Jangan Batasi Mimpimu

Jangan Batasi Mimpimu

Lori Official Writer
3258
Pada suatu hari yang panas tahun 1984, orang-orang di sebuah kota kecil di New Mexico mengawasi saat seorang pelari muda yang kuat mengoperkan obor Olimpiade ke pelari berikutnya, Amy yang berumur sembilan tahun. Dengan keadaannya yang cacat dan bungkuk, Amy telah lama sekali ingin membawa obor itu dalam perjalannya dari Atena ke Los Angeles. Ketika ia memegang obor yang berat itu, ia harus memegangnya dengan kedua tangannya. Ia tidak memiliki kekuatan maupun ketangkasan seperti pelari sebelumnya.
Banyak orang yang kemudian meneriakkan kata-kata penyemangat, tetapi hanya sedikit yang menganggap ia dapat menyelesaikan jarak yang harus ditempunya. Mereka tidak tahu bahwa Amy sangat ingin menyelesaikan tantangan itu. Ia menginginkannya lebih dari apapun di dunia ini. Ia dan ibunya telah mengumpulkan uang untuk membayar tiket masuk seharga $3000 dengan berjualan dan mengadakan garage sale di halaman depan mereka. Amy berlatih selama setahun dengan palu seberat 5 kg, tetapi tidak pernah sekalipun pada tahun itu ia mampu menyelesaikan jarak tersebut. Namun, semangatnya terus berobar, tak ada sikap menyerah dalam dirinya.

Saat orang banyak bersorak-sorai kepadanya, ia berlari dengan lambat tapi pasti. Herannya, kali ini Amy bisa menyelesaikan jarak yang harus ditempuh dan membuat semua orang takjub. Ia telah mengatasi cacat tubuhnya dan melakukan apa yang tampaknya mustahil.

Melalui kisah Amy, kita diajak merenungkan kembali mimpi-mimpi kita. Seberapa besar mimpi yang masih ita genggam. Tentu saja setiap orang boleh bermimpi, sebab Tuhan menyukai orang-orang yang bermimpi besar. Dari kisah Amy di atas, kita patut meneladani tiga poin yang ia lakukan, yaitu:

Pertama, ia diperhadapkan pada momentum yang sangat penting baginya, yaitu sebuah Olimpiade. Hanya orang-orang terpilihlah yang diizinkan membawa obor menjelang olimpiade.

Kedua, ia sangat ingin menjadi pembawa obor Olimpiade. Ia berjuang dengan gigih untuk mewujudkan hal itu, tentu saja dengan latihan dan persiapan yang matang untuk mempersiapkan fisiknya.

Ketiga meskipun dibayangi oleh kemustahilan, tetapi Amy mendapat dukungan dari ibunya dan terutama meminta pertolongan Tuhan. Sehingga ia berhasil meraih impiannya.   

Di saat ita masih diberi kesempatan hidup, kita perlu memiliki tujuan atau rencana-rencana yang besar. Sebuah mimpi disebut besar jika kita dinilai tidak memiliki kemampuan memadai untuk meraihnya. Tetapi rencana kita disebut besar jika yang kita impian itu adalah sesuatu yang sangat berarti bagi kita. Atau yang kita rencanakan akan dinikmati oleh sebanyak-banyaknya orang. Namun akan jauh lebih mulia, apabila impian itu sungguh-sungguh dapat memuliakan Tuhan, sebab tujuan hidup kita adalah untuk selalu memuliakan Tuhan.


Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klikdi sini

Sumber : Gkipi.org/jawaban.com/ls

Ikuti Kami