Dampak Media Bagi Karakter Anak-1

Dampak Media Bagi Karakter Anak-1

Hevi Teri Official Writer
1157

Sejak era 70-an dengan ditampilkannya tayangan-tayangan film yang merupakan sarana media elektronik dari luar negeri seperti Jepang, Hongkong, Taiwan juga Amerika dan lain sebagainya, banyaklah anak yang hidup di era itu terkena dampak media tersebut.

Kemajuan teknologi secara progresif semakin menjadi sarana hiburan juga bagi banyak keluarga yang hidup di kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan lain-lain.

Lain di era 70-an lain pula di era setiap 10 tahun selanjutnya, tayangan-tayangan media elektronik yang semakin canggih cara shootingnya dan yang mampu menarik perhatian anak-anak di setiap era yang berbeda, jika di era 70-an atau 80-an hanya film-film dari luar negeri saja yang menjadi sarana media yang membawa pengaruh bagi karakter anak, mendekati abad 20 dan 21 film-film dari dalam negeri pun membawa pengaruh yang hampir sama bagi karakter anak, karena banyak anak yang meniru aksi atau gerakan yang ditayangkan film tersebut. Namun, di era abad 20 dan 21 ini bertambah pula dengan adanya PS (Play Station), Video Games, Internet dan masih banyak lagi, mungkin pembaca "Telaga" bertanya apanya dari media elektronik yang dapat membawa dampak buruk bagi karakter anak-anak kita?

Sebelum menjawab hal-hal di atas, saya masih akan menguraikan dampak-dampak lain dari media bagi karakter anak-anak kita.

I . Media Elektronik (televisi, play station,video games dan internet).

Di bagian ini saya akan menjelaskan bahwa media elektronik berbentuk apa pun hanyalah menjadi sarana orang atau lembaga tertentu yang memiliki visi tertentu untuk menyampaikan pemikiran mereka dan memberi pengaruh tertentu pada generasi berikut yang dapat dipengaruhi mereka.

Marilah kita pikirkan dengan saksama, bahwa setiap sarana media yang menjadi sarana komunikasi yang membutuhkan investasi dana yang tidak sedikit, investor tentu menghendaki untuk meraih keuntungan bagi dirinya, bentuk keuntungan selain dalam bentuk dana juga bisa merupakan potensi seseorang di masa depan.

Seperti sebuah cerita dongeng yang cukup ternama yaitu Cinderella sebagai gadis miskin yang tertindas, yang menjadi korban dari ibu tiri yang kejam.

  • Tanpa bantuan Disney, Perrault mendapatkan ide mengenai sepatu kaca, kereta labu dan konsep bahwa Cinderella harus meninggalkan pesta pada tengah malam ketika semua pakaian ajaibnya menjadi kain buruk. Perrault tidak hanya membumbui cerita itu dengan khayalannya sendiri, ia juga mengabaikan beberapa hal penting yang ada di dalam cerita rakyat asalnya. Dalam versi cerita rakyat, tokoh tersebut biasanya dibantu oleh ibunya yang sudah meninggal atau wakil yang dikirim oleh ibunya dan sang pangeran membawa pengantin yang salah, yang terbongkar oleh seekor burung. Dan dalam banyak versi cerita rakyat, Cinderella mendapat bantuan gaib dari seekor binatang peliharaan - seekor sapi atau seekor domba - yang sering kali merupakan reinkarnasi dari ibunya yang sudah meninggal. Perrault mengubah ini menjadi peri pelindung, suatu konsep setengah Kristen, setengah kafir yang dirangkul oleh Disney untuk karyanya. (1)

 

Bersambung ...

by. Yusak Timothy, M.Th (TELAGA.org)

Sumber : google
Halaman :
1

Ikuti Kami