6 Wisata Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

6 Wisata Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Lori Official Writer
4613

Tahukah Anda usia kemerdekaan Indonesia ke-70 ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk kembali memperingati perjalanan perjuangan para pahlawan bangsa demi merebut kemerdekaan seperti saat ini. Sebagian dari kita mungkin pernah terpikir untuk lebih mengetahui perjalanan perjuangan itu.
Anda bisa melakukannya dengan cara menelusuri kembali sejarah bangsa berupa gedung-gedung bersejarah yang pernah menjadi saksi perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia sembari berwisata.
Cobalah menelusuri 6 gedung, tugu dan monumen ini.
1. Monas
Monumen Nasional (Monas) atau yang dikenal sebagai Tugu Monas merupakan monumen peringatan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Monumen Nasional berlokasi tepat di tengah Lapangan Merdeka, Jakarta Pusat. Monas mulai dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 dan mulai dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Monumen setinggi 132 meter ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas. Di halaman luarnya, mengelilingi monumen, Anda dapat melihat relief sejarah Indonesia. Sedangkan di bagian dasar monumen, pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Di dalam museum terdapat 51 diorama yang menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra-sejarah hingga orde baru. Selain itu, juga terdapat naskah asli teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di Ruang Kemerdekaan yang berada di bagian dalam cawan monument, dan di pelataran puncak, pada ketinggian 115 meter dapat dijadikan sebagai pusat pemandangan.

2. Tugu Proklamasi
Tugu Petir atau Tugu Proklamasi merupakan titik tempat berdirinya Soekarno dan Moh Hatta ketika membacakan naskah proklamasi. Tugu ini terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Di salah satu sisinya terdapat sebuah tulisan 'Di sinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Pada Tanggal 17 Agustus 1945 Djam 10.00 Pagi Oleh Bung Karno dan Bung Hatta'. Tugu dengan lambang petir di atasnya itu menjulang setinggi sekitar 17 meter.
Di sebelah Tugu Petir, ada Monumen Proklamator Soekarno-Hatta. Monumen tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1989. Tampak patung Bung Karno yang sedang memegang naskah dan berdiri di sebelah Bung Hatta. Di tengahnya ada naskah proklamasi ukuran besar dengan tulisan berwarna emas, yang dibuat dari bahan perunggu, sedangkan belakangnya ada 17 sirip yang menandakan tanggal 17 Agustus.

3. Gedung Joang 45
Gedung ini awalnya adalah hotel yang dikelola oleh keluarga L.C Schompler. Hotel ini dinamai Hotel Schomper, yang diambil dari nama pemiliknya. Gedung Joang 45 berlokasi di Jalan Menteng Raya 31, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Di kantor inilah diadakan program pendidikan politik yang dimulai pada tahun 1942 untuk mendidik pemuda Indonesia dan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah Jepang. Di Museum Joang 45 ini kita dapat melihat jejak perjuangan kemerdekaan RI dan koleksi benda-benda peninggalan para pejuang Indonesia. Ada koleksi foto dokumentasi dan lukisan yang menggambarkan perjuangan sekitar tahun 1945 – 1950an. Ada juga patung-patung dada para tokoh perjuangan. Di Museum Joang 45 ini juga terdapat ruang pameran tetap dan temporer, Bioskop Joang 45 yang memamerkan film dokumenter dan film perjuangan lama, perpustakaan referensi sejarah ilmiah, foto studio di mana para pengunjung dapat menggunakan kostum pejuang, Teater Anak, dan juga souvenir shop.

4. Rumah Rengasdengklok
Rumah Rengasdengklok ini adalah salah satu gedung bersejarah Indonesia yang dulu dipakai sebagai tempat perundingan antara para pemuda yang dipimpin Soekarni dengan Soekarno – Muhammad Hatta untuk membahas kemerdekaan Indonesia. Rumah yang terbuat dari kayu jati bercat putih dan hijau ini dulunya adalah rumah seorang Tionghoa bernama Babah Djiaw Kie Siong dan berlokasi di Kampung Bojong Tugu, Kelurahan Rengasdengklok, Kecamatan Rengasdengklok. Kondisi Rumah Rengasdengklok ini masih dipertahankan apa adanya, persis seperti dahulu. Anda dapat melihat replika tempat tidur Bung Karno (tempat tidur yang asli ada di museum tentara di Bandung). Sampai hari ini, Rumah Rengasdengklok ini masih dirawat oleh keturunan keluarga Babah Djiaw Kie Siong. Anda tidak akan dipungut bayaran untuk mengunjungi Rumah Rengasdengklok ini dan hanya perlu untuk mengisi buku tamu.

5. Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) merupakan gedung yang dibangun sebagai monumen peristiwa proses perumusan naskah proklamasi kemerdekaan di Indonesia. Gedung ini terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, DKI Jakarta 10310. Dulunya merupakan tempat kediaman Laksamana Maeda. Gedung ini baru difungsikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi pada tahun 1992. Museum ini memiliki empat ruangan. Ruangan pertama adalah ruang tamu yang juga menjadi kantor Laksamana Maeda. Di ruangan inilah naskah proklamasi dirumuskan. Ruang kedua adalah ruang yang digunakan Soekarno-Hatta untuk rapat bersama yang lainnya pada pukul tiga subuh. Ruang ketiga adalah tempat di mana Soekarno-Hatta menandatangani naskah proklamasi. Sedangkan Ruang keempat adalah ruang pameran benda-benda yang dikenakan para tokoh yang hadir dalam perumusan naskah proklamasi. Di bagian belakang museum, Anda dapat melihat bunker rahasia seukuran 5 x 3 x 1,5 meter yang menjadi tempat Laksamana Maeda menyimpan barang-barang berharganya semasa ia menjabat menjadi kepala penghubung Angkatan Laut dan Darat Jepang.

6. Museum Kebangkitan Nasional
Dulunya bangunan ini adalah gedung sekolah STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arsten) dan mulai beroperasi sejak Maret 1902. STOVIA adalah sekolah kedokteran untuk pelajar pribumi dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, 5 tahun kemudian, gedung ini digunakan untuk MULO (setara SMP), AMS (setara SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker. Di Museum Kebangkitan Nasional, Anda dapat melihat ruang kelas dan laboratorium, asrama, tempat olah raga, kantin, dapur, dan aula. Museum ini juga menyimpan lebih dari 2.000 koleksi bangunan, mebel, jam dinding, gantungan lonceng, perlengkapan kesehatan, pakaian, senjata, foto, lukisan, patung, diorama, peta/maket/sketsa, dan miniatur. Anda juga dapat melihat instalasi seni seukuran manusia. Ada yang menggambarkan para pelajar STOVIA dengan pakaian semi tradisional. Ada juga instalasi seni RA Kartini yang mengajar anak-anak di pendopo rumah ayahnya. Museum ini sangat menarik untuk dikunjungi bersama anak-anak Anda. Jika hendak berkunjung, Museum ini terletak di Jalan Abdurrahman Saleh No.26, sebelum RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Sumber : Klikhotel.com/jawaban.com/ls

Ikuti Kami