Kisah Nyata Mukti Si Germo Cilik

Kisah Nyata Mukti Si Germo Cilik

Puji Astuti Official Writer
30029

"Nama saya Mukti Waluyo, asal saya dari Blitar. Saya lahir dari keluarga yang demokratis, orang tua saya terlalu membebaskan anak-anaknya. Jadi apapun yang dilakukan oleh anak-anaknya, orang tua saya tidak terlalu peduli." kata Mukti mengawali kesaksiannya.

Semenjak kecil Mukti merasa ibunya membeda-bedakan dirinya dengan kakak perempuannya.

"Orangtua saya khususnya mama memang lebih berharap kepada kakak saya dibanding saya. Mungkin mama saya berpikir, anak ini sudah bodoh tidak mungkin ada harapan. Dari kejadian itu saya merasa menjadi anak yang dinomor duakan, dalam hati kecil saya tidak terima." ungkap Mukti mengenang masa kecilnya.

Karena sikap ibunya itu, Mukti menjadi anak yang minder bahkan pemberontak, ia menghabiskan hari-harinya dengan merokok, mabuk dan judi. Mukti sudah mengubur harapan-harapannya untuk bisa bersekolah hingga tinggi dan bisa membanggakan orangtuanya. Hingga suatu hari tanpa sengaja seorang teman meminta jasanya menjadi perantara untuk mendapat wanita penghibur, hal itu menjadi awal karirnya sebagai seorang germo.

"Saya dulu kalau mencari orang baru, biasanya mencari di sekolah-sekolah melalui informasi dari teman-teman saya. Kalau ada orang yang berhasil, saya senang sekali. Lama-kelamaan cari wanita itu juga tidak susah."

Usianya yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA  membuatnya mendapatkan julukan-julukan yang tidak patut seperti “Germo Cilik” atau “Mukti Cabul”. Awalnya ia merasa malu, namun lama-lama ia terbiasa dan tidak mempedulikan lagi apa kata orang.

Mukti makin tenggelam  dengan bisnis prostitusi yang dijalaninya. Sudah banyak wanita yang berhasil direkrutnya menjadi pelacur, bahkan jika salah satu anak buahnya hamil, tanpa rasa bersalah Mukti menunjukan tempat untuk mengaborsi bayi tersebut.

"Saya hanya nunjukin tempatnya saja."

Profesinya sebagai seorang germo akhirnya diketahui juga oleh kedua orang tuanya. Namun seperti dugaan Mukti sebelumnya, orang tuanya sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukannya.

"Mama saya waktu itu tahu tetapi orang tua saya tidak pernah ambil pusing,” jelas Mukti.

Ketidak pedulian orangtuanya membuatnya semakin tenggelam dalam dunia prostitusi.  Uang dan kemewahan melimpah dalam hidupnya. Tak lupa ia pun mencicipi pelacur-pelacur yang ia pasarkan. Hingga suatu hari, saat ia berkunjung ke rumah seorang temannya ada sesuatu yang menggangu hati nuraninya.

"Ternyata di ruang tamu rumah saudaranya dipakai untuk ibadah, di situ ada nyanyian-nyanyian. Akhirnya nyanyian-nyanyian itu mengugah hati saya, ada perasaan bersalah dalam diri saya. Saya kok seperti ini, saya itu seperti manusia yang tidak ada harganya. Lagu-lagu itu mengugah perasaan saya untuk kembali kepada Tuhan."

Sejak saat itu Mukti ikut ke beberapa ibadah, namun sambil sembunyi-sembunyi. Ia pun membuat komitmen untuk mengubah cara hidupnya.

"Dan mulai saat itu saya mulai ikut-ikutan ibadah juga meskipun boleh dibilang saya itu orang yang munafik. Jadi kalau saya ibadah, saya ada perasaan malu. Kalau ibadah saya ngumpet-ngumpet. Alkitab saya masukan ke kantong baju atau tas supaya tidak dilihat orang. Dan dalam niat diri saya mulai timbul komitmen untuk meninggalkan rokok, judi dan hal itu bisa saya lakukan tetapi untuk satu hal dia tidak bisa melepaskan dunia pelacuran."

Dunia pelacuran dan seks bebas yang telah mengikatnya sekian tahun membuat Mukti sulit untuk melepas kehidupannya sebagai seorang germo. Tapi Tuhan tidak membiarkan Mukti sendirian, seperti seorang Bapa yang baik Tuhan menuntunya keluar dari dunia gelap itu.

"Dan akhirnya apa yang menjadi komimen saya, Tuhan itu mendengar dan saya bisa lulus SMA. Saya ada kepuasan dalam hati saya, ternyata saya bisa punya ijasah, saya bukan orang bodoh. Ijasah itu bisa saya pergunakan untuk mencari pekerjaan yang benar." Ungkap Mukti bahagia.

Bersama berjalannya proses kehidupannya bersama Tuhan, Mukti pun melepaskan pengampunan bagi ibunya. Tidak berhenti disana, Mukti pun mendedikasikan hidupnya untuk melayani Tuhan sepenuh waktu. Semua itu ia lakukan untuk menyatakan rasa syukurnya atas karya Tuhan yang sangat luar biasa dalam hidupnya.

"Kalau menurut saya, kebaikan Tuhan yang terutama itu bukan ketika saya ikut Tuhan, Tuhan memberkati saya, bukan seperti itu. Tetapi kebaikan Tuhan yang terutama, Tuhan sudah menyelamatkan saya. Apapun dosa-dosa masa lalu saya Tuhan sudah melupakan. Dosa saya di masa lalu begitu numpuk dan terlalu besar, tetapi ketika saya dipilih untuk melayani Tuhan, Tuhan tidak melihat itu semuanya. Saat ini ada damai sejahtera dalam diri saya, itu sudah cukup bagi saya." 


Sumber Kesaksian:

Mukti Waluyo

Sumber : V130828145129
Halaman :
1

Ikuti Kami