Bayangan Politik Di Piala Dunia

Bayangan Politik Di Piala Dunia

Theresia Karo Karo Official Writer
2226

Perhelatan Piala Dunia sering dimanfaatkan menjadi ajang “promosi” bagi politisi. Presiden Brasil Dilma Roussef mendesak agar pemerintah dan warganya memisahkan masalah antara sepak bola dan politik.

Dirinya menghimpun dukungan untuk tim Piala Dunia semata-mata hanya untuk menyuarakan keluhan politik karena menurutnya sepak bola melampaui politik. Rousseff mengatakan, “pada saat itu, ada segmen (masyarakat) yang mengatakan, jika Anda mendukung (tim) Brasil maka Anda memperkuat kediktatoran”.

Hal ini bermula dari kehadiran Rousseff menonton laga pembukaan Piala Dunia 2014 antara Brasil dan Kroasia di Sao Paulo. Berakhir dengan hujan cemooh oleh para penyuka bola Brasil terhadap Rousseff. Kedatangannya dianggap sekedar pencitraan dan mengumpulkan dukungan karena Brasil akan mengadakan Pemilu pada Oktober 2014 mendatang.

Keadaannya hampir sama di Indonesia, selain euphoria Piala Dunia, media juga diramaikan dengan kampanye pasangan capres dalam cawapres menyambut Pilpres 9 Juli mendatang. Piala Dunia sendiri disiarkan secara langsung melalui dua televisi swasta nasional, yakni ANTV dan TVone. Sekedar informasi, pemilik kedua media ini juga bergabung dalam koalisi partai politik untuk mendukung salah satu calon pasangan capres dan cawapres. Para penggemar sepak bola di Indonesia khawatir bila momen Piala Dunia ini akan digunakan sebagai ajang kampanye.

Tetapi, kekhawatiran penggemar sepak bola ini mungkin tidak akan terwujud, pasalnya FIFA sendiri telah mengeluarkan status pada tahun 2011 tentang larangan diskriminasi apapun terhadap terhadap negara, orang atau kelompok berdasarkan etnis, jenis kelamin, agama, politik atau lainnya. Bila kampanye ini dilakukan, PSSI atau klub yang berada di bawah naungan PSSI bisa mengirim surat protes kepada FIFA untuk menindaklanjutinya.

 


Sumber : Kompas/Liputan6.com by tk
Halaman :
1

Ikuti Kami