Irfan Yusuf: Ku Korbankan Segalanya Demi Cinta

Irfan Yusuf: Ku Korbankan Segalanya Demi Cinta

Lori Official Writer
13585

Irfan Yusuf kala itu masih duduk di bangku satu SMA. Ia adalah anak muda yang hobi dengan balapan dan bengkel motor. Lewat teman sesama penyuka balapan, dia dikenalkan dengan seorang perempuan muda dan mulai menjalin hubungan berpacaran meski keduanya berbeda kota.

Demi cinta, Irfan kerap berkorban waktu menempuh jarak yang cukup jauh dari kota tempatnya tinggal di Ngawi menuju kediaman sang pacar di Solo. Ia juga bahkan harus mengumpulkan sejumlah duit agar rencana itu bisa terwujud, salah satunya dengan memanfaatkan bakat bengkel motor yang dimilikinya.   

“Sakin sayangnya kalau udah pengen ketemu, usahainlah cari duit dulu, bener-benerin motor. Ntar kalau udah terkumpul, saya jalan pergi ke Solo,” ucap Irfan.

Pada umumnya, gejolak asmara di usia muda memang akan membuat siapa saja mabuk kepayang. Cinta menjadi dasar dari segalanya sehingga mampu mengorbankan segalanya agar tidak kehilangan orang yang kita sayangi. Begitu juga dengan Irfan. Pertemuannya kali itu dengan pacarnya justru menjadi awal kejatuhannya dalam dosa seksual.

“Dia ngajakin hubungan badan, ya, mau nggak mau saya lakukan. Mungkin karena menunjukkan rasa sayang, lebih karena waktu itu nggak mau kehilangan dia”.

Rasa cinta yang semakin mendalam terhadap sang kekasih membuat Irfan menjadi lupa akan segalanya baik keluarga maupun teman-teman dekat sesama penyuka balapan motor. Rasa takut kehilangan membuatnya menjadi begitu overprotektif dan kerap kali mengekang setiap gerak gerik yang dilakukan sang pacar.

Perasaan itu yang kembali membuat Irfan menikmati gaya pacarannya yang tidak sehat itu. Berhubungan seksual layaknya suami istri bahkan telah dilakukan hingga berkali-kali. Baginya, hal terlarang yang sudah terlanjur terjadi itu biarlah terjadi karena toh dianggap sebagai wujud rasa sayang.

Namun sebagai laki-laki, Irfan tetap mengaku curiga terhadap sang pacar. Di satu sisi, dia mempertanyakan mengapa sang kekasih rela memberikan keperawanannya kepada laki-laki. “Sebenarnya kayak curiga sama dia. Kog ada ya perempuan yang memberikan keperawanannya. Sebodoh itukah dia. Curiga aja, apa mungkin dia udah pernah lakukan ini dengan banyak (laki-laki) orang lain. Atau memang dia (perempuan) nakal”.

Kecurigaan itu akhirnya terjawab setelah seorang pria yang tak dikenal menghubunginya dan membeberkan tentang kelakuan sang kekasih dibelakangnya. Dengan penuh kemarahan, Irfan mempertanyakan kebenaran itu. Bukannya mendapatkan kejelasan, malah Irfan diputuskan secara sepihak oleh sang pacar.

Irfan merasakan patah hati yang begitu dalam. Bukan hanya sekadar ditipu, tetapi juga pengorbanan yang dia lakukan selama itu berujung sia-sia. Dia kehilangan orang yang sudah jadi alasan baginya melakukan segalanya. “Pada waktu itu saya bingung, bagaimana jalan keluarnya ini. Saya tahu bahwa berhubungan badan sebelum menikah itu adalah sesuatu hal yang salah. Saya masih tetap melakukan itu, bahkan saya tahu saya bukan pria pertama buat dia. Saya masih tetap bisa menerima dia. Bahkan sampai saya pergi ke Solo, saya bekerja di Solo. Pengorbanan saya sia-sia,” terangnya.

Beberapa waktu lamanya, Irfan melewati kesedihan karena patah hati. Namun ibu, wanita yang kerap diabaikannya itu menjadi satu-satunya orang yang memberi semangat agar tetap kuat dan melupakan mantan kekasih. Tak lama kemudian, Irfan hijrah ke Jakarta dan berharap di sana kondisinya semakin membaik.

Alhasil, dia memang menemukan sesuatu yang mendorongnya untuk mengungkapkan segala masa lalunya yang buruk. “Di Jakarta ada kayak sebuah KKR. Ketika di ibadah itu kan kita dapat mentor satu-satu. Di situlah saya bisa terbuka semuanya. Saya bisa ceritain lagi tentang saya punya mantan pacar. Saya punya masa lalu yang buruk dengan dia. Saya pernah berhubungan badan dengan dia. Waktu itu dia cuman bilang: Keterbukaan adalah awal dari segalanya. Terbuka bukan di depan mentor, tetapi dihadapan Tuhan. Saya merasa seperti anak yang terhilang dan kembali lagi. Saat itu saya buat sebuah komitmen, saya berjanji saya tidak akan berhubungan badan lagi sebelum saya menikah”.

Dia lalu bertekat untuk segera membereskan masa lalunya itu dengan sang mantan. Sayangnya, alih-alih berniat baik untuk menyudahi segalanya, dia malah harus terjatuh lagi dengan dosa yang sama. Ia mengaku kala itu tidak bisa menguasai diri dan menahan perasaan sehingga kembali melakukan hubungan seksual dan melupakan komitmen yang pernah dia ucapkan di hadapan Tuhan. “Saya merasa menghianati Tuhan dengan janji-janji itu”.

Selepas kejadian itu, di luar dari apa yang dia pikirkan sesuatu pun terjadi. Kecelakaan yang cukup parah hampir merenggut nyawa Irfan. Kejadian itu menjadi titik balik baginya untuk berubah. “Mungkin Tuhan seperti mengingatkan: Janganlah cobai dirimu sendiri. Karena saya sadar saya juga masih lemah, ketika ketemu dengan dia bisa aja mengulang hal yang sama. Tinggal lihat orang tua yang selama ini menyayangi saya. Saya nggak pernah peduliin mereka. Dibandingkan saya menyayangi orang, dibandingkan saya melakukan sesuatu yang sebenarnya sia-sia”.

Sejak peristiwa itu, Irfan menyadari bahwa ketidaksungguhan kepada Tuhan membuatnya mudah terjatuh dan tergoda dengan tawaran dunia. Setelah berkomitmen untuk lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan, dia merasakan segalanya tampak ringan dan mudah, terutama saat dia mulai bisa mengontrol diri sendiri dari segala godaan yang ada. “Kesalahan yang paling fatal menurut saya adalah ketika saya mempertaruhkan iman saya hanya untuk sebuah cinta yang harusnya nggak saya lakukan”.

Masa lalu yang buruk itu pun membawa Irfan mencapai semua yang dia impikan, seperti mengembangkan hobi balapan motor dan menjadi berkat bagi keluarga. Taat kepada Tuhan, menurut Irfan, adalah perjalanan yang membuat kehidupannya menjadi lebih baik.

Sumber : Irfan Yusuf
Halaman :
1

Ikuti Kami