Penderitaan Seorang Perempuan yang Kerap Disiksa Sang Ayah

Penderitaan Seorang Perempuan yang Kerap Disiksa Sang Ayah

Budhi Marpaung Official Writer
8106

Sejak kecil, Sri Ayu dan saudara-saudara perempuannya tidak pernah merasakan kasih dari seorang ayah. Saking kejamnya, ia dan seluruh anggota keluarga menganggap sang ayah adalah sosok yang mengerikan. Rasa takut senantiasa menyelimuti hati dan pikiran Ayu. Pasalnya, sekali saja ia ataupun kakak maupun adiknya berbuat kesalahan, amarah sang ayah pasti langsung bangkit.

Namun sekuat apapun ia dan saudara-saudara perempuan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan di depan mata sang ayah, tetapi tetap saja hal yang tak pas menurut pandangan sang ayah, ada saja terjadi. Salah satu yang tidak pernah ia lupakan adalah ketika sang ayah menyiksanya sampai kepalanya berdarah-darah.

Luka yang tergores di hati Ayu terus dibawanya sampai beranjak remaja. Oleh karena tindakan bengis yang kerap dialami ia dan keluarga, Ayu dan saudara-saudara perempuannya sepakat tidak bakal menikah karena mereka sudah membenci sekali pria.

Waktu pun terus berjalan. Sang ayah yang kejam itu pun pada akhirnya meninggal dunia. Meski sudah tiada, Ayu tidak merasa kehilangan, apalagi bersedih.

Hidup Ayu semakin terpuruk dalam kebencian. Di tengah penderitaannya, ia mengikuti sebuah ibadah. Di sanalah hatinya mulai menangis. Sebuah permohonan kepada Tuhan agar ia bisa mengampuni sang ayah pun ia panjatkan. Awalnya sulit ia melepaskan pengampunan, tetapi satu momen dimana ia merasakan kehangatan yang luar biasa dari Tuhan Yesus, di saat itulah ia bisa melakukannya.

“Ada pelukan kasih sayang. Aku yakin itu Yesus. Yesus memeluk aku dan membuat rasanya hangat sekali dan membuat batu kebencian itu lepas begitu aja.”

Jika waktu bisa diputar kembali, Ayu mengaku dirinya akan mendatangi sang ayah dan mengatakan kepada sang ayah, “‘Maafin aku ya pah, selama ini aku cuek. Maafin aku ya pah.”

Kini hidup Ayu sudah benar-benar merdeka dan ia bersyukur kepada Tuhan Yesus atas hal itu.  “Aku gak bisa ngomong kata-kata yang muluk-muluk, tapi aku cuma mau bilang, ‘Tuhan, aku sayang banget sama Tuhan. aku cinta sama Tuhan,” pungkasnya.

 

Sumber Kesaksian :

Sri Ayu

Sumber : V140401155514

Ikuti Kami