Uskup Ini Desak Gereja Inggris Terima Komunitas LGBT

Uskup Ini Desak Gereja Inggris Terima Komunitas LGBT

Mega Permata Official Writer
1926

Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) tampaknya masih menjadi perbincangan hangat di sejumlah negara, terlebih Inggris. Kali ini belasan tokoh gereja terkemuka, termasuk dua wakil uskup dan ketua Katedral St. Paul mengungkapkan pandangan mereka ke dalam sebuah buku berjudul Journeys in Grace and Truth.

Uskup Livepool, Paul Bayes mengatakan, “Saya tiba pada keyakinan bahwa kita perlu mengubah gereja,” tulisnya menyerukan inklusivitas yang lebih besar dalam gereja seperti dilansir oleh newsweek.com.

Untuk itu rohaniwan tersebut mendesak anggota Gereja Inggris atau Church of England, mengubah sikap mereka terhadap komunitas LGBT dan menyambut hubungan sesama jenis.

Paul Bayes berharap agar interprestasi tradisional tentang seksualitas dan perkawinan dalam Alkitab dapat dikaji ulang. “Beberapa peninjauan kembali tentang bagaimana kita sekarang harus memahami perspektif kitab Kejadian tentang pernikahan diperlukan. Pandangan saya atas beberapa teks Alkitab yang eksplisit tentang ‘praktik homoseksual’ terbuka, tidak tertutup,” tulisnya.

Sementara posisi Gereja Inggris tentang LGBT cukup mengakui pernikahan tersebut sebagai persatuan antara seorang pria dan seorang wanita dan pelayanan pernikahan sesama jenis dilarang serta pendeta tidak bisa melayani pernikahan sesama jenis. Untuk itu beberapa kalangan evangelis konservatif menolak hoseksualitas karena sejalan dengan bagian Alkitab dalam Kitab Imamat yang mengacu bahwa hubungan seksual antara laki-laki sebagai “kekejian”.

Ketika seksualitas dan pernikahan sesama jenis dibicarakan, dalam kata pengantar buku ini yang sedang dirilis menjelang sinode tahunan bulan depan, menurut Uskup Dorchester, Colin Fletcher mengatakan, “Ada peningkatan jumlah evangelis yang mencari lagi di kitab suci apa yang mendasari perdebatan ini. dan terutama pada teks Perjanjian Baru dan yang mencapai kesimpulan yang berbeda dari interprestasi tradisional masa lalu.”

Sumber : SatuHarapan/Newsweek.com/Jawaban.com

Ikuti Kami