9 Fakta Dibalik Kaitan Emosi dan Kondisi Tubuh (Part 1)

9 Fakta Dibalik Kaitan Emosi dan Kondisi Tubuh (Part 1)

Lori Official Writer
4179
Banyak orang yang memandang bahwa  kondisi emosi dan kondisi tubuh adalah dua kutub yang berlawanan dan mustahil untuk digabungkan. Namun, faktanya kedua hal ini ternyata saling terikat erat dan berkaitan. Intinya, bahwa emosi  bereaksi di tubuh dan tubuh bereaksi di pikiran.

Seperti ditulis oleh William Walker Atkinson dalam bukunya Mind & Body: Menjadi Dokter Bagi Diri Sendiri”, terdapat 9 fakta dibalik kaitan antara emosi dan kondisi tubuh.

1 Emosi dan kondisi tubuh saling membangun maupun meruntuhkan

Misalnya jika seseorang dengan kondisi mental yang positif, optimis, ceria dan semangat, tubuh akan merespon dan kondisi fisik akan membaik. Kondisi fisik meningkat, sehingga akan bereaksi atas kondisi mental yang memberi kekuatan lebih besar daripada sebelumnya. Saat seseorang mengalami depresi, kondisi emosi berbahaya akan bertindak atas kondisi tubuh, yang pada gilirannya akan bereaksi atas kondisi mental.

2. Pikiran yang sehat berada dalam tubuh yang sehat

Kondisi emosi atau kondisi fisik akan dipengaruhi oleh seluruh proses aksi dan reaksi. Sehingga apa pun yang merugikan akan saling mempengaruhi baik emosi maupun kondisi tubuh. Sederhananya, jika emosi tengah dalam kondisi yang tidak baik, maka pikiran pun akan ikut mengalami kerusakan.

3. Otak adalah pusat dari seluruh gerak tubuh

Seluruh sistem saraf, baik cerebro spinal, saraf simpatik, benar-benar di bawah kendali pikiran bawah sadar sejauh pengaruh pertumbuhan dan nutrisi yang bersangkutan. Rangsangan dari otak dan saraf pusat dikirim ke dalam pikiran, perasaan, emosi dan dipelihara oleh sistem simpatis.

Hal ini diibaratkan seperti pikiran menyedihkan yang menyebabkan organ berfungsi dengan tidak benar, sehingga fungsi yang tidak tepat dari organ tersebut cenderung menghasilkan pikiran yang menyedihkan atau depresi.

4. Nutrisi pada tubuh berkaitan erat dengan kondisi pikiran

Ketika nutrisi tersendat, kita menemukan bahwa gejala pertama dari masalah muncul di kepala. Otak gagal untuk menerima jumlah darah yang biasa, sehingga perlahan-lahan akan timbul masalah seperti gangguan memori, ketidakmampuan untuk berkonsentras, sulit tidur, gugup, depresi dan sakit kepala. Impuls yang dikirm ke seluruh tubuh menjadi lemah, dan berbagai organ tidak melalukan fungsi mereka sebagai suatu hal yang memuaskan seperti biasanya. Ketika nutrisi ke otak menurun, sistem otot keseluruhan, termasuk otot-otot perut menjadi lemah dan kondisi fisik akan melemah.

5. Kondisi mental yang tertekan menyebabkan menurunnya kondisi tubuh

Hati yang rusak, jiwa yang mengalami depresi, otak yang tidak sempurna, perhatian melemah, dan gangguan pikiran sangat berpengaruh pada kondisi tubuh. Perut tidak melakukan proses kegiatannya yang benar, kotoran dalam tubuh akan meracuni sirkulasi, dan otak tidak mampu berpikir jernih. Salah satu kondisi emosi yang paling berpengaruh adalah sikap gugup.

Sumber : Buku Mind & Body/jawaban.com/ls

Ikuti Kami