Pakistan, Kehormatan Keluarga Sebanding Dengan Nyawa

Pakistan, Kehormatan Keluarga Sebanding Dengan Nyawa

Theresia Karo Karo Official Writer
2618

Banyak keluarga Pakistan menilai wanita yang menikahi pria pilihannya sebagai tindakan yang mencoreng nama baik keluarga. Demi menjaga kehormatan tersebut keluarga kadang sampai membunuh pelaku yang dianggap memalukan. Hal ini disebut dengan istilah pembunuhan terhormat.

Farzana Parveen bermasalah dengan keluarganya akibat menolak untuk dijodohkan. Sebelumnya, Farzana sudah ditunangkan dengan pilihan keluarga, tetapi akhirnya memilih untuk menikahi pria yang dicintainya, Iqbal.

Keluarga tidak tinggal diam dan mengajukan tuntutan ke pengadilan dengan tuduhan Iqbal telah menculik Farzana. Pada 27 Mei 2014 kemarin Iqbal datang bersama Farzana untuk menghadiri sidang. Selagi Pengadilan Kota Lahore belum dibuka, Farzana menunggu di luar. Tiba-tiba sekelompok orang menyerang Farzana menggunakan tongkat dan batu bata. Pelaku penyerangan termasuk keluarganya sendiri, yakni ayah, mantan tunangan, dan dua saudara laki-lakinya. Wanita 25 tahun ini mengalami luka berat di kepala dan dinyatakan meninggal di rumah sakit.

Berita yang dilansir dari Liputan6.com Perwira Polisi Senior Umar Cheema menjelaskan bahwa setelah aksi pelemparan itu berakhir, hampir semua pelaku kabur, hanya tinggal ayah Farzana yang berada ditempat. Umar Cheema mengatakan, "kata dia, ia melakukannya demi kehormatan keluarga. Warga di sini menanggap bahwa wanita yang menikahi pria pilihannya justru menjatuhkan martabat keluarga."

Menurut kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Aurat Foundation, dalam setahun  jumlah perempuan yang dibunuh dengan alasan kehormatan oleh keluarganya sendiri mencapai 1000 orang, tetapi kemungkinan korbannya lebih dari itu.

Hukum Pakistan sendiri menyatakan pembunuh bisa bebas bila keluarga korban memaafkan. Hal ini yang menjadi kesempatan bagi keluarga untuk tetap melakukan pembunuhan terhormat. Hanya beberapa kasus yang dibawa kepengadilan, bahkan untuk disidangkan harus menunggu bertahun-tahun. Budaya yang brutal dan negatif seharusnya tidak diteruskan pada generasi berikutnya. Masyarakat harus lebih dapat menghargai HAM.

 

 

Baca juga: 

Deklarasi, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Sama-sama Pakai Baju Putih

Piala Dunia 2014: Profil Timnas Ekuador

Siapakah Mentor Anda?

Cara Mudah Melekatkan Hubungan Dengan Anak

Sovereign, Album Terbaru Michael W. Smith yang Penuh Resiko


 

Sumber : Tempo/Liputan6 by tk

Ikuti Kami