Yesus, Sang Penolong Brad Guzan

Yesus, Sang Penolong Brad Guzan

Lori Official Writer
3336

Pada tahun 2005, Brad Guzan, penjaga gawang asal Amerika Serikat, merasa telah bermain sangat buruk saat menggantikan penjaga gawang utama dari klub Chivas USA yang cedera. Timnya mengakhiri musim dengan rekor buruk 4 kemenangan dan 22 kekalahan pada tahun pertama mereka, dan Guzan yakin bahwa sebagian besar hasil buruk itu merupakan tanggung jawabnya.

“Waktu itu aku masih muda,” kata Guzan. “Aku merasa tidak yakin bahwa aku siap secara mental dan fisik. Aku juga tidak yakin apakah aku memang pantas. Kami tidak bisa memenangi pertandingan… jadi, aku merasa begitu terpuruk. Ada begitu banyak hal yang kupertanyakan dalam pikiranku.”

Meski demikian, pada akhir musim itu, Guzan menerima sebuah e-mail yang mengundangnya untuk masuk dalam kamp tim nasional AS. Sebuah undangan untuk mewakili negaranya di tingkat internasional. Sungguh suatu hal yang tidak pernah dibayangkannya.

Kepercayaan diri Guzan yang tadinya merosot setelah hasil buruk di tahun pertamanya sekarang membubung tinggi. Dan dua tahun kemudian, ketenarannya pun semakin memuncak, setelah ia mendapat gelar Penjaga Gawang Terbaik dalam Liga Utama Sepakbola (MLS) tahun 2007. Prestasi itu memberinya kesempatan untuk bermain bagi Aston Villa di salah satu liga terbaik di dunia, Liga Primer Inggris, pada tahun 2008. Sejak saat itu ia terus bermain bagi Aston Villa (di luar masa pinjaman satu bulan di Hull City). Memang tidak mudah baginya bermain dalam sebuah liga yang sangat kompetitif, tetapi Guzan telah maju begitu banyak sejak tahun pertamanya bersama Chivas USA.

“Empat tahun pertamaku di Inggris memang terasa sulit,” kata Guzan. “Memang sulit karena aku bisa bermain dalam satu pertandingan dengan baik, tetapi minggu depannya aku bisa duduk di kursi cadangan. Begitulah keadaan yang tidak konsisten itu, padahal aku mencari tempat yang konsisten… Tapi aku harus tetap bersikap profesional. Aku harus tetap teguh… terus berjuang… aku tahu kalau aku terus maju aku akan mendapat kesempatan suatu hari nanti.”

Dalam posisi yang menuntut kekuatan mental seperti seorang penjaga gawang, keteguhan hati itulah yang membuat Guzan kokoh dalam menghadapi situasi yang baik atau yang buruk.

“Ketika segalanya berjalan begitu lancar, janganlah kita menjadi terlalu percaya diri,” kata Guzan. “Ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana kita, jangan juga kita terpukul… Aku rasa sebagai atlet, setiap orang bisa terjebak dalam ketegangan sementara, dan kemudian melakukan hal-hal yang akan disesali. Aku juga bisa demikian. Aku tidak sempurna, tetapi Allah mengasihi semua orang. Kita harus dapat membuka diri kita bagi-Nya dan membiarkan-Nya masuk dalam hidup kita. Ketika kita melakukannya, pengampunan dan kelepasan akan diberikan oleh-Nya, dan karena kita tahu kita memiliki kasih Allah, kita akan dapat mengikuti-Nya sepanjang hidup kita.”

Pada tahun 2013, Guzan bermain sebagai penjaga gawang utama tim nasional menggantikan Tim Howard yang cedera dalam 2 pertandingan penyisihan Piala Dunia FIFA 2014. Dalam kedua pertandingan itu ia berhasil menjaga gawangnya tidak kebobolan.

“Bagiku, seluruh hidupku menjadi satu—kehidupan pribadiku, kehidupan imanku, kehidupanku di atas lapangan,” kata Guzan. “Aku pikir harusnya demikian. Semuanya berlangsung begitu natural. Kita tidak bisa memisahkan satu dari yang lainnya, dan yang paling penting kita harus punya Yesus dalam hidup kita… Seperti yang kukatakan, jalan menuju sukses itu tidak selalu mulus. Selalu ada rintangan di sepanjang jalan. Dan melalui semua kesulitan itu, Yesuslah yang menolongku melalui semua pergumulan yang ada.”

Jika Anda kemudian ditanya tentang siapa sang penolong dalam hidup Anda? Apakah itu adalah Yesus? Jika sebelumnya Anda masih ragu, maka kisah Brad Guzan ini bisa menjadi bahan perenungan Anda.

Sumber : Warungsate.com/jawaban.com/ls
Halaman :
1

Ikuti Kami