4 Alasan Penting Perlu Berbagi Iman Kepada Orang Lain

4 Alasan Penting Perlu Berbagi Iman Kepada Orang Lain

Lori Official Writer
4771

Seorang gadis bernama Hana menulis pertanyaan yang sangat bagus kepada Pendeta John Piper: “Hallo Pendeta John! Aku punya teman Non-Kristen dan aku rindu agar mereka mendapatkan keselamatan lewat persahabatan kami, tapi aku tidak pernah membagikan kisah hidupku (keburukan karakter dan perjuangan terhadap dosa-dosaku). Aku menahan diri karena perasaan takut bila aku berbagi tentang hal-hal itu, teman-teman ku akan melihatku sebagai pengikut Kristus yang buruk. Aku berpikir, kenapa aku harus berbicara tentang keburukanku kepada orang yang tidak percaya, apa tujuan dan harapan dibalik mengatakan hal itu kepada orang lain? Bisakah Anda membantu saya tentang sisi pemikiran ini?”

Hannah mengatakan bahwa dia menghindari diri untuk berbagi sisi lemah dan buruknya kepada teman-temannya non-Kristen. Dia takut bila mereka akan memandang dia sebagai pengikut Kristus yang buruk. Ini benar-benar nyata, kekhawatiran yang nyata ada dalam Alkitab, karena Alkitab berulang kali mengingatkan kita untuk memancarkan cahaya kita bersinar atas perbuatan baik kita dan memberikan kemuliaan kepada Bapa (Matius 5: 16; 1 Petrus 2: 12). Jadi, tidak salah orang-orang non-Kristen ingin melihat kita sebagai orang yang berbuat baik daripada melakukan tindakan buruk.

Tetapi panggilan untuk memberitakan injil kepada orang lain kerap terhambat karena lebih mengandalkan rasa khawatir dengan pandangan kepalsuan dibalik apa yang dilakukan kepada orang lain. Inilah yang dialami seorang Hannah. Padahal, kekhawatiran itu bisa membuat kita menjadi acuh tak acuh terhadap kerinduan Tuhan, merasa seperti tidak ada hal yang salah meski sesungguhnya kita sedang menyisihkan berita injil.

Menurut pendeta John, ada empat alasan mengapa Hannah harus bijaksana dan rendah hati untuk mau terbuka berbagi tentang perjalanan iman dengan orang lain, termasuk non-Kristen.

Pertama, dia harus melakukannya karena rasul Paulus melakukannya. Dia sangat terbuka mengatakan dalam 2 Korintus 12: 7 bahwa dia merasakan duri dalam dagingnya, yaitu seorang utusan Iblis untuk menganggunya agar dia menjadi sombong. Dia menulis, “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2 Korintus 12: 8-9)”. Kelemahan adalah salah satu kekhawatiran orang percaya terhambat memberitakan injil. Dan di sinilah Paulus menaruh segala kelemahannya bagi kemuliaan Kristus. Jadi, Hannah perlu melawan pikirannya.

Kedua, kita harus bersedia membagi sisi lemah diri kita kepada orang lain. Jangan sampai kita memberikan kesan pandangan yang salah tentang apa artinya bertobat kepada Kristus. “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. (1 Yohanes 1: 8-10)”.

Banyak orang yang tidak mudah memercayai orang Kristen karena dianggap hanya menuntut standar nilai hidup yang tak terbayangkan. Di satu sisi, mereka tidak tahu apa-apa tentang kuasa Roh Kudus dan di sisi lain, mereka mungkin memiliki kesalahpahaman serius tentang kesempurnaan dan tentang orang-orang Kristen dan seperti apa mereka itu sebenarnya. Dan Hannah bisa membantu mereka memiliki pandangan yang jelas dari kehidupan Kristen yang sejujurnya dengan membagi kisah perjuangan pertobatannya secara realistis kepada orang lain.

Ketiga, kita harus bersedia mengatakan tentang keburukan dan perjuangan kita karena ini akan menumbuhkan harapan kepada orang lain bahwa orang Kristen hidup dalam perjuangan nyata untuk menjadi pribadi yang baru.

Keempat, kita harus bersedia berbagi sisi lemah kita kepada orang lain untuk menyebarkan kasih karunia dan kesabaran Tuhan di dalam Kristus. Jadi, Paulus mengatakan hal ini dalam 1 Timotius 1: 16, “Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.”

Jadi, intinya adalah bahwa injil itu sesungguhnya berbicara tentang kasih karunia dan belas kasihan di dalam Kristus. Itulah pusat utama yang harus kita sampaikan kepada orang lain, bahwa betapa berharganya pengampunan dan betapa berharganya kesabaran Allah untuk membentuk kita menjadi pribadi yang benar.

Bila Hannah dan banyak orang Kristen lain masih merasakan kekhawatiran untuk membagikan kisah hidupnya kepada orang lain, mereka harus memikirkan bahwa Kristus terlebih berharga dibandingkandengan kelemahan-kelemahan kita. Dengan kata lain, mengabarkan injil tidak berbicara tentang membagikan kelemahan-kelemahan kita. Tetapi kita berbicara tentang Kristus, kesabaran dan kasih karunia-Nya. Inilah inti yang patut kita sampaikan saat berbagi dengan orang lain. Untuk itu, keluarlah dari pikiran seperti yang dialami Hannah dan pandanglah kepada kerinduan Tuhan agar injil diberitakan kepada semua orang.

 

Disadur dari tulisan Pendeta John Piper, author dan founder dari Desiringgod.com

Sumber : Desiringgod.com/jawaban.com/ls
Halaman :
1

Ikuti Kami