‘Lehermu Seperti Menara Daud’, Kiasan Kidung Agung yang Bermakna

‘Lehermu Seperti Menara Daud’, Kiasan Kidung Agung yang Bermakna

Lori Official Writer
6194

Kidung Agung 4: 4

Lehermu seperti Menara Daud dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya


Kitab Kidung Agung adalah salah satu bagian kitab yang banyak kali menggunakan kiasan dari sebuah objek dengan memperbandingkan satu hal (imagery) dengan benda lain yang terjadi secara langsung (simile). Kata-kata yang digunakan adalah seperti, bagaikan, seumpama dan sejenisnya. Salah satu simile yang banyak dibahas adalah bagian kiasan ‘lehermu seperti menara Daud’.

Secara harafiah, kata leher dalam Kidung Agung menjadi bagian tubuh yang dipuja laki-laki dari wanita. Tercatat kata ini disebut sebanyak tiga kali (Kidung Agung 1: 10; 4: 4; 4: 7). Sementara secara umum, leher merupakan bagian tubuh yang biasanya dihias dengan kalung (Yehezkiel 16: 11 & Kidung Agung 4: 9). Bagi kaum pria, kalung yang dipakai di leher menjadi lambang sebuah penghormatan (Kejadian 41: 42; Amsal 3:22; Daniel 5: 29). Tentu hal ini bertolak belakang dengan menggunakan kata leher sebagai kiasan untuk memuji seorang wanita yang terbilang feminin, lembut dan penuh keindahan.  

Kata ‘menara Daud’ memang bukan istilah yang terkenal dalam Alkitab. Karena nyatanya hanya diucapkan satu kali, yaitu di Kidung Agung 4:4. Berbeda dengan istilah ‘kota Daud’, ‘tahta Daud’ atau ‘pondok Daud’ yang memiliki makna yang berkaitan dengan hal-hal yang dimiliki Daud.

Kata ‘menara Daud’ mulai muncul setelah sebuah benteng kuno berdiri di sekitar gerbang masuk kota tua Yerusalem. Tempat ini sudah dikenal identik dengan penyimpanan senjata. Kalimat dalam Kidung Agung 4:4, ‘Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya’, bahkan juga dituliskan di Yehezkiel 27: 10-11 dituliskan, “Orang Persia, Lud dan Put, yang menjadi prajuritmu ada dalam ketenteraanmu. Perisai dan ketopong digantungkan padamu; mereka menambah semarakmu. Orang Arwad dan tentaranya memanjat di atas tembok-tembokmu sekeliling dan orang Gamad di atas menara-menaramu; mereka menggantungkan perisai-perisainya pada tembok-tembokmu sekeliling, mereka membuat keindahanmu sempurna”.

Nats ini menggambarkan tentang perisai-perisai yang bergantung di tembok, menambah semarak dan membuat keindahannya sempurna. Hal ini tentu berkaitan dengan kata ‘leher seperti menara Daud’ yang ditafsirkan memiliki arti bahwa:

Pertama, penulis Kidung Agung menggambarkan leher seorang gadis dihiasi dengan banyak liontin sama seperti ribuan senjata yang tergantung di menara Daud. Dalam artian, kiasan itu bisa diungkapkan dengan kalimat ‘lehermu dengan banyak liontin yang menghiasinya sama cantiknya dengan menara Daud dengan banyak perisai mengelilinginya’.

Kedua, keberadaan ribuan perisai yang tergantung di menara Daud mengandung pengertian secara artistik, keberadaan menara itu indah dan dalam kondisi damai, tidak penuh peperangan, atau juga memiliki pertahanan yang kuat dengan ribuan perisai yang mengelilinginya.

Jadi penafsiran sejarah menara Daud ini, kiasan ? ?lehermu seperti menara Daud’ menggambarkan tentang keindahan perisai di sekitar menara Daud. Leher wanita yang diibaratkan seperti menara Daud itu merupakan sebuah gambaran tentang kekaguman orang-orang Israel pada zamannya akan keindahan menara Daud dengan perisai yang mengelilinginya.


Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik DI SINI.

Sumber : Gkriexodus.org/jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami