Pernyataan Ketua DPR di Gereja Tuai Kecaman

Pernyataan Ketua DPR di Gereja Tuai Kecaman

Theresia Karo Karo Official Writer
6309
Pernyataan Ketua DPR Setya Novanto terus menuai kecaman dari berbagai pihak. Dalam seminar yang bertajuk, “Mampukah NTT sebagai Pintu Gerbang Selatan Indonesia yang Sukses?”, dirinya menyatakan bahwa gereja dan masyarakat menghambat masuknya investor ke daerah yang kaya marmer, emas, dan pasir besi tersebut.

“Saat investor hendak mengelola potensi sumber daya alam, selalu ada penolakan dari LSM yang berlindung di bawah gereja. Karena itu, gereja sebagai elemen penting dalam pembangunan di NTT harus memberi pencerahan kepada masyarakat, termasuk LSM, agar menerima investor yang memiliki niat baik membangun daerah ini,” jelasnya di Gereja Koinonia, Kupang pada Kamis (26/2) yang lalu.

Menanggapi hal ini, lembaga swadaya masyarakat Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Tambang turut menyampaikan kecaman atas pernyataan ketua DPR tersebut. Pihaknya berpendapat bahwa pernyataan tersebut bertujuan untuk melindungi perusahaan tambang milik Novanto, yakni PT Laki Tangguh di Kabupaten Ngada, Flores, NTT.

“Kami menduga Novanto berupaya melindungi bisnisnya di bidang pertambangan di NTT,” ungkap Ketua Walhi NTT Herry Naif.

Sebelumnya, gereja dan masyarakat NTT juga marah dengan pernyataan tersebut. Ada anggapan bahwa Novanto tengah menuding gereja dan LSM yang menolak investor tambang di NTT sebagai penyebab kegagalan pembangunan dan kesejahteraan di daerah tersebut.

Untuk itu, Harry menuntut klarifikasi dan permintaan maaf
dari Novanto kepada gereja dan masyarakat NTT. Serta menarik kembali pernyataannya dan menghentikan aktivitas pertambangan perusahaan miliknya.

“Jika Novanto tidak memenuhi tuntutan kami, kami sebagai masyarakat NTT akan mengambil mandat yang telah diberikan kepada Novanto sebagai anggota DPR, serta menyatakan mosi tidak percaya dan menuntut Novanto mundur dari DPR RI yang mewakili NTT,” tegasnya.

Peneliti JPIC-OFM Valens Dulmin dan Direktur Kampanye Publik Jatam Umbu Wulang T. Paranggi mengungkapkan ada alasan mengapa gereja, LSM, hingga masyarakat menolak kehadiran tambang di NTT, yaitu dianggap sebagai perusak lingkungan, baik alam hingga sosial.

Valens mengatakan, “Tambang terbukti telah menimbulkan kerusakan lingkungan atau ekologis. Bahkan kebanyakan tambang di NTT dilakukan di daerah hutan lindung. Tambang juga dapat meracuni air bersih, menyebabkan polusi udara, merusak hutan dan lahan pertanian serta ekosistem alam.”

Hal yang berbeda diungkapkan oleh mantan Ketua Tim Perencanaan dan Program Novanto Center, Zet Malelak. Dirinya beranggapan bahwa Novanto sangat konsen dengan NTT, karena memiliki visi yang kuat tentang NTT.
 
Menurutnya, banyak investasi dan jasa yang telah dilakukan Setya Novanto di NTT. Diantaranya, pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan peternakan sapi di Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang.

Sumber : Beritasatu/Tempo.co by tk

Ikuti Kami