Seni Memuji Anak

Parenting / 18 September 2014

Kalangan Sendiri

Seni Memuji Anak

Theresia Karo Karo Official Writer
4025
Profesor psikologi Carol Dweck Ph.D, membuat penelitian tentang pujian bagi anak. Lewat studinya, ditemukan bahwa memuji terlalu sering ternyata menjadi “boomerang”. Sekilas tampak aneh, tetapi Carol yang juga penulis buku Mindset: The New Psychology of Success, mengungkapkan bahwa anak-anak yang dipuji karena kecerdasannya akan menjadi terlalu fokus pada keberhasilan.

Melalui risetnya yang dilakukan di Universitas Columbia, ditemukan bahwa anak-anak yang dipuji karena kecerdasan, apabila sekalinya salah dalam menjawab pertanyaan tes IQ (Intelligence Quotient), menyebabkan berkurangnya kegigihan dan semakin menurun kemampuannya dalam mengerjakan test berikut yang lebih mudah.

Bagi para orangtua, pujian adalah hal yang wajar diberikan bagi anak ketika mereka berhasil meraih sesuatu yang berdampak positif. Pujian ini sekaligus menjadi harapan untuk anak-anak terus berbuat baik dan mengalami peningkatan. Tetapi, pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat mengarahkan anak pada sisi negatif. Berikut, seni memuji anak di waktu yang tepat dan saat yang tepat:

Pujian Atas Usaha Anak
Menurut Carol, “Jika anda memuji anak-anak karena kecerdasannya, mereka akan obses dengan kesuksesan. Mereka takut dengan tantangan, karena mereka menyamakan kegagalan dengan kebodohan.” Hal yang berbeda ditunjukkan bila orangtua sadar dan memuji usaha anak, dampak yang terjadi sebaliknya. Anak-anak akan terdorong untuk berusaha keras dan meraih sasaran yang lebih tinggi dan menikmati keberhasilannya.

Pujian Yang Terinci dengan Tepat
Perlu diketahui bahwa tujuan utama memuji adalah untuk memberi dorongan bagi anak-anak untuk dapat berperilaku dengan baik. Ada baiknya orangtua untuk menjelaskan secara rinci tentang apa dan bagaimana mereka melakukan sesuatu yang baik, hal ini berpengaruh pada pengulangan perilaku positif tersebut di masa yang akan datang.

Pakar psikologi Richard Weissbourd, penulis The Parents We Mean to Be dalam penelitiannya mengungkapkan, penting untuk tidak memuji secara umum. Misalnya, “Kamu sudah berlatih mati-matian untuk pertandingan bola di sekolah.” Jelaskan secara tepat tindakan yang dilakukan anak, bukan perasaan orangtua. Sebutkan hal-hal yang dapat mempengaruhi perbaikan perilaku untuk meraih cita-citanya, seperti disiplin, kegigihan, kebaikan, kemurahan hati dan rasa hormat.

Tulus
Anak remaja dapat mendeteksi apakah pujian yang diberikan tulus dan tidak. Contohnya, “Sayang, kau baik sekali kepada nenek hari ini.” Yang muncul bisa jadi dia merasa sedang digurui. Akan berbeda situasainya bila anda mengatakan dengan sambil lalu bahwa anda melihatnya membantu nenek berjalan keluar kamar dan juga tanyakan pendapatnya tentang keadaan nenek.

Pujian Prestasi
Sehabis anak membuang sampah atau melipat baju, lantas orangtua memberikan pujian. Hal ini dirasa terlalu berlebihan, karena hal tersebut adalah bagian dari kewajiban dari kehidupan keluarga. Pujian ini dampaknya bahkan dapat merusak dan anak remaja kan berpikir bahwa, orangtua tidak sadar bahwa tugas tersebut sangat sederhana. Bisa juga anak akan merasa bahwa orangtuanya menganggap mereka rapuh, sehingga perlu dipuji untuk tugas rumah tangga. Keluarkanlah pujian untuk usaha yang patut dipuji.

Strategi Menahan Pujian
Hal ini akan membantu anak untuk membuat pilihan yang bijak. Dampaknya adalah timbulnya perasaaan puas yang menjadi upah tersendiri bagi usahanya. Percayakan anak untuk dapat menyadari bahwa tindakan mereka benar. Hal ini penting untuk membentuk anak, agar mereka tidak bergantung pada orang lain untuk merasa puas.

Bagi keluarga Indonesia yang ingin belajar cara membangun hubungan yang baik dalam keluarga, jangan sampai ketinggalan acara menarik One Day With Family. Ikuti talkshow interaktif bersama Elizabeth T. Santosa M.Psi (Psikolog anak dan keluarga)! Dengan tema, “Quality Time and Love Language”, yang akan berlangsung pada Minggu, 21 September 2014 di Main Atrium Mall Cilandak Town Square, Jakarta. Untuk lebih jelasnya klik DISINI.


Sumber : Keluarga/Parenting.co.id by tk
Halaman :
1

Ikuti Kami