Teguran Mangkok Kayu

Teguran Mangkok Kayu

Theresia Karo Karo Official Writer
6107
Pada satu keluarga tinggallah seorang pria renta yang sudah cukup tua. Karena sudah tidak mampu mengurus dirinya sendiri, ia kemudian tinggal bersama anak lelakinya, menantunya perempuan dan cucunya yang berusia empat tahun.
 
Hari ke hari kondisi fisik kakek ini semakin lemah, matanya semakin rabun dan tangan yang sering bergetar. Semakin sulit baginya untuk melakukan aktifitas, bahkan untuk sekedar berjalan. Pada saat makan bersama di meja makan, tiba-tiba sendok kakek ini terjatuh ke lantai. Saat ia berusaha mengambilnya, dia lupa dengan susu yang dipegang oleh tanggannya, alhasil susu tumpah dan mengotori meja makan.

Melihat kekacauan yang dibuat orang tua ini, anak dan menantunya merasa jengkel. Menurut mereka, keduanya telah cukup sabar atas apa yang terjadi. Akhirnya mereka memutuskan agar makan terpisah dengan kakek tersebut. Keduanya mengatur sebuah meja kecil yang diletakkan di sudut ruangan, dan inilah yang menjadi tempat kakek ini makan sendirian. Makanan pun disajikan dalam mangkuk kayu dan air minumnya di tuang pada cangkir yang bukan kaca.

Kesedihan terlihat jelas di mata kakek ini, air mata terlihat menggantung di pelupuk matanya. Melihat hal itu, anak dan menantunya hanya menganggap lalu, bahkan si anak sempat memberi peringatan agar jangan ada peralatan makan yang jatuh. Keadaan ini terus berlangsung sama, hingga empat tahun kemudian.

Satu saat cucu si kakek ini kemudian terlihat sedang bermain di lantai dengan sebuah mangkuk kayu kecil. Iseng, sang ayah bertanya, “apa yang sedang kau kerjakan nak?” Anak kecil ini menjawabnya dengan, “oh, aku membuat mangkuk kecil untuk papa dan mama. Nanti akan kuberikan sebagai tempat makan papa dan papa ketika aku besar nanti.”

Merasa tertampar dengan jawaban polos anaknya, pasangan suami istri ini tidak mengucapkan apa-apa setelah itu. Hanya air mata yang terlihat mengalir deras sebagai ungkapan rasa bersalah atas tindakannya selama ini kepada orang tua mereka. Di malam yang sama sang anak kemudian memegang tangan ayahnya dan membawanya kembali untuk makan bersama di satu meja makan keluarga. Dia tidak lagi perduli tentang seberapa kotor nanti meja makan tersebut.

Kisah diatas menjadi gambaran jelas bahwa apa yang anda tabur saat ini, itu pula yang akan anda tabur di masa mendatang. Apa yang anda lakukan pada orangtua anda di masa tuanya, itulah yang akan anda rasakan di masa tua nanti. Untuk menghadapi orang tua memang dibutuhkan kesabaran ekstra. Tetapi ketahuilah, bahwa mereka yang mengajarkan anda hingga anda tahu bagaimana cara makan yang benar dan lain sebagainya. Ingat bahwa mereka juga melewati masa-masa sulit ketika membesarkan anda. Terlepas dari bagaimanapun kondisi hubungan anda dan orang tua, berikanlah yang terbaik sebisa anda. Kesempatan untuk merawat orang tua tidaklah banyak, dan penyesalan tidak ada gunanya. Selagi ada kesempatan berikan perhatian yang tulus bersama cinta dan kasih .

Sumber : Vemale/Jawaban.com by tk

Ikuti Kami