Kisah Subkhan Nur Raufiq, Pengusaha Sukses Suvenir Pernikahan

Kisah Subkhan Nur Raufiq, Pengusaha Sukses Suvenir Pernikahan

Budhi Marpaung Official Writer
11366

Di tengah banyaknya pengusaha yang terjun ke bidang suvernir pernikahan, Subkhan Nur Raufiq (42 Tahun) merupakan salah satu orang yang bukan hanya bisa bertahan dari guncangan krisis ekonomi tetapi mampu menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah.

Berawal dari uang Rp12.500,-, Subkhan memulai usahanya membuat suvenir pernikahan dan gantungan kunci dengan bahan dasar batok kelapa.

"Usai lulus SMA tahun 1992, ketika teman mencari pekerjaan di luar kota, saya hanya jalan-jalan di Malioboro untuk melihat-lihat kerajinan tangan. Setelah itu, muncul ide memanfaatkan batok kelapa untuk menjadi gantungan kunci atau suvenir untuk pernikahan," ujarnya sebagaimana dilansir viva.co.id.

Modal uang yang tidak seberapa itu, lanjut Subkhan, digunakannya untuk membeli alat bubut yang sangat sederhana dan masih manual. Akan tetapi, justru dengan alat-alat yang dibeli pertama kali olehnya ini tercipta suvenir pernikahan dan gantungan kunci dari bahan dasar batok kelapa yang indah.

"Saat itu, pemasarannya masih door to door, sehingga kurang laku di pasaran dan penjualan sangat terbatas," ungkapnya.

Walau tahu bahwa produknya kurang begitu laku saat itu, Subkhan tidak patah arang. Ia justru semakin gencar melakukan promosi produknya ke dua hotel yang ada di Yogyakarta yakni Hotel Garuda dan Ambarukmo.

Hasil positif pun terlihat. Dari promosi di kedua hotel itu, ia mendapatkan order dari pembeli asal Kanada yaitu agar dibuatkan alat musik Marakas dan produk yang sudah jadi tersebut dikirimkan ke negara asal sang pembeli.

"Mereka memberikan contoh alat musik tersebut dan dengan alat yang masih manual itu akhirnya pesanan dapat dipenuhi dan dikirim ke Kanada," ucap Subkhan.

Kesuksesan memenuhi pesanan alat musik Marakas, usahanya semakin berkembang. Menariknya, pada 1998, saat Indonesia mengalami krisis ekonomi, produk kerajinan tangan yang dihasilkannya ternyata dapat meraup keuntungan besar karena pasarnya adalah luar negeri dengan transaksi dolar.

"Ketika dolar harganya Rp15.000, sekali kirim hasil kerajinan tangan sesuai dengan pesanan pembeli, maka miliaran rupaiah dapat diraup. Itu merupakan puncak usaha yang saya geluti," terangnya.

Subkhan mengatakan bahwa sampai sekarang dirinya masih memiliki delapan tenaga kerja yang mengerjakan pesanan dari Eropa, Australia maupun kawasan Timur Tengah. Jumlah ini diakuinya masih kurang karena jika pesanan cukup banyak maka ia dan para pengerjanya keteteran dan akhirnya tidak bisa memenuhi permintaan-permintaan itu.

Diakui Subkhan, usaha yang digelutinya ini memerlukan tenaga terampil dan memiliki sifat telaten, ulet, dan sabar. Kriteria ini justru sangat sulit ditemukan di orang-orang sekitarnya. Oleh sebab itu, sambil usaha berjalan, ia beserta istri masih mencari orang-orang yang bisa diajak bekerja melakukan hal-hal kerajinan tangan dari bahan dasar batok kelapa.


Baca juga :

Inilah Catatan Sukses Timnas Indonesia di SEA Games

Mujizat Kesembuhan Terjadi Dalam Hidupku

Thread Forum JC : Bakti Sosial (Berbagi Kasih Dengan Anak-Anak Tanah Merah - OBI  

Lima Cara Mudah Hilangkan Stres

Bayi Yesus Buatku Tertawa

Sumber : viva.co.id / bm
Halaman :
1

Ikuti Kami