6 Peran Utama Suami Sebagai Kepala Keluarga

6 Peran Utama Suami Sebagai Kepala Keluarga

Lori Official Writer
50585

Menjadi kepala keluarga setelah berumah tangga adalah tanggung jawab besar bagi para kaum pria. Perjalanan pernikahan sangat jauh berbeda daripada ketika masih lajang. Banyak dari kaum pria yang kemudian mencari tahu apa yang Tuhan harapkan dari mereka sebagai suami yang baik bagi istri dan anak-anaknya.

Peran dan tanggung jawab mereka sebagai kepala keluarga juga sangat mempengaruhi keharmonisan suami dengan istri. Tak sedikit dari para istri yang menghendaki agar suaminya bisa menjadi panutan dan teladan bagi anak-anak mereka. Untuk itulah suami-suami diharapkan bisa memenuhi beberapa hal ini dengan tujuan untuk menciptakan pernikahan yang bahagia, harmonis dan bahkan berkenan kepada Tuhan.

Sedikitnya milikilah 6 peran utama suami dalam kehidupan berumah tangga.

1. Imam bagi keluarga

Sebagian besar istri mungkin akan memiliki beragam ide yang bisa diterapkan dalam kebiasaan rumah tangga. Misalnya, menghidangkan makanan pembuka di pagi hari beserta minuman segar. Dan Anda adalah kepala keluarga yang kemudian memimpin keluarga Anda untuk membiasakan memulai hari dengan ibadah bersama.

Sang istri juga berharap ketika Anda kembali dari kantor, kalian bisa menutup hari bersama dengan doa bersama. Berdoa dan bersekutu bersama dengan keluarga adalah aspek yang sangat penting. Dan jangan pernah melewatkan tanggung jawab Anda sebagai imam dalam keluarga.

2. Menjadi suami dan ayah yang rendah hati

Konflik rumah tangga muncul ketika seorang suami masih belum bisa memimpin dengan rendah hati. Tuhan memanggil setiap laki-laki untuk kelak menjadi pemimpin di rumah tangganya, namun mereka diminta untuk memimpin dengan bijaksana dan penuh kasih. Memiliki suami yang tidak egois, tidak angkuh dan bertanggung jawab adalah keinginan setiap istri.

3. Menjadi suami yang berani dan saleh

1 Korintus 16: 13 memberikan penjabaran tentang arti dari maskulinitas dalam Alkitab, “Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” Jadi, sebelum Anda menjadi suami yang baik dan saleh, Anda harus menjadi suami yang berani. Keberanian yang dimiliki seorang suami, dalam hal ini, adalah keberanian yang mengandung makna tidak takut akan perkara-perkara hidup sekalin rasa takut yang besar akan Tuhan.

4. Menjadi pencari nafkah

Sebagai kepala keluarga, suami adalah pemimpin tertinggi keluarga yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keuangan rumah tangga. Dalam 1 Timotius 5: 8 bahkan dikatakan, “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Ayat ini bukanlah rancangan Tuhan atas kaum pria. Karena setiap pria dirancangkan untuk menjadi seorang penyedia bagi keluarganya.

Untuk itulah, suami harus memiliki kemampuan perencanaan rumah tangga yang baik. Ia juga harus memiliki tujuan yang jelas, bukan hanya sekadar mencari uang, tetapi juga mengasah dirinya menjadi lebih baik secara rohani.

5. Mengasihi Allah lebih daripada mengasihi pasangan

Ketika kita mengasihi pasangan melebihi Tuhan, kita hanya akan mendapati diri kita dikecewakan. Banyak dari kita kemudian kecewa dan membenci pasangan kita atas tindakannya, dan akhirnya kehidupan rumah tangga dipenuhi dengan akar pahit. Namun ketika kita lebih mencintai Tuhan daripada pasangan, setiap kekecewaan dan kepahitan yang mungkin muncul dalam hubungan bukanlah perkara yang begitu menyakitkan. Karena kita mengandalkan Tuhan di atas pernikahan kita.

6. Mengasihi dengan tulus dan besar

Setiap suami wajib mengasihi istrinya dengan kasih yang sama yang diberikan Yesus. Mengasihi berarti mau berkomitmen dan mau berkorban, mendahulukan kepentingan orang yang kita kasihi di atas kepentingan sendiri. Istri dan anak adalah prioritas utama seorang suami dalam hidupnya. Hal itu juga berarti bahwa hubungan Anda dengan istri jauh lebih penting daripada hubungan Anda dengan teman-teman, atasan atau bahkan keluarga lainnya.

Seorang suami yang baik akan menjadi terpandang di mata banyak orang ketika dia telah menjadi teladan di tengah keluarganya. Tak ada gunanya berbicara tentang keselamatan kepada orang lain bila ternyata seorang suami tidak memberikan teladan dan membagikan hal serupa terlebih dahulu kepada keluarganya.


Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik di sini.

Sumber : cru.org/jawaban.com/ls

Ikuti Kami