Saat Aku Lumpuh dan Sendiri, Tuhan Mengirim Dia yang Mengasihiku

Marriage / 2 May 2016

Kalangan Sendiri

Saat Aku Lumpuh dan Sendiri, Tuhan Mengirim Dia yang Mengasihiku

Lori Official Writer
29566

Saat aku baru berusia 12 tahun kala itu, aku mengeluh sakit tenggorokan. Selama 15 bulan, aku hanya bisa duduk di kursi roda dan membisu. Orang tua ku diberitahukan bahwa aku mengalami kerusakan otak dan tidak punya harapan hidup yang panjang.

Dokter kemudian melakukan pemeriksaan demi pemeriksaan tetapi tidak menemukan diagnosa yang pasti. Yang mereka bisa katakan adalah bahwa aku menderita gangguan penurunan kemampuan neurologi. Hidup dalam kegelapan, dunia yang tidak terlihat, aku terjaga tetapi tidak bisa merespon dan menyadari apapun di sekitarku. Orang tuaku lalu mengirimku ke sebuah lembaga dimana kematian akan segera menjemputku.

Tetapi hal itu tidak terjadi. Di suatu hari, sekitar empat tahun setelah aku pertama kali jatuh sakit, aku mulai bangkit kembali. Awalnya hanya sebuah kedipan, masa dimana kesadaran yang telah meninggalkanku pelan-pelan muncul kembali. Butuh waktu bagiku menyadari bahwa aku benar-benar sendiri di tengah-tengah banyak orang, terperangkap di dalam tubuh ku sendiri karena tidak merespon, kejang-kejang dan suaraku hilang. Aku tidak bisa memberitahukan kepada siapapun bahwa aku telah kembali hidup.

Apakah Anda pernah menonton film dimana seseorang yang telah mati merasa hidup kembali ketika rohnya terpisah dari tubuh? Demikianlah yang sedang aku alami, orang-orang tetap menatap ke arahku. Namun aku melakukan banyak cara untuk memohon, berteriak dan menjerit. Mereka tetap saja tidak bisa melihatku, aku terjebak di dalam tubuhku sendiri.

Aku benar-benar merasa sendiri, sampai pada waktunya dimana Tuhan menghampiri hidupku. Saat terbangun di satu malam, aku merasa seolah-olah meninggalkan tubuhku sendiri. Terangkat ke atas seperti mengetahui bahwa aku tak bernapas. Tetapi aku juga mengerti bahwa aku tidak sendiri, malaikat menghibur dan membimbingku. Aku ingin meninggalkan hidupku untuk bisa bersama dengan mereka. Aku tak lagi punya apapun dalam hidup, tak ada alasan untuk melanjutkan perjalanan di dunia ini. Tetapi aku juga tahu bahwa aku tidak bisa pergi bersama mereka. Aku tidak bisa meninggalkan keluarga yang mencintaiku dan sudah terluka dengan penyakitku. Aku harus tetap tinggal!

Saat berikutnya, napas perlahan-lahan terisi dalam paru-paruku.

Di usia 19 tahun, aku benar-benar sadar bahwa Tuhan ada bersamaku seperti pikiranku yang dirajut kembali. Meskipun aku dibesarkan dalam keluarga Kristen, kami jarang sekali menghadiri pelayanan dan aku tidak pernah belajar secara formal di gereja. Namun, aku secara naluriah tahu bahwa Tuhan bersama dengan ku setiap saat.

Hidupku mulai berubah ketika aku memasuki usia 25 tahun. Seorang terapis pijat yang bekerja di rumah perawatanku mulai curiga bahwa aku mengerti apa yang dia katakan. Ia segera mendesak orang tuaku untuk membawaku melakukan pemeriksaan. Di suatu pagi di tahun 2001, aku berdoa kepada Tuhan bahwa seseorang akan melihat kecerdasan yang terperangkap di dalam diriku. Hal itupun terjadi! Para ahli menyadari bahwa aku bisa memahami perintah sederhana, mereka lalu mulai mengajariku tentang cara berkomunikasi. Pertama, dengan menggunakan kartu flash dan switch bahkan perangkat komputer yang canggih. Dalam waktu 18 bulan, aku sudah bisa berkomunikasi secara lisan dengan menggunakan ‘suara komputer’. Aku mulai kuliah tentang komunikasi alternatif dan melakukan pekerjaan sukarela. Di tahun-tahun sesudahnya, aku lulus dengan gelar kehormatan di kelas pertama ilmu komputer dan mendirikan usaha sendiri sebagai pengembang website.

Dalam banyak hal, hidup ku sudah sangat banyak diberkati. Tetapi ada satu hal yang aku rindukan, yaitu cinta. Meskipun masih duduk di kursi roda dan belum mampu berbicara, aku terus penasaran apakah akan ada yang melihat masa lalu dari keterbatasan fisik yang aku lewati?

Di Tahun Baru 2008, orang tuaku dan aku menghubungi kakakku yang tinggal di Inggris lewat Skype. Di ruang dimana kakakku berada, terdapat seorang wanita yang membuatku terpikat. Namanya Joanna. Minggu dan bulan berlalu, dan kami telah menjadi teman, bertukar email dan mengobrol online. Aku mengetik dan Joanna berbicara, kami pun segera jatuh cinta.

Pertemuan dengan Joanna membawa dimensi baru bagi imanku. Dia memiliki pendidikan Kristen yang sangat kuat dan secara aktif terlibat dalam gereja dan masyarakat setempat. Kami sama-sama bertumbuh dalam iman, dan setahun kemudian aku memutuskan pindah ke Inggris dan menikahinya.

Aku bahkan tidak bisa berkata-kata bahwa pernikahan ini seperti berkat besar bagi kami. Aku tidak berpikir salah satu dari kita akan lupa dengan perasaan sukacita, bahagia, dan berterima kasih ketika kita mengucapkan janji suci kita dan ucapan pendeta yang mengatakan, “Orang-orang yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia”.

Momen itu membawa kami merasakan bahwa Tuhan telah membawa kami bersama karena kami bergabung dalam kehadirannya. Bagiku, menjadi seorang Kristen dan memiliki Tuhan dalam hidup bukanlah sebuah pilihan, tetapi itu adalah faktanya. Aku berdoa sepanjang hari karena aku tahu bahwa Tuhan ada bersama-sama denganku dan aku tidak bisa melewatkan hari tanpa berbicara dengan-Nya.

Kalau bukan karena tangan Tuhan, aku tidak akan mencapai tahap kehidupan saat ini. Jika aku merenungi kembali tentang segala yang terjadi dalam hidupku, tidak ada keraguan di benakku bahwa hal itu hanya bisa terjadi melalui campur tangan ilahi.

Aku tidak bisa marah kepada Tuhan karena kondisiku, tetapi aku tahu bahwa Dia tetap bersama denganku. Aku hanya punya iman (untuk melewati semua proses) dan aku melakukannya.

 

Kisah nyata dari Martin Pistorius, penulis buku New York Times bestseller, Ghost Boy.


Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klikdi sini.
Sumber : Crosswalk.com/jawaban.com/ls
Halaman :
1

Ikuti Kami