John Peter, Pengusaha yang Sukses Dari Jualan Barang Rongsokan

John Peter, Pengusaha yang Sukses Dari Jualan Barang Rongsokan

Budhi Marpaung Official Writer
22290

Siapa yang menyangka bahwa dari barang-barang bekas seseorang bisa kaya raya ? John Peter adalah pria yang berhasil melihat peluang bisnis dari benda-benda rongsokan itu dan mampu menjadikan dirinya sebagai salah satu pebisnis sukses kelas menengah di Indonesia.

Bila menarik ke masa lalu, tidak ada dalam pikiran John akan menjadi seperti sekarang ini. Bagaimana tidak, sejak kecil dirinya adalah seorang yang dikenal nakal. Judi dan mencuri adalah kesukaannya ketika masih bocah. Gara-gara kelakuan tidak baiknya tersebut, orangtua angkat tangan dan menyerahkan dirinya ke paman yang ada di Cirebon.

Bukannya bertambah baik, ia malah bertambah nakal. Uang milik pamannya pun tanpa ragu ia ambil. Saat ketahuan mencuri, dia akhirnya diusir dari rumah sang paman.

“Saya menyampaikan kepada orang tua bahwa saya sudah diusir dari rumah saudara saya ini, tapi orang tua juga tidak bisa terima karena saya dianggap yang ngga benarnya. Itulah perjalanan yang menurut saya yang sangat menyakitkan," ujar John.

Di tengah ketidakadaan tempat berteduh, ia memutuskan untuk mendatangi rumah Hok Kwe Sin – teman baiknya waktu itu. Tidak hanya satu malam, dua tahun ia tinggal di sana.

Kebaikan dan kemurahan hati keluarga Hok Kwe Sin benar-benar menyentuh hati John Peter kecil. Singkat kisah, ia meninggalkan kelakukan buruknya yang dilakukan sejak kecil.

Belajar, membantu jualan keluarga Hok Kwe Sin adalah kegiatannya saat itu. Seiring dengan prestasi akademik di sekolah menengah pertama yang dicapai, orangtuanya akhirnya mau membiayai sekolahnya di tingkat lanjutan atas.

Di kala SMA, ia tidak lagi hidup dengan keluarga Hok Kwe Sin karena ia menimba ilmu pengetahuan di Bandung. Walau semua urusan administrasi sekolah tidak menjadi masalah lagi - karena ada bantuan dari bapak-ibu, tetapi ia tetap mau bekerja.

Pekerjaan yang ia dapat ketika itu adalah sebagai penambal ban. Seusai jam sekolah hingga larut malam, ia selalu berada di tempat tambal ban. 3 tahun terlewati, ia pun  menjadi pribadi yang semakin mandiri dan bukan itu saja ia bahkan berhasil mempertahankan prestasi belajarnya yakni dengan masuk ke Departemen Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB).  

Saat kuliah, John cukup aktif mengikuti kegiatan gereja, memberi pelayanan kepada gelandangan yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Dari situ ia melihat bahwa ternyata penghasilan para pengambil barang rongsokan ini lebih tinggi daripada upah minimum regional yang ditetapkan pemerintah di zaman tersebut.

Berbekal keyakinan bahwa sampah yang menjijikan merupakan lahan yang sangat menguntungkan, ia terjun ke dalam usaha mengelola sampah. Sebagai bentuk keseriusannya berbisnis, memutuskan untuk cuti kuliah dan bekerja mengepul sampah dari para gelandangan binaannya.

Untuk usaha itu, ia meminjam uang sebanyak Rp 4 juta dari seorang teman. Modal yang dimiliki ia langsung gunakan untuk menyewa tanah di daerah Padasuka, Bandung. Di sana, ia mendirikan empat bilik bagi para pemulung. “Tapi saya lupa karakter mereka,” kata John.

Pada pemulung yang dibinanya ternyata berbuat curang. Barang yang sudah ditimbang, mereka curi dan ditimbang lagi pada kesempatan lain. John pun rugi sampai Rp 2,2 juta.

Dengan sisa modalnya, John pindah ke Cikutra, Bandung. Di sana ia tetap tinggal bersama para pemulung yang dibinanya. “Saya hidup dan makan bersama mereka, sampai mereka sadar bahwa saya pun bekerja keras untuk mendapat untung.”

Pada tahun pertama, John sudah bisa mendapatkan omzet hingga Rp 18 juta per bulan. Tidak mau bergantung dengan mengumpulkan dan menjual barang rongsokan ke bandar lain, ia mulai menggiling dan menjual sampah ke pabrik. Omzetnya justru berlipat ganda.

2006, John akhirnya mampu membeli mesin pembuat biji plastik. Di dalam kacamata bisnisnya, biji plastik merupakan usaha yang cukup potensial karena harganya bisa ia jual dengan berkali-kali lipat.

Saat ini, pendapatan  John telah mencapai Rp 800 juta hingga Rp 1,2 miliar per bulan dengan keuntungan bersih 10 persen.

Dari laba yang dimiliki, John membuka berbagai usaha lain seperti apotik, pabrik pupuk organik, dan menjadi kontraktor perumahan Santosa di Cipamokolan, Bandung.

Walau bisnis berkembang pesat, tetapi pria berdarah Karo ini tidak menganggap harta dunia adalah yang berharga, melainkan kekekalan yang hanya bisa ia dapatkan di dalam Yesus Kristus.


Baca juga :

Kisah Nyata Masa Kelam John Peter, Pengusaha 1,2 Miliar

Melayani Tuhan Dari Berbagai Penjuru Dunia

Glorious Ruins, Album Hillsong yang Tetap Berkualitas

Saat Aku Menundukkan Kepala

Robert Gilmour LeTourneau, Pengusaha yang Cinta Tuhan

4 Cara Alami Mengatasi Rambut Rontok

Thread Forum JC : Pria Lebih Suka Wanita Yang Bagaimana Sih?

Sumber : jawaban.com, sosok.wordpress.com / bm
Halaman :
1

Ikuti Kami