Sang Pilot Jadi Bapa Anak Yatim

Sang Pilot Jadi Bapa Anak Yatim

Lori Official Writer
3571
Suatu hari di tahun 1999, seorang pilot yang berusia empat puluhan sedang makan malam bersama istri dan ketiga anaknya sambil menyaksikan tayangan televisi tentang kedatangan para pengungsi dari Timor-Timur ke Nusa Tenggara Timur (NTT) di kediamannya di Singapura. Terlihat para pengungsi tinggal di kardus-kardus, mengenakan pakaian usang, makanan seadanya dan sulitnya sanitasi.

Sang pilot pun tercegang dan menatap dalam-dalam sang istri. Tanpa kata, mereka seolah memikirkan hal yang sama bahwa mereka harus berbuat sesuatu untuk para pengungsi itu. Tak terpikirkan sebelumnya bahwa liburan yang telah mereka rencanakan akan berubah dalam bentuk yang lain. Mereka bersepakat mengalihkan liburan dengan melakukan aksi sosial ke NTT.

Siapa yang tak kenal dengan pilot senior Singapore Airlines Budi Soehardi, pria kelahiran Yogyakarta. Kondisi menyedihkan para pengungsi di NTT mampu menggetarkan hatinya. Bersama sang istri, Peggy Lakusa, mereka segera berangkat untuk melakukan aksi sosial seperti menyumbangkan pakaian, makanan dan persediaan lainnya dalam jumlah yang mencapai sekitar 40 ton.

Kondisi orang-orang yang sengsara di kamp-kamp pengungsian menyentuh hati Budi dan Peggy sekali lagi, sampai mereka berniat membangun panti asuhan bagi anak-anak korban konflik. Panti asuhan ‘Roslin Orphanage’ telah berdiri sejak tahun 2002 silam, dan sang pilot ini mulai menjadi bapa bagi anak-anak yatim piatu.

Awalnya, panti asuhan hanya menyediakan rumah bagi empat anak, lalu terus bertambah hingga saat ini. Tekat mereka untuk menjamin masa depan anak-anak tersebut dibuktikan dengan kemauan untuk belajar bertani di tanah tandus Kupang. Alhasil, tak ada pekerjaan sia-sia jika dikerjakan dengan hati. Hasil pertanian sukses menopang biaya hidup dan pendidikan anak-anak panti, apalagi sejak Budi tak lagi bekerja sebagai pilot saat itu. 

“Makanan dan biaya sekolah sangat sulit didapat. Para pengungsi ini menggerakkan hati saya. Saya mau mereka hidup lebih baik. Kami berani mengambil tantangan” kata Budi.

Rasa iba Budi terhadap anak-anak yatim piatu itu sesungguhnya digerakkan dengan pengalaman hidup yang dialaminya sejak kehilangan ayah di usia 9 tahun. “Membantu anak-anak ini adalah suatu kehormatan bagi saya dan istri saya karena itu memberi kepada masyarakat…memberikan kembali apa yang telah diberkati kepada kita,” ucapnya.

Benarlah firman Tuhan bahwa ‘Apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai (Galatia 6: 7)’. Pekerjaan kemanusiaan Budi Soehardi malah mendapat sorotan dari media luar, CNN. Budi terpilih sebagai 10 besar finalis dalam program tahunan CNN, Real Heroes, acara yang menyoroti dedikasi orang-orang luar biasa di seluruh dunia. Mewakili Indonesia Budi dianugerahi penghargaan Top 10 CNN Heroes pada tahun 2009 silam.

Sumber : Berbagai Sumber/jawaban.com/ls
Halaman :
1

Ikuti Kami