Brian Morgan, Sukses Membangun Wisata Petualangan

Career / 21 May 2014

Kalangan Sendiri

Brian Morgan, Sukses Membangun Wisata Petualangan

Puji Astuti Official Writer
2361

Bermula dari petualangannya sendiri saat mengunjungi Ekuador di tahun 1998, Brian Morgan tidak pernah memperkirakan akan sukses membangun sebuah usaha di dunia pariwisata atau lebih dikenal wisata petualangan.

Setelah melakukan perjalanan backpacking menjelahi Bolivia dan Peru, Morgan akhirnya pulang ke Missoula, Amerika. Rindu kembali mengunjungi negara-negara eksotik di lintasan katulistiwa, Morgan berharap mendapat pekerjaan yang bisa mendukung kecintaannya untuk berwisata, saat itulah muncul ide untuk memulai usaha traveling.

"Saya pikir saya bisa mengumpulkan sekelompok orang dan beberapa kali setahun membawa mereka ke Ekuador - menunjukkan kepada mereka hal-hal spektakular yang saya temukan disana," demikian ungkapnya.

Pada awal usahanya yang diberi nama "Adventure Life", Morgan memimpin langsung perjalanan, beberapa malam mereka tinggal di hotel mewah, namun di hari lain mereka akan berada di pedesaan bahkan berkemah di hutan. Dia memulai dengan beberapa ribu dolar tabungannya dan mencetak 200 lembar brosur. Walau di awal cukup sulit, namun ditahun pertama setelah meluncurkan website dan juga dua kali membuat brosur ia berhasil mendapatkan 100 orang klien.

Saat ini, Adventure Life setiap tahunnya melayani 3000 orang, mereka membawa pengunjung menjelajahi reruntuhan Inca di Peru, menghadiri festival Tango di Nuenos Aires, menikmati cuaca ekstrim di Antartika hingga tour ke kebun anggur di Chili.

Namun semua kesuksesan itu tidak terwujud dalam waktu singkat, Morgan menyatakan, "Setelah tiga tahun pertama, saya baru bisa melihat ada peningkatan. Kami akhirnya mendapatkan ungtung dan saya bisa melihat bahwa dibutuhkan penambahan staf dua kali lipat dalam 18 bulan kedepannya. Itu membutuhkan beberapa thaun, tetapi kami berhasil melewati tahapan itu."

Brian Morgan menekankan bahwa untuk berhasil dalam industri ini, proses menjadi kata kuncinya. Dari awal dia fokus untuk membangun model dan menciptakan proses yang di duplikasi. Saat ia mulai mempekerjakan karyawan pertamanya, ia membuat dokumen setebal 10 halaman yang memberikan tuntunan apa saja yang harus dilakukan dan langkah-langkahnya. Hal ini kemudia ia terus kembangkan hingga karyawan itu bisa melatih kembali karyawan yang baru dengan cara yang sama.

Sumber : Inc.com | Businessinfoguide.com | Puji Astuti
Halaman :
1

Ikuti Kami