Cerita Abraham Lincoln Dengan Seorang Pengacara Senior

Cerita Abraham Lincoln Dengan Seorang Pengacara Senior

Budhi Marpaung Official Writer
19235

Sebagai pengacara muda, Abraham Lincoln (1809-1865) sering berkonsultasi dengan para pengacara lain tentang kasus yang sedang dipegangnya.

Suatu hari, Lincoln sedang duduk di ruang tunggu pengadilan untuk menemui seorang pengacara senior. Dinanti dan dinanti, akhirnya orang yang ia hendak temui datang juga. Namun, baru melihat sebentar saja dirinya, tiba-tiba  sang pengacara senior ini berteriak, “Apa yang dia lakukan di sini? Singkirkan dia! Aku tidak akan berurusan dengan seekor monyet kaku!”

Mendengar hal itu, sang pengacara muda ini berlaku seperti orang yang tidak mendengarkan. Walau malu, ia tetap memperlihatkan wajah yang tenang. Ia pun langsung segera masuk ke ruang persidangan dimana sang pengacara senior ini akan melakukan tugasnya.

Singkat kisah, pengacara senior yang menghina Lincoln ternyata bisa membela kliennya dengan sangat brilian. Cara ia menangani kasus sungguh membuat Lincoln terpukau.

“Nalarnya sangat bagus. Argumennya tepat dan sangat lengkap. Begitu tertata serta benar-benar dipersiapkan! Aku akan pulang dan lebih giat belajar hukum lagi,” ucap Lincoln dalam hati.

Waktu berlalu…

Lincoln akhirnya terpilih menjadi presiden Amerika Serikat pada Maret 1861. Di antara kritikus-kritikus utamanya, terdapat Edwin M. Stanton, pengacara senior yang pernah menghina dan melukai hatinya sangat dalam.

Akan tetapi, Lincoln bukannya membalaskan dendam kepada Stanton melainkan justru mengangkatnya di posisi penting sebagai Sekretaris Perang. Abe – demikian panggilan masa kecil Abraham Lincoln - tidak pernah lupa bahwa Stanton adalah pengacara berotak cerdas, yang sangat dibutuhkan negaranya.

Ketika Lincoln meninggal, Stanton berkata, “Dia merupakan mutiara milik peradaban.”

Hanya seseorang yang berkarakter dan mau memaafkan seperti Lincoln, dapat bangkit & berhasil di atas penghinaan! Maka, jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan cara kita bertindak. Pilih untuk tetap berbuat baik dan belajarlah memaafkan. Jadikan “sampah” sebagai “pupuk” atau “bahan bakar” untuk maju—baik di lingkungan keluarga, kerja, atau tempat tinggal kita.

Sumber : iphincow.com / bm
Halaman :
1

Ikuti Kami