Kenali Pihak Ketiga Dalam Pernikahan

Kenali Pihak Ketiga Dalam Pernikahan

Theresia Karo Karo Official Writer
8442

Pihak ketiga dalam pernikahan tidak melulu tentang pria idaman lain (PIL) atau wanita idaman lain (WIL). Bila ingin pernikahan lebih bahagia, maka pihak ketiga ini juga perlu diwaspadai. Mungkin terlihat sepele bila dibandingkan dengan masalah perselingkuhan, akan tetapi bila tidak segera diatasi maka hal ini berpotensi fatal dalam kehidupan pernikahan.

Hobi

Kesenangan, setiap orang biasanya memiliki hobi masing-masing. Kesenangan ini bahkan dibawa masing-masing pribadi setelah menikah. Tentu hal ini cukup wajar, karena setiap pasangan berhak melakukan kesenangannya sendiri di satu waktu. Pertanyaannya adalah, apa kita sudah menggunakan waktu yang wajar untuk “me time” tersebut? Kadang kala kesenangan ini justru menyita waktu, tenaga, hingga pendapatan keluarga. Maka saat inilah hobi berpotensi menjadi pihak ketiga yang dapat menghancurkan pernikahan.

Dalam skala prioritas, tetapkan kebahagiaan dan keberhasilan keluarga menjadi nomor satu dan letakkan hobi jauh di bawahnya, jangan sebaliknya. Baiknya, kita membicarakan mengenai hobi ini terhadap pasangan sehingga sebisa mungkin dapat terhindar dari konflik.

Karier

Pekerjaan tentu menjadi bagian penting dalam perekonomian keluarga. Tidak dapat dipungkiri bahwa karier yang bagus akan memberikan penghasilan dan fasilitas yang memadai. Tetapi ketahuilah kesibukan bekerja dapat menyita waktu kebersamaan anda bersama pasangan. Saat mengejar karir, ingatlah bahwa tidak selamanya materi menjadi patokan penentu kebahagiaan.

Memberikan waktu bersama orang yang disayangi dapat meningkatkan kualitas hubungan suami dan istri. Seperti yang dikatakan David O.McKay, “Tidak ada keberhasilan yang dapat menggantikan kegagalan di rumah tangga.”

Sahabat

Sebagai mahluk sosial pastinya kita membutuhkan kehadiran orang lain di luar pasangan, untuk bercerita dan berinteraksi. Kehadiran sahabat atau teman tidak terkecuali juga dibutuhkan mereka yang sudah menikah. Sesekali seorang istri atau suami memang memerlukan percakapan dengan sahabat. Namun berhati-hatilah, jangan sampai semua rahasia rumah tangga juga turut diceritakan.

Berbahaya bila teman kemudian menjadi tempat konseling dan malah menyebabkan anda lebih mendengar saran sahabat dibanding berbicara dengan pasangan. Karena posisinya sebagai sahabat kita, biasanya mereka tidak dapat memandang masalah secara subyektif.

Oleh sebab itu, akan lebih baik bila anda dapat saling terbuka dengan pasangan untuk menyelesaikannya bersama. Ketika sudah tidak dapat menemukan solusi dari masalah yang muncul, baru kemudian meminta pendapat pihak ketiga. Saran sebaiknya diperoleh dari pihak netral atau pihak profesional seperti penasihat perkawinan.

Sosial Media

Fungsinya adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain lewat jaringan internet. Gunakanlah kemajuan teknologi ini secara bijak. Sebaiknya jangan menggunakan media sosial sebagai ajang menulis masalah rumah tangga dan keluhan terhadap pasangan. Memang kita bebas menggunakan media sosial, akan tetapi etika juga dibutuhkan. Postingan di sosial media sama dengan berbicara kepada banyak orang.

Begitu juga dengan waktu penggunaannya, jangan menjadi candu sehingga mengurangi waktu berharga bersama pasangan. Waspada juga dengan kasus perselingkuhan, yang berawal dari sekedar bertukar sapa di media sosial. Lama-lama hal ini menjadi kebiasaan dan menyebabkan kita ingin mengenal lebih jauh, bahkan kemudian membandingkan dia dengan pasangan saat ini.

Contoh diatas adalah beberapa dari sekian banyak yang menjadi pihak ketiga dalam pernikahan. Akan jauh lebih baik bila anda terbuka dan jujur terhadap pasangan, sekalipun itu adalah masalah kecil. Selain itu, juga jangan lupa melakukan kebiasaan kecil, seperti menggandeng tangannya dan memeluknya, sehingga membuat pasangan merasa dicintai. Terakhir jangan lupa untuk tersenyum dan tertawa bersama untuk menjauhkan kita dan pasangan dari rasa jenuh.

Sumber : Keluarga/Kompas.com by tk

Ikuti Kami