Suka Duka Jojon Sebagai Pelawak

Suka Duka Jojon Sebagai Pelawak

Lois Official Writer
4501

Djuhri Masdjan, nama asli Jojon, lahir di Karawang 5 Juni 1947. Dia mulai melawak pada 1972 bersama dengan kelompok Jayakarta Grup. Ciri khasnya adalah kumis ala Charlie Chaplin, celana yang menggantung, rambutnya yang disisir ke arah depan dan kacamata yang berukuran besar. Kehidupan pelawak yang meninggal pada hari ini, Kamis (6/3/2014) pukul 06.04 WIB tentu punya suka duka yang bisa dibagikan. Ini kisahnya.

7 Tahun Baru Terkenal

Meski dibentuk pada 1972, baru pada 1979 kelompok Jayakarta Grup ini sukses dan mulai mendominasi acara hiburan di televisi. Jojon beserta anggota lain yaitu Uuk Hasanudin dan Tjahjono tentu harus berjuang terlebih dahulu.

Pernah Manggung di Klub Malam

Meski membintangi sejumlah film seperti Tiga Dara Mencari Cinta (1980), Okey Boss (1981), Apa Ini Apa Itu (1981), dan Barang Antik (1983) mereka juga rekaman kaset lawakan, bahkan manggung di klub malam. “ Medianya memang terbatas sekali pada masa itu. Kami bahkan pernah manggung di klub malam,” ujar Jojon yang pernah mengeluarkan album lagu pop Sunda berjudul Pamali tersebut.

Pelawak Tanpa Naskah

Jojon tumbuh dalam model lawakan spontan, tanpa naskah. Dalam grup Jayakarta, dia dan Cahyono merancang cerita dan scenario sederhana namun melakonkannya tanpa naskah.

Pernah ‘Dikacangin’ Penonton

Pernah suatu ketika lawakannya sama sekali tidak berhasil memancing reaksi penonton. Padahal menurutnya, semua ‘jurus’ sudah dikeluarkan. Keringat sebesar biji jagung pun tiba-tiba meluncur dari pori-porinya. Jojon mengaku itu merupakan pengalaman yang memalukan.

"Kalau sudah begitu, rasanya mau pulang saja harus cari jalan belakang biar enggak ketemu orang yang menonton saya," katanya dengan mimik serius.

Mengalami Dilema Karena Anak

Dia sering mendapat laporan dari anaknya yang diolok teman-temannya. “Katanya, ‘Bapak elo lucu banget sih,’” ujar Jojon sambil menirukan perkataan teman anaknya. Karena itu, Jojon berusaha tampil sebaik mungkin. Keluarganya bisa memahami semua yang dilakukannya adalah upaya menjalankan seni peran.

Jojon kini telah tiada, namun perannya di dunia seni tentu tidak akan menghilang. Dia pernah membuat orang tertawa lewat kekonyolannya, namun itu membuktikan dedikasinya terhadap lawakan. Berkaryalah di dalam setiap segi bidang yang kita pilih sampai nafas terakhir.

 

Baca juga :

Daripada Tabungan Bersama Untuk Menikah, Lebih Baik Lakukan Ini

Seberapa Besar Wadah yang Anda Punya?

Ulasan Lengkap Spesifikasi Samsung Galaxy S5

Manfaat Flossing Tidak Hanya Untuk Gigi Tapi Juga Sendi

Non Stop, Tiap 20 Menit Ada yang Tewas di Pesawat

Sumber : tempo.co by lois ho/jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami