Deteksi Potensi Bullyers Pada Anak
Sumber: Google

Parenting / 27 February 2015

Kalangan Sendiri

Deteksi Potensi Bullyers Pada Anak

Theresia Karo Karo Official Writer
7046
Perilaku kekerasan yang berlangsung saat masa remaja sebenarnya dapat terlihat sejak mereka kecil. Psikolog anak dan keluarga Elizabeth Santosa MPsi mengungkapkan deteksi sejak dini dapat dilakukan dengan memperhatikan bagaimana cara anak dalam menghadapi masalah.

“Bila anak terlihat cepat frustasi saat menghadapi masalah dan berlaku kasar di rumah, maka orang tua harus berhati-hati. Karena hal ini menandakan adanya indikasi agresi pada anak,” ungkapnya.

Agresi adalah perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. Perilaku ini dapat dilakukan secara verbal atau fisik. Misalnya melempar-lempar barang atau melampiaskan amarahnya ke orang lain. Ini adalah satu dari sekian alasan yang menjadi penyebab anak melakukan kekerasan di lingkungan sosialnya di masa depan.

Selain itu, penelitian oleh Douglas Gentile dan Brad Bushman dalam Psychology of Popular Media Culture juga menyebutkan bahwa anak-anak yang terlihat baik, juga memiki risiko menjadi seorang pengganggu (bullying) dan memiliki perilaku agresi.

Menurut Gentile dan Bushman terdapat enam faktor yang menyebabkan anak menjadi pelaku bullying:

Kecenderungan Permusuhan
Dalam lingkungan sosial, seperti keluarga dan pertemanan permusuhan kerap tidak dapat terhindar. Saat anak dimusuhi, maka akan muncul perasaan dendam dan ingin membalas.

Minim Perhatian
Kurangnya perhatian dan kebersamaan orang tua adalah salah satu penyebab anak suka mencari perhatian dan pujian dari pihak luar. Pujian ini termasuk meraih kekuatan dan popularitas di luar rumah.

Sebagai Laki-Laki
Selama ini dalam tatanan masyarakat, selalu muncul pandangan bahwa laki-laki harus kuat dan tidak kalah dalam perkelahian. Image kuat inilah yang kerap membuat mereka berpikir bahwa mereka harus mendapat pengakuan 'lebih kuat' dibandingkan dengan teman lelakinya. Perilaku inilah yang memunculkan agresi secara fisik dalam dirinya.

Korban Kekerasan
Penyebab anak menjadi pelaku kekerasan atau bullying adalah karena dia sebelumnya adalah korban. Khususnya kekerasan yang dilakukan oleh orang tua. Mereka akan cenderung melampiaskan dendam kepada teman-temannya.

Ketagihan Berkelahi
Berkelahi dianggap sebagai bukti kekuatan. Pada sebagian kasus, hal ini tanpa di sadari menjadi ‘candu’. Candu untuk diakui atau memperoleh pujian.

‘Paparan’ Kekerasan dari Media
Media, termasuk televisi, video game, dan film banyak menyuguhkan aksi kekerasan. Kurangnya pengawasan dari orang tua inilah yang kemudian membuat anak penasaran untuk mencoba aksi kekerasan dalam dunia nyata. Menurut Gentile dan Bushman pengaruh media inilah yang paling banyak membuat anak berperilaku negatif dan terinspirasi melakukan kekerasan, sebesar 80 persen.

Oleh sebab itu, untuk generasi yang lebih baik kedepannya, diharapkan orang tua dapat mendeteksi perilaku agresi pada anak sejak dini. Menghentikan perilaku bullying bisa di mulai dari anda sebagai orang tua.

Sumber : Kompas/Jawaban.com by tk
Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Layanan Doa dan Bimbingan Rohani CBN Indonesia
Shalom 🙏
Terima kasih sudah mengunjungi kami.
Kami ada untuk mendengarkan, mendoakan, dan mendampingi perjalanan Anda.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?