Alvis, Sang Preman yang Tak Jera Dipenjara

Family / 9 July 2015

Kalangan Sendiri

Alvis, Sang Preman yang Tak Jera Dipenjara

Lori Official Writer
9044
Kehilangan sosok ayah dan ibu sejak dari kecil membuat hidup Alvis menjadi tidak karuan. Sejak kecil ia tinggal bersama dengan sang om. Beranjak dewasa, kehidupan Alvis menjadi bebas dan membentuknya menjadi preman yang tak sungkan-sungkan menodong, memalak dan menjambret siapapun yang ia mau.

Alvis adalah sosok yang temperamental, keras dan emosional. Karena itu, ia tak segan-segan menghajar siapapun yang memancingnya marah. Hal itu membuat orang-orang di sekitar tempat tinggalnya ketakutan.

Saat melakukan aksinya, Alvis kerap mengancam korbannya untuk menyerahkan uang dalam jumlah yang ia minta. “Saya minta dengan ukuran yang saya minta, bukan yang dia kasih. Pada waktu itu saya baru mendapatkan uang dari hasil-hasil preman itu mendapatkan uang setiap bulannya dengan gampang,” tutur Alvis.

Berulang kali ia melakukan premanisme, berulang kali pula Alvis di jebloskan ke penjara. Tetapi hal itu tidak membuatnya jera dan berubah. Kejahatan Alvis semakin menjadi, ia tak lagi hanya menjadi preman, tetapi juga menjadi pengedar narkoba, tukang mabuk dan terjerumus dalam dunia malam.

“Waktu itu saya tinggal di bawah kali jodoh. Nah di situ saya pertama kali disuruh jual narkoba, yaitu berupa ganja untuk mencukupin kebutuhan. Karena pada waktu saya jalanin itu, saya orang yang happy (bahagia,red), maksudnya saya suka pesta pora, saya suka main perempuan, saya ngabisin duit beli narkoba. Pokoknya senang-senang”.

Sosok Alvis semakin dikenal banyak orang, bukan karena berperilaku baik   tetapi  justru karena tindakan kejahatannya. Sebagai pengedar narkoba yang sukses, Alvis juga dianggap sebagai ancaman bagi pengedar narkoba lainnya. Berulang kali ia dikeroyok oleh orang yang tak dikenal dan berulang kali ia harus kalah. Tak terima dengan kelemahan itu, Alvis berubah menjadi semakin bringas. Ia membalaskan dendam dengan membunuh orang yang pernah mengeroyoknya.

“Saya nggak pernah punya rasa kasihan, tapi saya punya rasa bagaimana saya itu harus menang,” terang Alvis.

“Saya dikasih kabar oleh teman saya, Vis yang loe tusuk itu mati. Trus gimana? Saya anggap remeh. Paling juga dihukum setahun dua tahun lah. Gampang itu mah”.

Alvis pun harus menanggung perbuatannya. Segerombol polisi mengegrebek Alvis dan menyeretnya ke penjara. Itu menjadi saat yang begitu lemah dalam hidup Alvis. Ia merasa tak berarti dan bukan siapa-siapa. “Di situlah saya merasa protes sama Tuhan. Saya katakan: Tuhan aku pernah dengar. Dulu aku adalah contoh yang mendengarkan firman Tuhan. Tetapi kenapa badanku bertato? Kenapa aku sekarang ditembak? Apakah ini orang yang mendengarkan firman Tuhan? Menyesal banget karena seakan-akan hidup itu nggak berarti. Kog hidup saya kayak sampah. Saya bilang ke Tuhan: Tuhan kalua hidup saya nggak berarti cabut saja nyawa saya,” kenang Alvis saat menghadapi keterpurukan itu.

Penjara adalah tempat dimana Alvis merenungkan kembali perjalanan hidupnya. Ia merasa kecewa pada keadaan, orang tua dan perbuatannya.  Ia ingin sekali berubah dan menjadi orang normal seperti yang lainnya. Hingga ia bertemu seseorang yang membawanya ke jalan  yang benar. Di dalam penjara Alvis pelan-pelan berubah dan menata dirinya menjadi pribadi yang baru.

“Jadi yang dulu saya jalanin sebelum saya mengenal Tuhan, itu hasilnya adalah sampah. Tapi setelah saya mengenal Tuhan, saya sangat bahagia. Tuhan bentuk saya yang tapinya orang yang tidak berarti menjadi berarti,” tandas Alvis.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku (Habakuk 3: 17-18). Ya, sekalipun kondisi Alvis seperti apapun juga, baginya Tuhan tetap setia.

Sumber : Alvis
Halaman :
1

Ikuti Kami