Perhatikanlah Pergaulanmu!

Perhatikanlah Pergaulanmu!

Lori Official Writer
4358
Sebagai raja yang memiliki hikmat yang besar, Raja Salomo menuliskan tentang masalah pergaulan yang benar. Dalam Amsal 13 ayat 20 ia berkata, “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang”. Ucapan itu menjadi bentuk peringatan kepada kita bahwa dalam perjalanan hidup, pergailan berperan besar sebagai penentu datangnya kebaikan dan keburukan atas masing-masing orang.

Ya, teman bagaikan tombol lift yang dapat menjadi kontrol untuk naik atau turun. Rasul Paulus juga mengingatkan akan hal itu kepada jemaat di Korintus. Dalam 1 Korintus 15: 33 Paulus berkata, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”.  

Setiap orang diberi kebebasan untuk memilih antara bergaul dengan orang benar atau bergaul dengan orang yang buruk. Meskipun bukan berarti orang-orang buruk harus dikucilkan dan dianggap berdosa. Maksud dari peringatan itu adalah agar kita mempertimbangkan lingkungan yang kita tempati atau teman yang kita akrabi, khususnya bagi orang tua yang harus mempertimbangkan pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan anak-anak.

Tak sedikit dari orang-orang baik yang salah langkah karena salah menempatkan diri dalam sebuah lingkungan atau pergaulan. Orang yang menginfeksi lingkungannya menjadi buruk adalah mereka yang memiliki masalah dalam berbagai aspek kehidupannya. Salah satunya adalah alasan ingin menyenangkan diri sendiri atau memilih menghancurkan kehidupannya karena berbagi-bagai persoalan hidup.

Mereka yang memiliki kebiasaan buruk dan sesat dimaksudkan Salomo dan Paulus adalah mereka yang memiliki masalah dalam hal:

Kurang perhatian

Orang yang memiliki kebiasaan buruk biasanya adalah mereka yang tidak mendapat perhatian baik dari orang terdekat atau lingkungan. Sehingga mereka terbawa arus dan memilih untuk terjerumus dalam hal-hal negatif. Orang yang berlatar belakang serupa akan lebih rentan terpengaruh, sehingga ada baiknya untuk memiliki komunitas yang baik, misalnya kelompok kecil gereja atau persekutuan yang positif.

Penuh kekecewaan

Tipe orang seperti ini adalah mereka yang menanam akar kepahitan dalam hatinya dan sulit untuk mengampuni. Sehingga perkataannya akan cenderung lebih pahit dan mengandung hal-hal negatif. Mereka pun akan memilih untuk bergaul dengan orang-orang yang bertipe serupa.

Tidak punya tujuan hidup

Pada awalnya orang seperti ini merasa hidupnya hampa, tidak tau harus berbuat apa. Tidak memiliki tujuan dalam hidup yang jelas sehingga tidak melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Kebimbangan itupun membawa dirinya untuk mengisi kekosongan tersebut dengan kebiasaaan buruk, seperti jatuh dalam pesta pora, narkoba, dan mabuk-mabukan.

Merasa nyaman

Sukses dalam karir dan kehidupan terkadang akan membuat seseorang menjadi nyaman dan bingung untuk mengisi kehidupannya dengan sesuatu hal yang berbeda. Karena sudah terlalu berpikir nyaman, maka seseorang akan tampak menikmati saja kebiasaan bermalas-malasan. Dan tanpa disadari hal itu justru memberi dampak buruk bagi hidupnya. Mereka yang berpuas diri biasanya tidak akan mengalami kemajuan yang lebih baik dari yang seharusnya bisa dicapai.  

Dari berbagai faktor di atas, Tuhan menghendaki umat-nya yang telah menerima pembenaran dari Tuhan menyikapi pergaulan hidupnya. Sehingga kita tidak berada di dalam kungkungan penjara-penjara kekecewaan, tidak dikasihi, dan rasa nyaman yang melatarbelakangi kita untuk terjerumus dalam kebiasaan buruk itu.

Mereka yang menjaga pergaulan adalah mereka yang tahu bahwa Tuhan membenci dosa yang berasal dari hawa nafsu duniawi. Mereka adalah orang-orang yang merenungkan firman Tuhan siang dan malam, serta senantiasa berjaga-jaga dengan cara hidupnya. Sehingga hal itu tidak membuat seseorang diombang-ambingkan oleh godaan dunia yang mematikan.  

Dalam kitab Mazmur 1: 1 dan 2 dituliskan tentang konsekuensi dari hidup yang benar. “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam”.

Dengan bertekun dalam membangun hubungan dengan Tuhan, kita tidak akan menjadi serupa dengan dunia ini, namun beroleh pembaharuan budi diman kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang jadi kehendak dan bukan kehendak Tuhan (Roma 12:2).

Tuhan merindukan anak-anak-Nya hidup dalam kebenaran. Sehingga jangan remehkan pengaruh lingkungan, sebaliknya cermatlah dalam memilih mana yang baik dan buruk. Miliki pula komunitas yang mampu menjadi rumah untuk saling berbagi dan mendorong satu sama lain. Bukan mustahil bila komunitas yang Anda miliki bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang masih hidup dalam pergaulan yang buruk. 


Anda diberkati dengan artikel ini, yuk share artikel ini di Facebook-mu dan ajak teman-temanmu untuk re-share link artikelnya. Semakin banyak yang re-share, semakin keren hadiahnya. Keterangan lebih lanjut, KLIK DI SINI

Sumber : Berbagai Sumber/jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami