Kampanye Hitam Dibuat Karena Sulit Temukan Kelemahan Jokowi

Nasional / 6 July 2014

Kalangan Sendiri

Kampanye Hitam Dibuat Karena Sulit Temukan Kelemahan Jokowi

Yenny Kartika Official Writer
4002

Beredarnya Tabloid Obor Rakyat yang menyajikan artikel-artikel untuk menjatuhkah Joko Widodo, calon presiden (capres) nomor urut 2, adalah salah satu bentuk kampanye hitam atau black campaign. Jokowi dan rekannya cawapres Jusuf Kalla rupanya memang lebih sering menjadi sasaran empuk kampanye hitam dibandingkan kubu capres-cawapres nomor urut 1, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Situs penjaring percakapan di media sosial Politicawave mengungkapkan, Jokowi-JK menjadi sasaran kampanye hitam sebesar 94,9 persen dan kampanye negatif sebesar 5,1 persen. Sementara Prabowo-Hatta mendapat 13,5 persen kampanye hitam dan 86,5 persen kampanye negatif.

Meski keduanya sama-sama terkesan buruk, kampanye hitam (black campaign) berbeda dengan kampanye negatif (negative campaign). Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia Agung Suprio, kampanye hitam berisi tuduhan yang cenderung fitnah dan tidak berdasarkan fakta. Sementara kampanye negatif berarti mengungkapkan fakta kekurangan calon atau partai.

Ditambahkan Agung, kampanye hitam dapat merusak demokrasi, sementara kampanye negatif merupakan penyampaian fakta secara jujur dan relevan tentang kekurangan suatu calon atau partai.

Menurut Yose Rizal dari tim media sosial Jokowi-JK, pasangan nomor urut 2 ini kerap menerima kampanye hitam lantaran kekurangannya sulit ditemukan.

“Sulit untuk mencari kelemahan Pak Jokowi, jadi dibuatlah kampanye hitam tersebut,” jelas Yose. Kampanye hitam yang dimaksud salah satunya adalah isu yang menyerang SARA yang termuat dalam sebuah tabloid.

Untuk mengatasi hal ini, kata Yose, dilakukan pembagian tabloid yang mengungkap kebenaran dan menyanggah isi tabloid Obor Rakyat dan melalui keterlibatan relawan di media sosial untuk meluruskan.

Sumber : BBC | Tribun News | yk
Halaman :
1

Ikuti Kami