Mengapa Anak  Memberontak

Mengapa Anak Memberontak

Zakarias Feoh Official Writer
2018

Apa respon saudara ketika mendengar kata memberontak, atau saudara sendiri dicap sebagai pemberontak.  Tentu semua orang tidak mau disebut sebagai pemberontak, karena pemberontak selalu dimengerti dalam konotasi yg negatife.  Pertanyaannya, mengapa orang memberontak? Mengapa seorang anak memberontak pada orang tuannya ?  

Salah satu misteri dalam membesarkan anak adalah, tidak selalu apa yang ingin kita tanamkan, dapat diterima anak dengan baik dan tepat. Mungkin kita tidak menyampaikannya secara tepat sehingga anak tidak dapat menerimanya dengan baik. Kadang-kadang anak memang sulit untuk menerimanya oleh karena ia sudah memiliki keinginan yang berbeda. Kalau tidak mendapat penjelasan yg memadai, maka bisa saja timbul pemberontakan. Namun ada banyak  alasan lain, mengapa seorang anak menjadi memberontak terhadap orang tuannya.  Ada beberapa hal yg menjadi alasan seorang anak menjadi pemberontak bagi orang tuannya.

1.   Konflik orang tua yg berkepanjangan.  Pertengkaran yg tidak pernah diselesaiakan oleh orang tua, akan menimbulkan ketegangan dan kemarahan pada anak yg membuat anak menjadi pemberontak.

2.    Anak menjadi korban pelampiasan.  Banyak orang tua yg menghadapi masalah dalam pernikahan, pekerjaan yg belum terselesaikan, seringkali melampiaskan amarahnya pada anak-anak. Tentu anak bukan saja tersiksa tetapi iapun akan menjadi marah karena merasa menjadi korban ketidakadilan.  Akhirnya ia memilih memberotank atau melawan. 

3.   Anak menjadi obyek kemenangan.  Akibat keretakan relasi antara ayah dan ibu, maka seringkali anak dijadikan obyek keberpihakan.  Membela ayah  atau ibu ?  akhirnya pemberontakan menjadi pilihan untuk melepasakan diri dari persoalan tersebut. 

4.  Tanggungjawab yg tidak semestinya. Kadang-kadang anak dibebani dengan tuntutan yg berlebihan, yang melampui kekuatannya. Mungkin orang tua ingin agar anak bisa mengoptimalkan potensinnya.  Tetapi anak sendiri tidak siap dan belum mampu untuk melakukan harapan orang tuannya. 

5.   Ada konflik antara anak dan orang tua yang tidak terselesaikan.  Konflik ini bisa saja diawali dengan hal yg sepele, misalkan orang tua tidak pernah meminta maaf kepada anak  waktu bertindak tidak sesuai aturan yg dibuat.  Akan tetapi waktu anak melanggar maka anak diharuskan untuk meminta maaf. 

Yang dapat menyelesaikan  masalah ini tentunya adalah orang tua, jika anak melihat ada perubahan maka dengan sendirinya anak berubah.   Oleh sebab itu, cara sederhana  untuk menghadapi anak yg memberontak adalah orang tua harus dengan rendah hati mengevaluasi diri. Sadar atau tidak seringkali pemberontakan anak  karena akibat langsung dari masalah yang tersimpan dalam pernikahan kita atau kegagalan kita membendung masalahnya pada tahap yang dini, sehingga menjadi masalah yg berkepanjangan dan anak harus menerima akibatnya.   Hal berikutnya adalah mengasihikasih harus menjadi dasar  untuk menyatakan penerimaan kepada anak.  Meskipun marah tetapi kita sebagai orang tua harus bisa membedakan perbuatan anak dan diri anak itu sendiri.  Bersikap tegas pada perbuatannya, agar dia berubah dan tidak lagi mengulangnya. Tetapi  pada sisi lain kita harus menjelaskan kepadanya bahwa kita mengasihinya.  Dan berusaha mendampinginya untuk menjadi anak yg berhasil.  

Hal lainnya adalah ketegasan,  untuk menyampaikan batas yang jelas kepada anak. Dalam menghadapi pemberontakan anak, kita harus membedakan pelbagai jenis pemberontakan dan memberi reaksi yang sesuai. Ada kecenderungan marah, kita menyamaratakan semua perilakunya sebagai pemberontakan besar.  Kenyataannya adalah, akan ada pemberontakan yang sesungguhnya tidak bernilai besar. Nah, sedapatnya kita hanya memberi reaksi terhadap pemberontakan besarnya. Sewaktu ia melihat bahwa kita tidak selalu memberi reaksi yang sama terhadap semua tindakannya, ia pun tidak dapat menunjukkan pemberontakan terhadap kita setiap waktu. Jika ini terjadi, akan tercipta momen di mana kita dan dia dapat berinteraksi secara lebih positif sebab tidak semua interaksi menjadi interaksi negatif, dia memberontak dan kita marah. Juga, waktu kita tidak bereaksi terhadap semua pemberontakannya, ia pun akan dapat melihat sikap kita yang dewasa serta niat baik kita untuk berhubungan kembali dengannya. Hal ini berpotensi melunakkan hatinya dan menurunkan suhu kemarahan dan pemberontakannya.

Jangan pernah mengabaikan integritas. Mempertahankan kehidupan yang berintegritas sangatlah penting.  Jika orang tua hidup dalam kemunafikan  hampir dapat dipastikan pemberontakan anak akan makin berkobar.  Oleh karena anak tidak melihat kestabilan didalam pribadi orang tuanya.  Jadi, penting sekali bagi kita untuk memulai keluarga dalam integritas dan stabilitas. Tanpa kedua karakter ini,  maka akan menjadi sulit untuk menjadikan anak penurut. 

Diatas semuanya ini, jangan pernah mengabaikan doa.  Alkitab menyatakan bahwa doa orang benar besar kuasanya.  Orang tua tentunya tidak sempurna, ada banyak kelemahan, oleh sebab itu, doa menjadi kekuatan bagi kita agar anak-anak bertumbuh didalam takut akan Tuhan.  Tuhan tahu kita tidak sempurna didalam mentaati semua perintahnya, tetapi Tuhan menghargai setiap usaha perubahan dan pertobatan kita.  Yesaya 57:15  berkata, "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk."

Jika saudara menemukan ada pemberontakan dari anak saudara maka jangan putus asa karena selalu ada jalan keluar dari Tuhan. 

 

 

 

Sumber : berbagai sumber

Ikuti Kami