Pertobatan Ray Tambunan, Si Tukang Kritik

Pertobatan Ray Tambunan, Si Tukang Kritik

Tiurma Ida Purba Official Writer
5630

Latar belakang keluarga Ray Tambunan adalah perokok. Kisah itu masih teringat di pikiran Ray. Bapak, ibu dan adik laki-lakinya adalah seorang perokok. Sementara Ray termasuk orang yang tidak suka dengan perokok. Baginya perokok hanyalah orang yang merusak kesehatannya sendiri. Ketika itu Ray tidak berani untuk mengutarakan kritikannya pada orang tuanya. Maka dari itu, ketika ia bertemu dengan teman-temannya yang merokok, Ray tidak segan-segan untuk mengkritik temannya itu. “ Hey, merokok itu tidak baik”, ungkap Ray kepada temannya. Dimulai dari sinilah Ray tumbuh menjadi orang yang selalu melihat kekurangan orang lain. Tanpa ia sadari, sifat pengkritik itu tumbuh dalam dirinya.

Sampai suatu kali, Ray sedang mendengar orang yang sedang bernyanyi. Pendengaran Ray memang sangat baik, sehingga ia termasuk orang yang sangat peka. "Woi, Stop!Fals!”, kritik Ray. Karena selalu mengritik orang lain, tidak heran banyak yang tidak menyukainya. Jauh dilubuk hati Ray yang terdalam sesungguhnya Ray ingin orang lain berubah menjadi lebih baik. Namun, sifat Ray yang terlalu jujur  justru membuat banyak orang tersinggung.

Beranjak dewasa, Ray mengikuti sebuah ajang pencari bakat bernyanyi di negeri ini. Ketika Ray bernyanyi dan dikritik, akhirnya Ray merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang dikritiknya dulu. “ Ternyata di kritik itu tidak enak”, pungkasnya. Ray sudah memberikan yang terbaik dan dia pun pasrah untuk dikritik.

Hal yang membuatnya sangat sedih adalah ketika dia bersama dengan teman- temannya kontestan lain sedang membaca artikel yang sedang membahas ajang yang mereka ikuti. Komentar untuk Ray adalah “ membosankan”. Ray adalah orang membosankan, itulah kata-kata komentar saat itu. Bahkan, ada juga yang berkomentar bahwa Ray mirip Gorila. Ketika membaca komentar tersebut teman – temannya tertawa, dan Ray pun ikut tertawa. Padahal saat itu Ray merasakan hati yang hancur.  

Sejak saat itu Ray merasakan pertobatan sejati, dia menyadari dia harus berubah dari sifat pengkritik. Menurutnya, ketika ingin mengkritik orang lain, harus mencari waktu yang tepat. Ada tujuh kata luar biasa menurut Ray yaitu “ Tuhan ubah dia mulai dari diri saya”. Menurut Ray orang lain berubah bukan karena terpaksa, ketika setiap orang sadar perubahan itu dari dirinya, maka itulah perubahan yang menjadi teladan bagi orang lain.

Sumber : Ray Tambunan

Ikuti Kami