dihadapan teman-temannya yang mencela Ayub dan dihadapan Tuhan, sehingga ia mendapatkan kembali segala kepunyaannya dahulu bahkan berlipat ganda (Ayub 42:7 & 10).

Sering kali didalam hidup, kita menjadi orang yang egois dan ambisius. Kita ingin terus mengejar semua yang kita ingini. Semnetara ketika kita menerima berkat dari Tuhan, kita lupa bahwa semua itu adalah campur tangan Tuhan. Kita juga berusaha keras mempertahankan apa yang menurut kita berharga. Hal ini kerapkali tidak kita sadari sehingga kita akan terus berusaha dengan kekuatan kita yang terbatas dan pada suatu titik kita tidak akan lagi mampu untuk melakukannya.

Inilah sumber keputusasaan, kekhawatiran, ketakutan, gelisah, gentar karena kita tidak menanggapi karya Roh Kebenaran di dalam diri kita. Kita harus menanggapi karya Roh Kudus di dalam hidup kita yaitu dengan melepaskan segala keinginan kita dan membiarkan diri kita dikuasai dan dipimpin oleh Dia. Sehingga kita dapat menikmati segala janji-janji Tuhan seperti yang diterima oleh Abraham.

Sumber : Airhidup.com/jawaban.com/ls
Halaman :
1

Ikuti Kami