Ilmuwan Temukan Alasan Ilmiah Penyebab Kecanduan

Ilmuwan Temukan Alasan Ilmiah Penyebab Kecanduan

Lori Official Writer
4922
Masalah kecanduan mulai muncul ketika seseorang jatuh kedalam kebiasaan buruk seperti seks, perjudian dan penggunaan obat-obatan dan alkohol. Akibatnya, banyak dari pengguna menjadi semakin terikat dan mulai menganggu pekerjaan, kesehatan dan hubungan.

Pada awal 1930-an, pengguna yang kecanduan alkohol dan zat adiktif lainnya dipandang sebagai orang-orang yang memiliki karakter yang tidak baik. Hingga kemudian, para ilmuwan kembali melakukan penelitian untuk menemukan penyebab sesungguhnya dibalik kecanduan tersebut.

Dan secara mengejutkan, para ilmuwan menemukan bahwa kasus kecanduan berat terhadap alkohol, zat berbahaya dan perilaku tertentu disebabkan karena para pengkonsumsi mendapatkan kenyamanan dan bantuan untuk mengurangi rasa stress yang mereka alami. Alkohol, misalnya, bisa memberikan sensasi euforia dalam jangka pendek terutama ketika sedang menghadapi kecemasan dan depresi. Namun efeknya akan bersifat jangka panjang akan merusak kesehatan.

Saat seseorang sudah mengalami kecanduan berat, ia akan cenderung menikmati kenyamanan tersebut tanpa mencari tahu penyebab dan pengobatan yang benar.

Hasil penelitian ini didapatkan setelah menggunakan tikus sebagai bahan uji coba. Tikus dimasukkan ke dalam kandang dengan dua botol. Satu berisi air dan lainnya adalah air yang dicampur dengan kokain. Selama percobaan, peneliti menemukan tikus menjadi kecanduan dengan air campuran kokain, dan terus menerus datang kembali hingga akhirnya mati. Dan ditemukan, salah satu area dibagian otak dipengaruhi oleh alkohol.

Penelitian ini kemudian dikembangkan oleh Profesor Bruce Alexander dari Simon Fraser University. Ia menguji kembali hal tersebut dengan membuat Taman Tikus untuk mengetahui apakah faktor lingkungan juga dapat berperan serta dalam kecanduan.

Ia membagi tikus menjadi dua bagian, yaitu tikus yang diisolasi dan tikus yang bebas di taman yang lengkap dengan beragam mainan dan makanan, dan hasilnya sangat mengejutkan. Kedua kelompok ini diberikan dua botol dimana masing-masing berisi air dan air campuran kokain. Hasilnya, tikus yang terisolasi menjadi sangat kecanduan dengan air campuran kokain sementara tikus yang berkelompok di taman hampir tidak menyentuh botol.

Profesor Alexander lalu berkesimpulan bahwa manusia mungkin mirip dengan tikus. Ia menyimpulkan bahwa lingkungan dan kondisi psikologis seseorang dapat menentukan apakah seseorang akan menjadi pecandu atau tidak.

Menjadi pertanyaan besar, mengapa orang-orang yang menjalani pengobatan tidak menjadi kecanduan. Sementara mereka yang mengkonsumsi alkohol dan zat lainnya akan merasakan ketergantungan setiap waktu. Mungkinkah manusia memang benar-benar membutuhkan ikatan dan kasih sayang dari lingkungan yang peduli dan ramah? Hal ini kemudian dibuktikan dengan mengamati pengalaman para veteran Perang Vietnam.

Sebanyak 20 persen dari tentara adalah pecandu kokain dan heroin. Tteapi setelah mereka kembali ke negaranya dan berkumpul dengan keluar masing-masing, hampir 95 persen tentara yang kecanduan justru bisa kembali hidup normal. Hanya sedikit diantaranya yang memerlukan rehabilitasi. Seperti tikus dalam kandang, mereka tidak membutuhkan obat-obatan setelah mereka kembali ke lingkungan yang lebih aman dan peduli.

Hal ini mungkin serupa dengan tindakan dimana sejumlah negara, salah satunya Portugal, memutuskan untuk tidak menghukum pengguna narkoba, tetapi membantu mereka untuk sembuh dan kembali ke kehidupan normalnya. Sejumlah besar uang yang dihabiskan untuk mengangkap dan memenjarakan pengguna narkoba mungkin adalah cara lain yang dilakukan untuk membantu para pecandu dapat berhubungan kembali dengan masyarakat dan membantu menemukan tujuan hidup mereka kembali. Dengan kata lain, pemerintah turut serta membantu para pecandu untuk keluar dari kurungan atau kandang (ikatan adiktif) mereka.  

Sumber : Lifehack.org/jawaban.com/ls
Halaman :
1

Ikuti Kami