Kesombongan di Balik Doa yang Terkabul

Kesombongan di Balik Doa yang Terkabul

Lori Official Writer
11161

Pada suatu kali, dua pria melakukan perjalanan menggunakan kapal. Nahasnya, kapal tersebut karam diterjang badai hebat. Untung saja, kedua pria itu berhasil menyelamatkan diri dan mendapati mereka terdampar di sebuah pulau kecil nan gersang. Tak ada yang mampu mereka perbuat selain harus berdoa.

Namun sebelum melakukan hal itu, keduanya sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua bagian dan masing-masing dari mereka membuat garis pembatas teritori. Lalu mereka mulai taruhan, doa siapa yang kemudian akan dikabulkan Tuhan.

Doa pertama, mereka memohon di turunkan makanan. Dan keesokan harinya, lelaki pertama itu melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sementara laki-laki lainnya tak mendapatkan apa-apa. Seminggu kemudian, lelaki pertama mulai merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, sebuah kapal pun karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat di wilayah miliknya. Sedang di sisi lain, pria kedua tetap tidak mendapat apa-apa.

Kemudian lelaki pertama berdoa lagi meminta agar memiliki rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, tampak seperti keajaiban, semua yang dia minta nyatanya tersedia. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapat apa-apa.

Akhirnya lelaki yang pertama berdoa meminta agar dikirimkan kapal untuk membawa mereka pulang dari pulau tersebut. Keajaiban kembali terjadi. Keesokan harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambar di sisi pantainya. Segera saja dia dan istrinya naik ke atas kapal dan bersiap-siap meninggalkan pulau. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki kedua dengan kondisi yang begitu memprihatinkan. Dia berpikir bahwa lelaki itu tidak pantas menerima berkat tersebut karena doa-doanya tak pernah dikabulkan.

Begitu mereka telah bersiap-siap untuk berangkat, lelaki pertama tiba-tiba mendengar suara dari langit. “Hai. Mengapa engkau meninggalkan temanmu yang ada di sisi lain pulau ini?” Lalu dia menjawab, “Berkatku hanyalah milikku sendiri, hanya karena doakulah yang dikabulkan. Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka ia tak pantas mendapatkan apa-apa”. Kemudian suara itu menjawab, “Kau salah!”

“Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya meminta satu doa. Dan semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka engkau tidak akan mendapatkan apa-apa,” ucap suara tersebut. Kemudian lelaki pertama itu mulai penasaran dan bertanya, “Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?”

Jawab suara tersebut, “Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan”.

Kisah ini mengingatkan bahwa kita seringkali merasa sombong dengan apa yang kita punya. Kita merasa sudah jauh lebih baik dari orang lain. Padahal tanpa kita sadari banyak dari orang disekitar kita mungkin saja sudah mengorbankan segalanya demi keberhasilan kita. Kita tak sepantasnya mengabaikan peran orang lain yang tanpa kita sadari telah berkontribusi besar untuk keberhasilan hidup kita. Hargai orang lain dan berterimakasihlah atas dukungan mereka.


Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik di sini.

Sumber : Winksite.com/jawaban.com/ls

Ikuti Kami