Kaya dari Memulung Sampah, Budiman Begitu Jaga Gengsi

Kaya dari Memulung Sampah, Budiman Begitu Jaga Gengsi

Lois Official Writer
7910

Budiman Ginting memanfaatkan Sofi untuk meraup keuntungan bagi kantong pribadinya. Sofi yang merupakan anak orang kaya di kampung mereka dan menjadi anak tunggal itu terus diperdaya Budiman sampai akhirnya orangtua Sofi mengetahuinya dan marah besar.

Budiman yang ternyata sudah mempunyai istri dan satu anak perempuan itu kemudian memutuskan hubungannya dengan sang istri, lalu mendatangi rumah Sofi untuk menyatakan kesediaannya menikahi Sofi setelah mereka melakukan hubungan intim.

Caci maki orangtua Sofi tentang kelicikan Budiman dalam memanfaatkan anak mereka untuk mendapatkan uang, begitu merasuk dalam hati Budiman. “Bisa dikatakan dia banyak uang, jadi uang itu dipakai untuk ‘mengecilkan’ saya, meremehkan saya. Maka dalam hati saya juga muncul hal seperti itu. Saya akan mencari uang dan ‘membesarkan’ diri saya dengan uang,” tutur Budiman Ginting.

Cinta mati-matian kepada Budiman, Sofi pun meninggalkan orangtuanya dan ikut Budiman pergi mengadu nasib. “Benar-benar saya merasa bersalah kepada orangtua saya. Tapi di sisi lain, saya sudah terlanjur cinta,” ujar Sofi.

Setelah resmi bercerai dengan istri pertamanya, Budi menikah dengan Sofi dan tinggal di pedalaman, mencari nafkah dari menebang pohon. Namun hasil yang diterima tak seberapa, sehingga seringkali keluarganya kelaparan. Biasanya Budi akan mencari makanan yang ada di sekitar hutan. Akhirnya dia temukan buah gambas, lalu dia pun cepat-cepat pulang karena istri dan anaknya lapar.

“Saya menangis, tapi inilah jalan yang harus saya tempuh. Inilah konsekuensi dari apa yang (telah) saya lakukan,” ujar Budi.

Akhirnya Budi ambil keputusan untuk memulung di kota. “Jadi saya mulai berjalan sejauh 20 km lebih,” ujar Budi. Hasil yang dia kumpulkan, dia jual dengan hasil yang lumayan. “Akhirnya saya sudah lebih percaya diri bahwa memulung ini bisa menjadi pekerjaan saya, profesi saya,” ujar Budi.

Suatu hari, ada seorang bos yang melihatnya memulung dan bertanya apa yang dia cari. Kebetulan si bos ini ingin mengumpulkan kaleng minuman sebanyak 1 ton setiap hari. Hal itu langsung disanggupi oleh Budi.

Maka untuk mencari kaleng-kaleng minuman itu, Budi pergi ke tempat-tempat lokalisasi, diskotik, dan sejenisnya. Dia juga mengajak pemulung lain agar mendapatkan target yang diinginkan si bos. Setiap bulan, mereka bisa mengumpulkan 25 ton atau Rp 25 juta.

“Saya seperti mendapat durian runtuh, karena saya bisa membeli apa saja (dengan hasil memulung tersebut). Ya, bagaimana supaya saya dilihat orang hebat.” ujar Budi.

Sebagian dari hasil tersebut, Sofi mengirimkan kepada orangtuanya sejumlah uang. Setidaknya, orangtuanya bisa melihat perubahan ekonomi dalam kehidupan anaknya.

Uang membuat kesombongan timbul dalam hati Budi. Jika yang datang adalah anggota gereja, maka dia tidak mau menemui mereka saat istrinya menelepon memintanya pulang. Menurutnya, yang dicari mereka pastilah ujung-ujungnya duit. Menurutnya, yang selevel dengan dia adalah gembala gereja.

Akhirnya, mertuanya pun datang. Mereka sudah merestui hubungan Budi dan Sofi dan ingin melakukan pesta pernikahan di kampung. Mereka pun akhirnya melakukan pesta adat. “Saya merasa bangga karena bisa membuktikan bahwa saya bisa, terutama kepada mertua yang dulu pernah merendahkan saya dan juga semua yang pernah merendahkan saya,” ujarnya.

Suatu hari, sesudah Budi mengambil uang dalam jumlah besar di bank, dia dikuntit oleh dua orang bermotor, dimana salah satunya membawa parang. Saat Budi terkejar, tanpa basa basi orang itu langsung mengeluarkan parang dan membacok kepalanya.

Bertubi-tubi dia dibacok. Tapi tiba-tiba ada sebuah mobil yang datang dan langsung pergi lagi saat si perampok yang menggunakan kendaraan beroda dua itu pergi sambil membawa hasil rampokannya. Budi hanya terbaring di jalan sampai ada orang yang membawanya ke rumah sakit. Sofi kemudian diberitahu.

Dua minggu setelah itu, Budi sudah melewati masa kritis dan ada keinginan untuk berubah. Dia sadar bahwa uang banyak dan nama besar tidak membuatnya lebih baik. “Lebih baik aku hidup sederhana saja, dan itu membuat aku lebih bahagia,” ujar Budi.

“Saya pikir uang ini bisa membuat saya bahagia. Tapi terbalik lagi, uang ini malah bisa membuat saya mati,” ujarnya lagi.

Kehidupan kedua yang diberikan Tuhan setelah bacokan di lima bagian tubuhnya itu, membuatnya menjadi orang yang berbeda. Dia menyumbang bagi pembangunan rumah ibadah dan juga mau ikut melayani. “Jadi hidup saya yang kedua ini, dari hati. Sepenuhnya saya akan berikan kepada Tuhan.”

Budi pun melayani teman seprofesinya agar menjadi manusia yang baru. “Ya, dimana di dunia kita merasa diri kita tidak berarti, dimana kita pikul-pikul karung, mungkin pengharapanpun seolah-olah tidak ada lagi. Tetapi oleh karena bimbingan dari Bapak ini, kami diajari untuk bisa mengenal Tuhan. Kami merasa diberkati. Tanpa sekolah, saya bisa dipakai oleh Tuhan. Mungkin saya satu-satunya pendeta di gereja Bethel ini dari 1.500 pendeta yang tidak tamat SD. Itulah mujizat bagi saya,” ujar Marikiano Sembiring, salah satu anak didik Budi.

Jika dulu Budi merasa sangat gengsi, dia sekarang tidak lagi. “Semua yang ada di dunia ini akan berlalu, kata firman Tuhan. Jadi saya pun berpikir ke sana. Semua yang kita kejar, semua yang ingin kita peroleh, sebenarnya itu adalah fana.” Ujar Budi.

Jadi, kejar dulu apa yang terpenting, seperti yang terungkap dalam Matius 6:33. Carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. “Bukan kita tidak perlu harta dan uang, itu perlu. Tapi harta yang datangnya dari Tuhan.” tegas Budi.

 

Sumber Kesaksian :

Budiman Ginting

Sumber : V140414155028

Ikuti Kami