Joseph ?Joger? Sukses dengan Happines Oriented

Joseph ?Joger? Sukses dengan Happines Oriented

Theresia Karo Karo Official Writer
6758

Berlibur ke Bali akan terasa tidak lengkap kalau tidak mengunjungi pusat souvenir Joger. Buah tangan ini seakan menjadi bagian identitas dari Pulau Dewata. Toko yang terletak di Jalan Raya Kuta ini sangat terkenal sebagai pabrik kata-kata. Olahan kata-kata unik menjadi daya tarik tersendiri, bukan hanya wisatawan domestik termasuk wisatawan luar negeri yang mengincar karyanya. Owner Joger adalah pria kelahiran 9 September 1951,  Joseph Theodorus Wulianadi BAA, BSS (Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa), gelar ini dibuat sendiri oleh Pak Joseph.

Nama Joger ternyata berasal dari singkatan, suku kata “Jo” merupakan awalan dari nama pendirinya Joseph, sedangkan suku kata “Ger” adalah nama depan dari teman Pak Joseph yakni Mr.Gerhard Seeger. Pasalnya, dia adalah satu sumber dana pendirian toko Joger ini. Berupa hadiah pernikahan beliau dengan Ibu Ery Kusdarijati, yakni uang sebesar US$20.000.

Lelaki lulusan Sekolah Perhotelan Hotelfashule (D Spesier,Bad Wiesse) di Jerman Barat, ini sebelumnya pernah menjadi guide free lance bagi wisatawan asal Jerman di Bali. Pada tahun 1980, dengan modal Rp 500.000 Pak Joseph memulai usaha di bidang batik dan kerajinan dengan pemasaran door to door. Usaha ini lantas semakin berkembang selain itu dengan dukungan berbagai pihak, dibukalah toko pertama pada tahun 1980 di Jalan Sulawesi 37, Denpasar yang diberi nama “Art & Batik Shop Joger”. Tahun 1986 dia kembali membuka satu gerai baru di jalan Sulawesi 41 Denpasar. Kemudian berlanjut ke toko yang ketiga  yang diberi nama “Joger Handycraft Centre” di Jalan Raya Kuta.

Mengubah kata-kata yang sederhana menjadi kreatif dan inovatif. Istilah-istilah lewat kata-kata unik ternyata diterima oleh pasar. Dirinya memang bukan ahli bahasa, tetapi dengan keyakinan yang mendukung keberanian menyampaikan niat baik melalui karya “Joger Jelek.” Keberhasilannya tidak lantas membuatnya semakin bahagia. Lelaki kelahiran Denpasar ini memilih untuk menutup dua tokonya yang sangat menguntungkan. Dirinya ingin mengubah orientasi bisnisnya dari profit oriented menjadi happiness oriented. Beranjak dari inilah dia kemudian menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.

Filosofi Happiness Oriented, ini yang kemudian juga diterapkan dalam batasan jam kerja tokonya, yakni mulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 18.00. Joger saat ini sudah untuk mempatenkan usahanya mencegah plagiat. Salah satu yang menjadi faktor pendukung adalah lokasinya yang dekat dengan Bandara Internasional Ngurah Rai. Selain kaus, ada banyak souvenir lainnya seperti gelas, piring, sandal, dan masih banyak kreasi lainnya yang bisa di temukan di Joger.

Diusianya yang menginjak kepala enam, Mr.Joger masih terlihat awet muda. Hal ini didukung dengan sosoknya yang atraktif serta memiliki selera humor, yang diimbangi dengan sikap tegas, jujur, dan apa adanya. Salah satu faktor bisnisnya bertahan hingga saat ini adalah motto hidupnya. “Lebih baik sedikit tapi cukup, daripada banyak kurang.”

Usaha ini dijalankannya dengan kejujuran dan itikad baik. Hidup ini dianggapnya mudah karena Tuhan Maha Baik. Menurutnya kalau manusia berlaku rendah hati, hidup akan semakin indah. Saat ini selain mengellola Joger, dirinya juga diundang untuk menjadi pembicara di seminar-seminar. Selain itu, Pak Joseph juga bergerak di bidang sosial dengan mendirikan “Garing”. Yayasan yang menyantuni orang-orang yang belum mampu makan tiga piring nasi dalam sehari. Garing berjalan dari sumbangan yang diberikan berbagai pihak.

Inspirasi pebisnis handal yang tetap rendah hati ini dapat kita lihat di sosok Mr.Joger. Menurutnya, keberhasilannya berawal dari rasa percaya diri. Bila ingin percaya diri, terlebih dahulu mengembangkan setiap potensi yang ada di diri sendiri. Lewat pebisnis sukses ini, kita dapat belajar bahwa kebahagiaan tidak bisa diukur dengan harta.

Sumber : Bijak/Kisahsukses.info by tk
Halaman :
1

Ikuti Kami