Paska Penembakan di California, Pembelian Senjata Api Meningkat

Paska Penembakan di California, Pembelian Senjata Api Meningkat

daniel.tanamal Official Writer
3004
Keresahan warga Amerika Serikat terhadap seringnya penembakan-penembakan massal yang terjadi membuat pembelian senjata api meningkat. Menurut FBI’s National Instant Criminal Background Check System ada 185.345 permohonan pemeriksaan latar belakang untuk memiliki senjata api pada tanggal 27 November atau sehari setelah Thanksgiving, yang dinilai sebagai musim belanja tertinggi.

Menurut Kepala FBI’s multimedia production Stephen Fischer – dalam tulisannya di suratkabar USA Today – terjadi peningkatan 5 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 175.754. “Black Friday” tahun 2012 hingga 2014 adalah salah satu masa di mana FBI paling banyak menerima permintaan pemeriksaan latar belakang untuk memiliki senjata api. Sejak melakukan pemeriksaan dan pencatatan pada tahun 1998, ada sekitar 220 juta senjata api yang tercatat dimiliki warga. Selain musim diskon seperti “Black Friday”, penjualan senjata api juga diketahui meningkat setelah terjadi insiden penembakkan massal. Setelah penembakan di sekolah dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut pada pertengahan Desember 2012 yang menewaskan 26 orang, terjadi kenaikan pembelian senjata api.

Presiden Amerika Barack Obama telah berulangkali menyerukan pengetatan pemeriksaan latar belakang guna memiliki senjata api dan sekaligus pengendalian penjualan senjata api. Hal yang sama ditegaskannya kembali beberapa saat setelah insiden penembakan di California hari Rabu. Kepala Kepolisian San Bernardino, California, Jarrod Burguan, memastikan jumlah dan kondisi korban, serta pelaku penembakan di sebuah pusat latihan penderita gangguan mental hari Rabu (2/12) dalam sebuah konferensi pers yang juga dihadiri sejumlah agen badan federal seperti ATF dan FBI.

Sedikitnya 14 orang tewas dan 21 lainnya luka-luka, belum termasuk dua penembak yaitu pasangan Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik. Polisi mengatakan Farook yang kelahiran Illlinois dan bekerja sebagai pengawas kesehatan di pusat latihan itu, bersama istrinya yang berkewarganegaraan Pakistan, melepaskan sedikitnya 76 tembakan membabibuta dan meninggalkan sebuah mobil mainan berisi tiga bom pipa yang dilengkapi pengendali dari jarak jauh, tetapi gagal diledakkan. Polisi juga menemukan lebih dari 1.500 butir peluru dan sedikitnya empat senjata api dalam mobil SUV yang digunakan untuk melarikan diri. Ditambahkannya di rumah pasangan penembak itu polisi juga menemukan 12 bom pipa, bahan-bahan pembuat bom dan sedikitnya 4.500 butir peluru.

Pejabat FBI, David Bowdich hari Kamis mengatakan Farook melakukan perjalanan ke luar negeri dan kembali ke Amerika pada bulan Juli 2014 bersama Malik, yang memasuki Amerika dengan menggunakan paspor Pakistan. Bowdich mengatakan pasangan itu kemudian menikah. Keduanya tidak pernah berada dalam daftar pemantauan tersangka teroris. Tim penyelidik mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan motif pasangan itu melakukan penembakan membabibuta. Sejumlah piranti digital pasangan itu telah disita sebagai barang bukti.


Sumber : Kompas.com
Halaman :
1

Ikuti Kami