Merayakan Natal dan Menghadapi Kehilangan Orang Terkasih

Merayakan Natal dan Menghadapi Kehilangan Orang Terkasih

Theresia Karo Karo Official Writer
2148

Banyak yang merayakan Natal sebagai saat berkumpul dengan keluarga besar, makan bersama, dan bertukar hadiah. Akan tetapi bagi mereka yang hidup sendiri, momen ini bisa menjadi masa-masa yang sangat sensitif.

Deb Rae, wanita asal Mackay, Queensland, Australia ini benar-benar mengerti bagaimana perasaan mereka yang ditinggalkan orang-orang terkasih saat merayakan Natal seorang diri. Di mana Deb sendiri kehilangan suaminya dalam kecelakaan di luar negeri, 12 tahun silam. 

Menghadapi perasaan kehilangannya, Deb kemudian menulis sebuah buku berjudul ‘Getting There: Grief to Peace for Young Widows’ yang menceritakan pengalaman pribadinya.

“Kami sadar kami tak bisa memiliki anak sehingga kami memutuskan untuk melakukan apa pun yang kami inginkan, jadi kami memutuskan untuk mengajar bahasa Inggris di luar negeri dan kami pergi ke Polandia,” ungkap Deb seperti yang dilansir dari Radioaustralia.net.au (14/12).

“Itu adalah pertama kalinya dia pergi keluar sendirian di malam hari dan tertabrak mobil di penyeberangan jalan ketika dia berjalan pulang malam itu, jadi itu sangat mendadak,” lanjutnya lagi.

Natal sempat menjadi waktu yang sangat sulit baginya dalam menghadapi duka kehilangan suami terkasih. “Itu menyorot apa yang terjadi dalam hidup Anda ... dan jika Anda orang yang berduka atas kepergian seseorang, kesenjangan itu menjadi jauh lebih jelas bagi Anda,” katanya.

“Momen itu berbeda bagi saya, karena suami saya meninggal pada waktu Natal, dan ulang tahun pernikahan kami jatuh pada bulan Desember dan itu adalah hari ulang tahunnya juga, jadi Natal menjadi momen yang cukup sulit bagi saya selama bertahun-tahun,” paparnya.

Sepeninggal suaminya, keluarga dan teman-temannya tidak tahu harus melakukan atau mengatakan apa pada Deb saat Natal. Kecanggungan pun tidak terhindarkan. 

“Saya pikir itu tentang kejujuran dan mengatakan, 'Saya tak tahu harus berkata apa' karena kita memiliki harapan bahwa kita harus memiliki jawabannya, tetapi seringnya tak ada satupun,” kenang Deb.

“Ini tentang berkumpul bersama-sama, memegang tangan orang lain, dan bertanya, 'Apakah Anda ingin berbicara tentang hal itu?'," ujarnya lagi.

Mendirikan kelompok pendukung

Sejak dua tahun lalu, Deb membantu membuat kelompok pendukung untuk para janda muda di Mackay yang bernama ‘Women Acting Together Through Loss to Empowerment’ (WATTLE) atau ‘Kelompok Perempuan Bersatu Melalui Duka Hingga Pemberdayaan’.

Menurutnya, kelompok ini menjadi kesempatan bagi para perempuan untuk berada di sekitar perempuan lain dan berbicara. “Kami mungkin berbicara tentang acara TV atau anak-anak, atau kadang-kadang kremasi dan peti mati. Semua percakapan itu bercampur karena kami bisa berbicara tentang mereka yang telah pergi dan tak ada satupun yang akan berpikir kami aneh,” jelasnya.

Meski dalam kesedihan tetap ada sukacita yang bisa dibagi, selama kita bersedia membuka mata dan mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan dukungan. Jadikan momen kelahiran Kristus ini sebagai Natal yang mengubahkan hidup dan menjadi berkat bagi orang lain. Selamat Natal untuk kita semua!

Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik di sini.

Sumber : Abc/Radioaustralia.net.au by tk
Halaman :
1

Ikuti Kami