Diamlah!

Diamlah!

Yenny Kartika Official Writer
5737

Perkataan ‘Diamlah!’ bukanlah ungkapan yang enak untuk didengar. Anak-anak seringkali menjadi bete saat kita menyuruh mereka diam. Tetapi menurutku, ungkapan ini diperlukan sesekali.

‘Diamlah!’ dilontarkan saat kita punya sejuta perasaan yang berkecamuk di dalam hati namun kita tidak bisa menumpahkan semuanya.

Di [kitab]Mazmu73[/kitab], kita melihat bahwa Asaf sudah mau marah. Hati dan pikirannya dikuasai kebingungan, kemarahan, dan kepahitan terhadap orang-orang di sekitarnya. Tetapi sebenarnya Asaf sedang mengungkapkan kekecewaannya kepada Tuhan.

Syukurlah, dia tidak punya akun Facebook. Kalau dia punya, bisa jadi dia sudah meng-update status berisi kata-kata kasar atau penuh kemarahan. Atau mungkin dia tidak akan melakukannya…

“Seandainya aku berkata: ‘Aku mau berkata-kata seperti itu,’ maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.” (Mazmur 73:15)

Seakan-akan Asaf sedang berkata, “Aku menyuruh mulutku untuk diam. Aku tidak akan mengungkapkan perasaanku. Karena pertempuran dengan kepahitan dan keraguan yang kumiliki akan membahayakan iman orang lain. Aku mengasihi anak-anakmu, jadi aku akan menutup mulutku.”

Pernahkah Anda menyadari bahwa kata-kata cacian atau keluhan di Facebook Anda bisa berbahaya bagi iman seseorang?

Kemungkinan dia akan keheranan, bagaimana mungkin status seperti ini bisa disertai dengan postingan lainnya berupa foto-foto Yesus dan ayat-ayat Alkitab?

Tetapi terlepas dari status Facebook, atau Twitter, melampiaskan emosi Anda melalui kata-kata kasar akan berdampak buruk pada iman orang di sekitar Anda.

Kembali ke Mazmur 73. Di situ sebenarnya Asaf bukan sedang mengajak kita untuk membiarkan begitu saja hal-hal yang tidak kita sukai dan tidak usah membicarakannya. Dia tidak berkata bahwa kita harusnya hidup mudah dan tenang-tenang saja. Kenyataannya, dia sedang berkata bahwa orang fasik lebih banyak daripada orang benar.

Asaf mengakui kepahitan yang ia rasakan.

Tapi tidak ada gunanya pula jika dia melampiaskan semua pikiran dan emosinya—yang isinya memang tidak layak untuk dibicarakan.

Untuk itulah Asaf mengakhiri mazmur ini dengan kata-kata:

“Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.” (Mazmur 73:28)

Tidak ada gunanya jika kita berkoar-koar dengan keluhan dan kemarahan. Sebaliknya, jauh lebih berguna jika kita tidak tinggal diam untuk menceritakan kemuliaan dan kebesaran Allah.

 

Sumber: Pastor Mike Leake, First Baptist Church of Jasper, Indiana, AS

 

BACA JUGA:

Jupe Ikut Rayakan Natal Bersama Gaston?

Nyatakan Iman, Pria ini Pikul Salib ke Seluruh Dunia

Kado Terindah untuk Batam dari Superbook

Penelitian Buktikan Doa Membuat Emosi Lebih Stabil

Tanpa Ayah, Interaksi Sosial Anak Menjadi 'Abnormal'

Keluarga yang Rukun dan Penuh Keterbukaan

Kapolri: Teroris Sedang Merakit Bom Untuk Natal dan Tahun Baru

Anak Sekolah OBI Meriahkan Ultah Jawaban.com

Ketika Salib Hanya Menjadi Ikon Mode

Selamat Ulang Tahun, Yesus!

Penyusup Rumah Kabur Setelah Dikhotbahi Penghuninya

Sumber : Pastor Mike Leake/Jawaban.com/yk

Ikuti Kami