Kisah Sukses Basuki Tjahaja Purnama di Panggung Politik Indonesia

Kisah Sukses Basuki Tjahaja Purnama di Panggung Politik Indonesia

Budhi Marpaung Official Writer
4802

Basuki Tjahaja Purnama, demikian nama yang diberikan orangtua kepadanya ketika lahir ke dunia, 47 tahun yang lalu. Sosoknya kerap mengundang kontroversi, tetapi tidak sedikit yang bersimpati dengan apa yang ia lakukan.

Lahir dari keluarga yang berada, Ahok terbilang tidak sulit menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Ekonomi yang bercukupan mampu membawanya untuk kuliah di Jakarta, yakni tepatnya di Universitas Trisakti. Adapun jurusan yang ia ambil adalah Teknik Geologi.

Lulus dari kuliah S1-nya, pada tahun 1989 Ahok kembali ke Belitung dan mendirikan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah.

Di tahun 1991, Ahok melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya. Selesai meraih gelar Magister Manajemen, dia kemudian bekerja di PT Simaxindo Primadaya dengan menjabat sebagai staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek.

Beberapa tahun mengabdi di PT Simaxindo, pria keturunan tionghoa tersebut memutuskan berhenti dan mendirikan pabrik pengolahan asir kuarsa pertama di Belitung, yang berlokasi di Dusun Burung Mandi. Berjalan dengan waktu, pabrik yang ia dirikan semakin berkembang. Sejalan itu, kawasan industri dan pelabuhan samudra juga ikut maju. Kini kawasan dimana pabriknya berada dikenal dengan nama Kawasan Industri Air Kelik (KIAK).

Pada tahun 2004, Ahok membuat langkah bisnis yang gemilang. Bagaimana tidak, di tahun tersebut ia berhasil meyakinkan seorang investor Korea untuk membangun Tin Smelter atau peleburan bijih timah di KIAK.

Terjun ke Dunia Politik

Sukses di dunia bisnis, Ahok ikut serta ke dalam kancah perpolitikan. Pada tahun 2004, Ahok bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB), dan ditunjuk sebagai ketua DPC PIB Kabupaten Belitung. Saat Pemilu 2004, dia pun terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung.

Selang satu tahun berperan sebagai wakil rakyat daerah, Ahok menduduki jabatan sebagai Bupati Belitung Timur. Pada Pilkada Belitung Timur 2005, ia sukses mengantongi 37% lebih suara rakyat.

Selama memerintah sebagai Bupati, Ahok membuat sejumlah program-program gebrakan yang pro kepada rakyat, salah satunya seperti pembebasan biaya kesehatan kepada seluruh warga tanpa kecuali.

Namun, pada 22 Desember 2006, Ahok resmi mengundurkan diri dari pemerintahan dan menyerahkan jabatan tersebut kepada wakilnya, Khairul Effendi. Pada tahun 2007, Ahok ikut sebagai peserta Pemilihan Umur Gubernur Bangka Belitung. Sayang, meski mendapat dukungan penuh dari Abdurrahman Wahid, ia kalah dari Eko Maulana Ali.

Meski tidak menjabat di pemerintahan tetapi Ahok tidak berhenti berkarya untuk Nusa dan Bangsa. Di tahun 2008, Ahok meluncurkan sebuah buku berjudul "Mengubah Indonesia".

Pada tahun 2009, Ahok dapat kesempatan tampil di panggung politik nasional. Maju sebagai caleg Golkar dari Babel, suami dari Veronica ini terpilih dan masuk ke Senayan untuk jangka 5 tahun ke depan.

Belum selesai masa jabatannya di DPR, berkat dorongan dan dukungan dari partai Gerindra, Ahok bersedia mengikuti Pilkada DKI Jakarta 2012-2017. Sesuai dengan peraturan berlaku, di tahun 2012 ia pun meletakan jabatannya sebagai wakil rakyat.

Menemani Joko Widodo sebagai calon wakil gubernur, pasangan gado-gado ini pun berhasil memenangkan dua putaran pilkada. Oktober 2012, Jokowi-Ahok resmi dilantik sebagai orang nomor satu dan dua di Ibukota Indonesia.

Walau belum genap dua tahun memimpin DKI Jakarta, kinerja Jokowi-Ahok sudah dipuji oleh banyak kalangan khususnya warga yang dipimpin mereka. Tidak neko-neko, jujur, dan mau turun ke lapangan adalah alasan kuat mengapa mereka diapreasi hingga kini.

 

Baca juga :

Ahok: Saya Sikat Semua Rumah di Bantaran Sungai!

Kopdar Perdana Seru Awal 2014

Andrea Hirata, Kisah Sukses Penulis Buku Laskar Pelangi

9 Cara Tepat Mencegah Penyakit Leptospirosis

Join IMAGO Festival 2014   

Sumber : berbagai sumber / bm

Ikuti Kami