Diculik Selama Satu Dekade Oleh ISIS, Pastor Douglas Desak AS

Diculik Selama Satu Dekade Oleh ISIS, Pastor Douglas Desak AS

Mega Permata Official Writer
4276

Selama satu dekade berlalu sejak Pastor Douglas al-Bazi diculik oleh ISIS di Baghdad, sebuah mimpi buruk yang masih menghantui imam Katolik Khaldea itu. Ketakutan tersebut menjadi bahan bakar penggerak semangatnya untuk mengkampanyekan agar kekejaman yang dialami oleh umat Kristen di Irak  digolongkan sebagai genosida. 

Seperti yang dikutip dari The Washington Times, “Saya disini untuk memberitahukan dunia, ‘Apakah anda menyadari apa yang terjadi atau tidak? Apakah anda akan membantu atau tidak?,” kata al-Bazi saat di Washington pekan ini. Kunjungannya ke Washington bertujuan untuk menyoroti perlawanan oleh pemerintahan Obama untuk secara resmi mengakui bahwa genosida terorganisir menargetkan komunitas Kristen kuno sedang berlangsung di Irak dan Suriah.

Menurut beberapa perkiraan, ada sebanyak 2 juta orang Kristen dari berbagai denominasi di Irak pada tahun 2003. Saat ini, tidak sampai 300.000, kata pastor AL-Bazi, yang melarikan diri dari Baghdad tiga tahun lalu ke kota Kurdi dan Erbil, dimana puluhan ribu pengungsi Kristen tinggal di 17 kamp pengungsi darurat.

“Mantan paroki saya di Baghdad beranggotakan 2.600 keluarga. Ketika saya pergi, yang tersisa kurang dari 300 keluarga,” kata imam berusia 43 tahun, yang mencoba selama bertahun-tahun  untuk mempertahankan paroki bersama-sama setelah selamat dari upaya penculikan pada tahun 2006. “Saya tahu derita mereka. Jadi saya tidak menyalahkan orang-orang ketika mereka memutuskan untuk pergi.” Dia berbicara dengan nada yang tenang dan rendah hati saat wawancara dengan The Washington Times yang diusahakan oleh Knights of Columbus – Organisasi persaudaraan Katolik terbesar di dunia.

Laporan ini juga menjelaskan argumen hukum yang jelas menunjukkan bahwa terjadi genosida dan harus dinyatakan bahwa orang Kristen di Irak dan Suriah adalah korban genosida yang dilakukan oleh kelompok teroris atau ISIS. “Ruang lingkup laporan ini jelas menunjukkan bahwa terjadi genosida dan harus dinyatakan demikian,” kata Andrew T. Walther, wakil presiden komunikasi dan perencanaan strategis untuk Knights of Columbus. 

Paus Fransiskus dan beberapa kandidat calon presiden AS, termasuk Partai Republik Ted Cruz dan Marco Rubio, dan calon presiden Partai Demokrat terdepan, Hillary Clinton, telah menyebut apa yang terjadi pada orang-orang Kristen dan minoritas lainnya di Timur Tengah adalah genosida. 

Pemerintah AS telah lama enggan untuk mengadopsi sebutan genosida karena akan membawa serta kewajiban formal dibawah hukum internasional dan dalam beberapa kasus dapat membuat penyelesaian krisis internasional lebih sulit untuk dicapai.

Ketika ditekan pada awal februari, mengapa pemerintahan Obama mengelak menggunakan kata genosida, juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest mengatakan, “Pemahaman saya adalah penggunaan istilah tertentu memiliki konsekuensi hukum dan sebagainya. Banyak pengacara yang sedang mempertimbangkan apakah tepat atau tidak menggunakan istilah itu dalam skenario ini.”

Namun, parlemen Uni Eropa bulan lalu menyetujui resolusi yang menyatakan kampanye ISIS terhadap Kristen dan minoritas agama lainnya merupakan genosida, dan anggota parlemen dari kedua belah pihak di Washington menekan Obama untuk mengikutinya. 

Anggota parlemen AS diam-diam memasukkan ketentuan dalam RUU pengeluaran omnibus yang disahkan akhir tahun lalu untuk memaksa Menteri Luar Negeri, John F. Kerry menyatakan secara terbuka pada 17 maret mendatang apakah telah terjadi genosida. Debat tentang masalah tersebut telah berputar-putar sejak Juni 2014, ketika ISIS mengejutkan dunia dengan menduduki kot Mosul, sebuah langkah yang mengakibatkan pengusiran secara cepat sekitar 60.000 orang Kristen.

Sumber : The Washington Times
Halaman :
1

Ikuti Kami