Meresponi Ujian Hidup

Meresponi Ujian Hidup

Lori Official Writer
6463

“Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” ~ 1 Petrus 5:10

 

Adalah kisah dua wanita yang sama-sama menghadapi persoalan hidup. Wanita yang satu menghadapi masa-masa berat saat anaknya berusia 32 tahun bunuh diri, kehilangan ayah mertua dan suaminya di usia 40 tahun, kejadian itu hanya berselang beberapa bulan. Selama bertahun-tahun, ia dikenal mengalami banyak kesulitan hidup, termasuk kehilangan kedua orang tuaya serta gangguan kesehatan pribadinya.

 

Namun meskipun ia tidak mengerti mengapa segala ujian ini harus dialaminya, namun ia tidak menyalahkan Tuhan atau berpaling dari-Nya karena ia telah mengasihi Tuhan di seluruh kehidupannya. Ia mengetahui Tuhan ada bersama-Nya dan akan tetap ada untuk melewati cobaan ini.

 

Ia mengimani nats kitab Mazmur 63: 7-8, tertulis bahwa “Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai”.

 

Sementara wanita lainnya juga dikenal menghadapi hidup yang menyedihkan. Ia harus menunggu bertahun-tahun lamanya untuk menemukan ‘orang yang tepat’ yang hendak menikahinya, namun setelah berjuang keras pernikahan itu pun harus berakhir. Hampir sepenuh hidup kesendiriannya, sebagai wanita karir yang sempurna, dihabiskan untuk berjuang demi posisi, keamanan dan kelangsungan hidup. Namun ia tetap tak terlepas dari masalah fisik yang membuatnya sedikit tidak percaya diri, dan ia juga kehilangan kedua orang tuanya.

 

Berbeda dengan respon wanita yang satu ini, meski tampak mengalami persoalan yang sama namun ia secara khusus marah kepada Tuhan, ia bahkan mempertanyakan apakah dirinya masih ingin menyebut dirinya sebagai seorang Kristen. Meskipun ia tampak sangat mandiri namun ia merasa sendiri dan kesepian tanpa teman dan keluarga di sekitarnya. Ia tetap merasakan sakitnya ujian itu sementara waktu, hingga kemudian menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga menutup pintu jiwanya yang sakit.

 

Tak berbeda dengan kisah kedua wanita ini, kita juga pasti pernah mengalami ujian dalam kehidupan kita baik dalam jangka waktu yang panjang atau pendek. Namun Petrus berpesan agar kita tidak heran bila sewaktu-waktu ujian dan cobaan itu datang menghampiri kita. “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu” (1 Petrus 4: 12).

 

Oleh karena itu, diperlukan respon yang benar dalam menanggapi saat-saat menyedihkan dalam hidup kita, sebab respon yang benar akan membentuk karakter dan masa depan kita. Jika kita tidak meresponi dan menyembuhkan luka kita dengan sikap yang benar, maka hal itu akan sangat mempengaruhi tindakan dan hubungan kita baik kepada sesama maupun Tuhan. Baiklah kita menghadapi masa-masa ujian itu dengan terus berjalan melalui api bukan justru mencari jalan keluar lainnya, menyangkal diri dan tenggelam dalam kebiasaan buruk seperti minuman keras, emosional dan narkoba.

 

Ingatlah bahwa Tuhan sudah menjamin hidup kita, seperti janji pertolongan-Nya dalam 1 Petrus 5: 10 bahwa Allah akan meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan setiap orang yang menderita ujian dalam kehidupannya.


Baca Juga Artikel Lainnya:

Francesca Battistelli

 

Inilah Beragam Kiriman Ucapan Selamat Untuk Jokowi

 

Sri Hartati, Tinggalkan Pekerjaan Demi Selamatkan Anak Dari Narkoba

 

6 Tanda Anda Butuh Berhenti Bicara

 

Gereja Ortodoks Yunani Tampung Pengungsi Muslim Gaza

Sumber : Cbn.com/jawaban.co/ls
Halaman :
1

Ikuti Kami