Kisah Ahli Fisika Nuklir Ateis Ini dijumpai Yesus

Kisah Ahli Fisika Nuklir Ateis Ini dijumpai Yesus

Mega Permata Official Writer
19804

Gunther Scheizle adalah sosok yang brilian. Sebagai seorang ahli fisika nuklir dan profesor Fisika, hal itu sudah keharusan. Dan untuk sebagian besar hidupnya, ia adalah seorang atheis. Hal-hal seperti data kuantitatif, penelitian, fakta - fakta ini adalah hal-hal yang masuk akal. Semua hal dari "iman yang tak terlihat" yang Kristen percaya tampak seperti lelucon bagi ilmuan ini. Hingga pada saat, Tuhan menunjukkan jalan padanya. 

Sebagai Ilmuwan Jerman yang jenius, beliau bekerja untuk Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) dan juga seorang profesor Fisika di Institut Swiss. Semua orang akrab dengan Gunther, mengenalnya sebagai pribadi yang "tidak mau omong kosong, atau ateis anti-agama."

"Saya pernah melemparkan sebuah buku fisika berat di salah satu siswa saya hanya karena ia menyebutkan kemungkinan atas Intelligent Design di alam semesta," Gunther menjelaskan.

Tetapi muncul kejutan pada setiap orang yang mengenalnya, mengenai opini Gunther baru-baru ini berubah secara dramatis setelah campur tangan Ilahi. Itu terjadi pada dimana Gunther dan beberapa seprofesinya meninggalkan impian sebagai ilmuwan. Mereka sedang bersiap-siap untuk menjalankan salah satu tes yang paling kuat yang pernah dilakukan di Large Hadron Collider - terbesar dan paling kuat collider yakni partikel dunia. Tapi saat mereka memulai eksperimen tersebut, di usia 57 tahun Gunther merasa tidak nyaman, dan kemudian pingsan. Ternyata, ia mengalami serangan jantung. Disaat itu juga ia bertemu Yesus.

"Meskipun saya tidak sadarkan diri dan tubuh saya terbaring lumpuh di lantai, saya merasa seperti berada di luar tubuh dan bisa mendengar dan melihat semua keributan disekitar saya akibat gagal jantung," ia menjelaskan. "Saat itu makhluk bercahaya datang dan menghibur saya. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi saya tahu akan bertahan dan bahwa misi saya di bumi belum dicapai. Saya  tahu saya tidak mati. Yang saya ingat setelah bangun di ambulans merasakan sakit yang luar biasa. " 

Pengalaman itu mengguncang hatinya. Ini menyebabkan dia untuk memeriksa kembali semua yang pernah ia percaya, serta segala sesuatu yang pernah ditolaknya untuk percaya. "Minggu-minggu berikutnya sangat sulit bagi saya, tidak sebanyak fisik saya, tapi juga menantang mental. Semua praduga realitas saya secara permanen hancur. Bagaimana saya bisa menghadapi sesama rekan kerja dan keluarga saya dengan cerita koheren seperti itu? Apakah saya benar-benar melihat apa yang saya telah lihat atau itu ilusi belaka? "

Tidak dapat memahami itu semua, Ilmuwan ini akhirnya memutuskan menjadi percaya Allah untuk mencari bantuan. Dia menceritakan kisahnya kepada pendeta lokal yang mengatakan kepadanya bahwa ia telah dikunjungi oleh seorang malaikat.

"Saya belum pernah ke gereja dalam hidup saya sebelum saat itu," kenang nbsp;Gunther  Dan sementara ia masih tidak sepenuhnya memahami apa sebenarnya yang terjadi padanya, ia akhirnya mengerti sesuatu yang selalu menghindari dia sebelum ia menaruh percaya. Gunther juga tahu pengalamannya sangat penting untuk dibagikan. 

"Harapan saya sekarang, adalah bahwa sesama rekan kerja saya dapat menghormati keyakinan saya dan baru-menemukan pemahaman dunia dan semoga Tuhan membantu kita menemukan arti sebenarnya dari kehidupan ini, baik itu melalui doa atau ilmu pengetahuan," pungkasnya.

Dan untuk siswa yang telah dilempar buku olehnya, "Saya kira dia benar setelah semua hal itu terjadi," Gunther mengakui sambil menyeringai.

Alkitab menyebutkan, "Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah dalam kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Yeremia 9: 23-24


Sumber : godvine.com/Jawaban.com

Ikuti Kami