‘Mobil Tanpa Rem’

‘Mobil Tanpa Rem’

Theresia Karo Karo Official Writer
4309
Menghilangkan kendali dari hidup kita mungkin akan menjadi petualangan yang menggairahkan. Namun jangan salah, sebab di akhir kita akan menemukan tragedi. Sama seperti saat kita meniadakan rem pada mobil. Sejenak kita mungkin akan dipenuhi keberanian dan perasaan berdebar-debar, namun cedera adalah hal yang pasti menanti di depan.

Saat kita membuang penguasaan diri, maka dipastikan kita akan berubah menjadi ‘peluru kendali liar’ yang berujung bencana. Begitu pula dengan dosa, yang diam-diam menguasai diri kita. Sehingga kehidupan kita kelak menjadi mudah tergoncang, tidak pernah merasa aman, dan sering diperdaya iblis.

Seperti yang saat ini terjadi di tengah-tengah masyarakat dunia. Banyak orang yang mulai melonggarkan ‘tali’ penguasaan dirinya dan menjadikan
homoseksualitas sebagai ‘new normal’. Puluhan negara seakan mendukung dosa dengan melegalkan pernikahan sesama jenis sebagai hak asasi manusia.

Ketahuilah, bahwa Alkitab secara jelas menunjuk homoseksualitas sebagai dosa. Kejadian 19 menyatakan bagaimana Sodom dan Gomora menyerahkan diri dalam hubungan yang aneh, baik terhadap pria maupun wanita. “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit” (Kejadian 19:24). Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan melihat kejahatan atas homoseksualitas.

Kita semua mempunyai bidang-bidang yang mencobai kita lebih dari bidang-bidang lainnya, dan oleh sebab itu kita harus memberi diri kepada otoritas Roh Kudus. Biarkan Dia masuk dan memberi kita kuasa untuk menahan diri, sebelum kita melangkah untuk memuaskan dorongan hati atau hasrat diri.

Penguasaan diri begitu penting bagi setiap umat Allah, sehingga Dia mendaftarkannya sebagai salah satu buah roh. Untuk lidah, kita berlatih menahan perkataan. Dalam hal amarah, kita berlatih menahan emosi. Bila berkaitan dengan pikiran, kita berlatih pengendalian mental. Dan dalam nafsu seksual, kita berlatih pengendalian moral.

Maxie Dunham berkata, “Tujuan penguasaan diri adalah agar kita dapat sesuai bagi Allah, sesuai bagi diri kita sendiri, dan sesuai untuk menjadi pelayan bagi orang lain. Ini bukanlah praktik keagamaan yang kaku, semata-mata demi kepentingan disiplin. Ini bukanlah pekerjaan membosankan yang bertujuan melenyapkan tawa dan sukacita. Melainkan ini adalah pintu menuju sukacita sejati, kemerdekaan sejati dari perbudakan kepentingan diri dan ketakutan yang mencekik.”

Anda diberkati dengan artikel ini, yuk share artikel ini di Facebook-mu dan ajak teman-temanmu untuk re-share link artikelnya. Semakin banyak yang re-share, semakin keren hadiahnya. Keterangan lebih lanjut, KLIK DI SINI.

Sumber : The Strength of Character/Jawaban.com by tk

Ikuti Kami