Musa Hukubun, Ajaran Keras Membawaku Pada Kehidupan

Musa Hukubun, Ajaran Keras Membawaku Pada Kehidupan

Theresia Karo Karo Official Writer
6857

Kesulitan ekonomi yang menyebabkan Musa Hukubun sempat dititipkan ke rumah saudara, yakni om dan tantenya. Saat diantar oleh orangtua, Musa tidak merasa kehilangan dengan kepergiannya. Dia merasa nyaman ditempatkan di rumah saudaranya. Awalnya Musa sangat disayangi oleh saudaranya, bahkan om-nya meminta Musa untuk memanggilnya Papi. Onna sepupu Musa menceritakan, “apapun yang papi bawa dari kantor pasti semua diberikan dulu ke Pak musa.”

Satu saat perlakuan yang berbeda diterimanya. Musa mendapat tugas untuk menyemir sepatu Papi sebelum berangkat ke kantor. Karena baru pertama kali, hasilnya tidak terlalu bersih. “Saat papi melihat sepatu ini engga bersih, saya ditendang, rasanya sangat sakit. Karena sakitnya, saya sampai menangis.” Bukan hanya sekali, tetapi beberapa kesempatan masalah kecil membuatnya harus menerima pukulan. Dirinya tidak merasa dendam tetapi lebih ke takut. Pernah satu kali Musa disuruh untuk memijit kaki papinya. “Kalau mijit om, saya harus memijit sampe om tertidur pulas. Walaupun ngantuk, saya merasa nyaman. Karena hanya dengan memijit saya bisa dekat dan menyentuh om.”

Saat kecil Musa sudah mengenal rokok. Menurutnya, kesenangannya hanya itu saja. Saat pulang kemalaman, sontak dia kaget melihat papi di ruang depan. Kegugupannya terbukti, karena bau rokok melekat ditubuhnya dan papi mencium bau rokok. Ketahuan, papi menaruh rokok itu di mulut Musa dan menyuruhnya untuk menghisap rokok.

“Ini sudah keterlaluan, hanya saya enggak bisa mengungkapkan.” Besoknya Musa memutuskan untuk tidak sekolah. “Saya ingin kembali ke rumah orangtua saya. Pokoknya apapun yang terjadi saya harus pulang.” Satu sisi dirinya merasa senang, satu sisi merasa menderita dengan kondisi orangtua yang berkekurangan.

Saat di rumah orangtua kandungnya, Musa jarang pulang. “Sekitar 2-3 hari baru saya pulang.” Dia menginap di rumah teman SMP. Kurangya pengawasan dari orangtua, membuat Musa hidup bebas hingga dia dewasa. Kebebasan ini mengenalkannya pada kehidupan malam, perzinahan, dan mabuk. Dia juga pernah bekerja sebagai penghubung untuk menyalurkan “pelayan” wanita. “Temen-temen suka pake saya sebagai jembatan buat menjual wanita.” 

Dalam keluarganya, sudah menjadi kebiasaan untuk berkumpul saat malam tahun baru dan berbicara banyak hal. “Papa sempat berkata, kalau umurnya tidak lama lagi. Papa juga menceritakan bahwa meski hidup keluarga selalu susah, anak-anak harus bisa mandiri dan dewasa.” Omongan ini layaknya pesan terakhir bagi Musa dan seperti menegurnya untuk bisa menentukan mana yang benar dan yang tidak. Lewat omongan papanya, Musa bertekad untuk berubah.

Musa memberanikan diri menemui pendeta dan mengungkapkan  keinginannya untuk bertobat. “Sesukanya pendeta itulah ngomong, dan apa yang dikatakannya tepat dengan  semua yang pernah saya lakukan. Ya itu perzinahan, rokok, narkoba, dan mabuk.” Dia mengaku salah dan mengaku ada sakit hati yang selama ini dipendam terhadap om dan tantenya.

Pendeta menuntunnya agar dia mengampuni saudaranya. “Ketika mengeluarkan pengampunan, saya merasa damai banget. Karena ada sesuatu yang dikeluarkan. Ada sesuatu yang dikuras habis dan saya merasakan Yesus masuk.ke hati.” Dia tidak lagi merasa sakit hati, melainkan merasa lega dan damai. Pendeta tersebut kemudian mengatakan agar dia menyalami setiap orang saat dia pulang ke rumah dan meninggalkan semua kelakuan buruknya.

Hal tersebut dilaksanakannya, hingga dia bertemu dengan papi yang kebetulan sedang terbaring di rumah sakit. Musa memberanikan diri untuk bertemu dan menyentuh papi. Saat dia menyentuh kepala papinya, hal ini lantas menimbulkan haru dan membuat air matanya tumpah. “Dia bapakku,dia papiku yang membina aku dulu.” Musa sangat senang bisa kembali merasakan kedekatan bersama papi. Momen ini yang tidak akan bisa dilupakannya, saat dia mengetahui bahwa papi mengasihinya. Ajaran keras yang diterimanya dulu tidak lagi menjadi luka di hati.

Saat ini Musa fokus melayani orang-orang dipenjara. Kegiatannya lebih banyak memberi konseling dan membimbing anak-anak bermasalah. “Mereka kehilangan figur orang yang mereka cintai, dalam hal ini seorang bapak.” Baginya Yesus adalah sosok maha tahu. “Dia yang tahu hati saya, Dia penyelamat, Dia Bapak saya. Yesus itu segala-galanya dan Dia the best.”

Jika anda mengalami masalah serupa dan membutuhkan bantuan doa atau konseling, bisa langsung hubungi nomor Solusi: 081.708.317.017 dan 899-21345. Atau bisa juga dengan menghubungi link Di Sini

 

Sumber Kesaksian:

Musa Hukubun


Sumber : V140813090310

Ikuti Kami